I noted that day. 10 April 2006. Tika, Bebe, and I, were sitting in FISIP's gazebo, counted the best and the worst time during our colleges years. We spent the whole afternoon there.
We talked about our plans. Tika with her plans, Bebe too, and off course I did. I told them that I'd like to join the Foreign Affairs. I had prepared for the last a year, by taking foreign language, but English. They laughed. "No, darling. You don't want to go there.... You said that you want to join to NGM. Remember that?" Yeah, I did really remember, very clearly. Since then, I decided not to join that department. I don't why, just it does not fit me.
At the end of our conversation, we pledged, "Let's see each other in Prague, five years from now" We did not know, where the idea came from. We just said so.... We held hands. Like, we never be separated as best friends. And, we did not know, why must be Prague. For us, who sometimes, told ourselves being Socialist, Prague is such an icon. It's the place where Kafka was born. It's a place where Velvet Revolution occured. It's a place where all cultures and thought are mixture. It's a place of beauty. With the beauty of Bohemia in our mind. The place for its crystal. Everything was on our mind.
Mates, the three of us, everyday are chasing our dreams. Tika, is dwelling in Jakarta with her love live and her work as journalist. Bebe, is struggling with her humans right ideas in United Nations (UN) while preparing her leaving on September to UK. And me, is living with all these dreams. The dreams that would take me to places I wanna to be. Dreams of back to the world where leaves falling, the wind blows with its breezing joy and with all those happy faces. The world which smells of pulp and paper. Oh, I love that world.
Everyday, we count about meeting in Prague, 10 April 2011.
Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Friday, 31 July 2009
Tuesday, 30 December 2008
Tour de Toilet
Penyakit beser saya, yang membawa saya ke petualang di toilet. Hampir semua tempat yang saya kunjungi, saya tinggali kenangan. Bahkan di NW 25, saya masih sempat poep!
Nah,toilet-toilet di Indonesia sangat standar, basah dan kotor! Meskipun juga di mall-mall, dan tentu saja bandara! Cengkareng atau Soekarno-Hatta yang notabene bandara internasional, bau dan kotornya minta ampuuun! Kalau kita mau bandingan, tidak usah jauh-jauh sampai ke Eropa atau Amerika Serikat sekalipun,bandara Suvarnabhumi bersihnya minta ampun. Wastafelnya saja sudah super canggih dengan menggunakan sensor. Tinggal tempatkan tangan kita di bawah kran atau di dekat sensor maka air sudah akan keluar dengan sendirinya. Begitu juga dengan sabun. Kita tidak perlu tekan, pencet atau geser, sudah keluar dengan sendirinya.
Kalau mau yang lebih canggih, ada bandara Incheon di Seoul, South Korea. Kalau dibandingkan Suvarnabhumi, bandara ini jauh lebih keren dan bersih. Toiletnya saja, di bowlnya di letakkan plastik. Kita cukup tekan mesinnya, maka plastik yang ada di atas bowl akan berganti dengan sendirinya. Di toilet itu sudah ada tulisannya. Yeha, biar kita tidak jijik untuk duduk di atas bowl, atau kita takut kena infeksi, virus atau bakteri. Belum lagi, di dalam toilet yang dilengkapi, tidak saja dengan nursery room, tapi semacam fitting room. Tempat kita ngemas wajah dan baju kita. Tempat kita dandan-lah. Tetapi, pihak bandara juga memasang foto dan nomor telpon dari petugas kebersihan yang bertanggung jawab terhadap kebersihan toilet itu. Kalau kita kurang puas dengan kebersihan, kita bisa telpon dan komplain. Wah, kurang canggih apa??? Ini mungkin juga ada kaitannya dengan orang-orang Korea yang super higienis (kayak yang terlihat di film-film drama Korea itu).
Nah, kalau standar toilet di USA, sudah standar seperti itu. Kering, dan menyediakan alas untuk bowl tapi dari paper hasil recycle. Untuk toilet, ada yang pakai sistem flush, ada yang sensor tapi ada juga dengan gabungan flush dan sensor. Wah, yang bingung kalau yang sistem sensor. Coba kalau sensornya gak jalan. Seperti yang waktu saya nunut buang hajat di St. Paul Minneapolis. Wah, sempat panik juga. Sebelumnya saya coba kencing disana oke, sistemnya bisa jalan. Tapi, waktu saya buang air besar, sensornya tidak jalan. Alhasil, saya harus nunggu beberapa saat....sampai sistem benar-benar jalan. Kalau tidak, saya akan menunggu toilet sepi dan seterusnya ngacir... Wah, gaptek deh. Toilet saja pakai sensor!
Yang paling unik itu toilet di pesawat internasional. Toiletnya pakai standar vacuum. jadi bisa lebih hemat air. Sengasaranya, mereka tidak bisa membersihkan kotoran (maap, tahi), dengan bersih. Harus berkali-kali ditekan. Tapi, itupun tidak akan bersih 100 persn. Harus dicoba beberapa cara sampai sisa-sisa kotoran itu benar-benar bersih! Setelah berak di NW 25, saya jadi kapok berak di pesawat! BENAR-BENAR TIDAK MAU!!!!
PS. Menurut teman-teman cewek satu rombongan, mereka mendapatkan kesimpulan rahasi tubuh saya yang relatif kurus dibandingkan dengan mereka, yaitu, karena saya lancar ke belakangnya...dimana saja bisa. Sekedar catatan, dalam perjalanan ke Reagen DC, saya poep 4 kali! Bukan karena saya maniak poep, tapi karena saya tidak pernah merasa tuntas berak....Maaf, postingan ini agak menjijikkan!
Nah,toilet-toilet di Indonesia sangat standar, basah dan kotor! Meskipun juga di mall-mall, dan tentu saja bandara! Cengkareng atau Soekarno-Hatta yang notabene bandara internasional, bau dan kotornya minta ampuuun! Kalau kita mau bandingan, tidak usah jauh-jauh sampai ke Eropa atau Amerika Serikat sekalipun,bandara Suvarnabhumi bersihnya minta ampun. Wastafelnya saja sudah super canggih dengan menggunakan sensor. Tinggal tempatkan tangan kita di bawah kran atau di dekat sensor maka air sudah akan keluar dengan sendirinya. Begitu juga dengan sabun. Kita tidak perlu tekan, pencet atau geser, sudah keluar dengan sendirinya.
Kalau mau yang lebih canggih, ada bandara Incheon di Seoul, South Korea. Kalau dibandingkan Suvarnabhumi, bandara ini jauh lebih keren dan bersih. Toiletnya saja, di bowlnya di letakkan plastik. Kita cukup tekan mesinnya, maka plastik yang ada di atas bowl akan berganti dengan sendirinya. Di toilet itu sudah ada tulisannya. Yeha, biar kita tidak jijik untuk duduk di atas bowl, atau kita takut kena infeksi, virus atau bakteri. Belum lagi, di dalam toilet yang dilengkapi, tidak saja dengan nursery room, tapi semacam fitting room. Tempat kita ngemas wajah dan baju kita. Tempat kita dandan-lah. Tetapi, pihak bandara juga memasang foto dan nomor telpon dari petugas kebersihan yang bertanggung jawab terhadap kebersihan toilet itu. Kalau kita kurang puas dengan kebersihan, kita bisa telpon dan komplain. Wah, kurang canggih apa??? Ini mungkin juga ada kaitannya dengan orang-orang Korea yang super higienis (kayak yang terlihat di film-film drama Korea itu).
Nah, kalau standar toilet di USA, sudah standar seperti itu. Kering, dan menyediakan alas untuk bowl tapi dari paper hasil recycle. Untuk toilet, ada yang pakai sistem flush, ada yang sensor tapi ada juga dengan gabungan flush dan sensor. Wah, yang bingung kalau yang sistem sensor. Coba kalau sensornya gak jalan. Seperti yang waktu saya nunut buang hajat di St. Paul Minneapolis. Wah, sempat panik juga. Sebelumnya saya coba kencing disana oke, sistemnya bisa jalan. Tapi, waktu saya buang air besar, sensornya tidak jalan. Alhasil, saya harus nunggu beberapa saat....sampai sistem benar-benar jalan. Kalau tidak, saya akan menunggu toilet sepi dan seterusnya ngacir... Wah, gaptek deh. Toilet saja pakai sensor!
Yang paling unik itu toilet di pesawat internasional. Toiletnya pakai standar vacuum. jadi bisa lebih hemat air. Sengasaranya, mereka tidak bisa membersihkan kotoran (maap, tahi), dengan bersih. Harus berkali-kali ditekan. Tapi, itupun tidak akan bersih 100 persn. Harus dicoba beberapa cara sampai sisa-sisa kotoran itu benar-benar bersih! Setelah berak di NW 25, saya jadi kapok berak di pesawat! BENAR-BENAR TIDAK MAU!!!!
PS. Menurut teman-teman cewek satu rombongan, mereka mendapatkan kesimpulan rahasi tubuh saya yang relatif kurus dibandingkan dengan mereka, yaitu, karena saya lancar ke belakangnya...dimana saja bisa. Sekedar catatan, dalam perjalanan ke Reagen DC, saya poep 4 kali! Bukan karena saya maniak poep, tapi karena saya tidak pernah merasa tuntas berak....Maaf, postingan ini agak menjijikkan!
Friday, 28 November 2008
Minggu Yang Menyusahkan Banyak Orang
Minggu ini aku benar-benar merepotkan banyak orang. Sampai-sampai Pak Dekan bilang begini "Kamu ini sedang mengerjain dekan, dengan menulis rekomendasi (tulisan tangan)?" Aku hanya menunduk sambil tersenyum simpul, merasa bersalah sekali. Betul juga, aku "mengerjai" seorang dekan, untuk menuliskan rekomendasi beasiswa pada seorang former mahasiswa yang: lulus 11 semester, TOEFL pas-pasan, keinginan tinggi, dll.... Aku ingin tertawa geli, tapi mau bagaimana lagi???? Minggu ini urusan aplikasi itu harus selesai, karena Kamis aku sudah harus ada di Jakarta. Jum'at rencana berangkat. Semoga Bandara Suvarnabhumi sudah dibuka lagi. Kalau tidak, ya aku tidak tahu, apakah penerbangan akan dialihkan, atau dipindah, ataupun ditunda.
Nah, yang mengharukan rekomendasi dari Pak Dosen. Karena Pak Dosen tidak mau menulis tangan, rekomendasi diketik sama si Bapak. Dan, akhirnya aku harus mencari orang untuk membantu menuliskan tangan karena tidak mungkin aku menuliskannya sendiri. Menurutku, rekomendasinya sangat bagus sekali. Sangat personal. Seperti, dia adalah orang yang benar-benar mengenalku. Sangat-sangat mengenalku.Si D yang aku mintai tolong sampai bilang begini "Ini tidak terlalu personal sekali, Mbak? Apa tidak terlalu bias gender? Dia kok menyebutmu sebagai rural-villager?" Aku tertawa saja. "Tidak apa-apa, memang seperti itu"
Jujur, aku banyak dosa dengan dia. Banyak sekali. Sampai kapanpun, aku merasa dosaku tidak pernah akan habis dengan dia. Duh, orang ini adalah orang baik yang pernah aku kenal. Sumpah....orang paling baik yang aku kenal, dengan semua ketidakdewasaanku terhadapnya. Dia adalah orang paling baik. Dia berkata seperti ini, "Aku hanya ingin kamu dapat beasiswa ini, dan kamu sekolah lagi" Yah, dia adalah sepertiku, yang percaya, bahwa pendidikan lebih tinggi adalah sebuah cara bagi sebuah perubahan.
Terima kasih kepada semua orang....
Nah, yang mengharukan rekomendasi dari Pak Dosen. Karena Pak Dosen tidak mau menulis tangan, rekomendasi diketik sama si Bapak. Dan, akhirnya aku harus mencari orang untuk membantu menuliskan tangan karena tidak mungkin aku menuliskannya sendiri. Menurutku, rekomendasinya sangat bagus sekali. Sangat personal. Seperti, dia adalah orang yang benar-benar mengenalku. Sangat-sangat mengenalku.Si D yang aku mintai tolong sampai bilang begini "Ini tidak terlalu personal sekali, Mbak? Apa tidak terlalu bias gender? Dia kok menyebutmu sebagai rural-villager?" Aku tertawa saja. "Tidak apa-apa, memang seperti itu"
Jujur, aku banyak dosa dengan dia. Banyak sekali. Sampai kapanpun, aku merasa dosaku tidak pernah akan habis dengan dia. Duh, orang ini adalah orang baik yang pernah aku kenal. Sumpah....orang paling baik yang aku kenal, dengan semua ketidakdewasaanku terhadapnya. Dia adalah orang paling baik. Dia berkata seperti ini, "Aku hanya ingin kamu dapat beasiswa ini, dan kamu sekolah lagi" Yah, dia adalah sepertiku, yang percaya, bahwa pendidikan lebih tinggi adalah sebuah cara bagi sebuah perubahan.
Terima kasih kepada semua orang....
Subscribe to:
Posts (Atom)
