Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Tuesday, 10 November 2009

Tragedi Moslem Meal

Barangkali, karena katrok dan tidak pernah mengalami long flight ke negara-nya Obama, tanda MML di tiket pulang NWA aku acuhkan. Aku, dan beberapa temanku tidak care saja dengan notice itu. Tragedi datang ketika makan sore kita, dari Detroit (USA) ke Narita (Jepang). Dalam perjalanan pulang ini, aku mendapatkan makanan terlebih dahulu. Heran. Tumben cepat. Biasanya, agak lama baru diberikan.

Yang ada di depan mejaku adalah makanan dibungkus dalam aluminium foil. Di dalamnya, aku buka, berisi dal! Itu, makanan India yang berasal dari kacang hijau, yang dimasak dengan bumbu semacam kari. Terus, ditambah dengan sayuran. Menurutku, seperti bayam yang dimasak sangat nyunyut. Ditambah dengan kentang rebus. What the hell is this? Karena hanya itu yang diberikan, akhirnya, aku makan saja hidangan itu. Tidak lama kemudian, cewek Jepang di sebelah kiriku dan bule botak di sebelah kananku mendapakan makanan. Mereka bisa memilih diantara beberapa menu. Beef, or chicken. Mereka lalu makan beef, chicken dan omlette dengan nikmatnya. Aku harus berjuang keras untuk menghabiskan makanan vegetarianku!

Ketika tiba saat mengudap, yang datang di hadapanku adalah beberapa biji wortel dan anggur. Duuhh....Seperti kelinci, aku makanan kudapan "sehat" itu. Dua orang di sebelahku, mendapatkan burger. Dan, mereka makan dengan nikmatnya. kraus...kraus..kraus...

Ketika makan besar kedua, masih pula kami mendapatkan moslem meal. Aku sudah lupa apa saja menunya. Tetapi, tidak jauh-jauh berbeda dengan yang pertama. Masakan rasa kari.... Dengan kentang, kacang hijau, sayuran nyunyut dan roti. Duh, I lost my appetite. Sementara baru omlette masuk ke dalam hidungku. Benar-benar menggoda selera makanku. Oh, I love omlette.

Makan kudapan tahap dua, juga tidak banyak bedanya. Buah...buah..buah..dan kraus-kraus seperti kelinci dan sapi.

Ketika kami ganti pesawat dari Narita ke Bangkok, orang-orang yang mengalami nasib sama sekitar 15 orang. Kami semua protes. Dan, mulailah kami paham apa yang dimaksud dengan MML (Moeslem Meal). Makanan muslim. Makanan yang halal dan non daging. Itulah yang dipahami oleh perusahaan penerbangan luar negeri. Jadi, posisi kita disamakan dengan para vegan. Anehnya, ketika penerbangan pergi ke USA, kami mendapatkan menu biasa.

Akhirnya, kami menjelaskan kepada mas pramugara yang cuakeppppp kalau makanan orang muslim itu berbeda dengan makanan vegetarian. Orang muslim, itu bisa makan ayam, daging, telur atau ikan. Kita hanya tidak diperkenankan makan babi saja. Dan, kita mohon untuk "dibebaskan" dari makan makanan para vegetarian. Karena jujur, kita tersiksa dan tidak bisa menikmati makan, hahaha.

Akhirnya, selesai sudah tragedi moeslem meal tadi. Kita mendapatkan makanan yang sangat lezat, berupa salmon! Dan, seterusnya, sampai Jakarta... Nikmatnya...

Looking for The First House Hotel

When we arrived at Suvarnabhumi Airport, we did not know where to stay. We were still arguing. Emmy suggested in First House Hotel in Petchburi Road, where her uncle used to stay during his business trip to Bangkok. But, she had no idea where that place is. Only, one key word. Near the Indonesian Embassy. That's all. So we decided to have lunch. We were starving. The argument was still continuing. Due to this argument, it was to us to decide to take vehicle to the downtown. Finally, we decided to stay in First House Hotel.

The bus Number 12 brought us to the city. Left us in Ding Daeng bus halte. We still had no idea how to get to Petchburi Road. We met few people who can speak English, or at least able to show us direction. Fortunately, we me a guy, who would like to take bus to Pratunam. This place is near Petchburi Road. Here we goes.

Down from the bus, we still looked for the "Petchburi Road" We found it. But nobody knew where that HOTEL. So, we decided to get hotel in Pratunam District. Perhaps, this area is like Tanah Abang in Jakarta or Pasar Turi (now PGS) in Surabaya. People are coming here to buy some clothes. Clothes and other textile products are inexpensive. One that drove me to find hotel in this area was The Bayoke Sky Hotel. Emmy told us that the rate of this hotel is affordable. But, when we tried to check in Guest Information, that the rate reached THB 4.000! So it's around Rp. 1,2 million. Wow. We could not afford it. Emmy and I decided to find other hotels and left Bebe in Bayoke Sky Lobby to watch our belongings, hehehe. Bebe complained but we did not listen. :D

We went to several hotels, including Bayoke Boutique (I guess, this hotel that Emmy meant. The cheap one Bayoke...). Finally, we decided to stay in Khuranna Inn. We paid for THB 1.800 for three persons. Actually, they offered us THB 2.000. But Emmy did good job. She bargained!. The room was spacious, with 24 inch flat TV, and shower of cold and hot water. And yes, one more thing, two doors refigerator! This hotel was just renovated. We could smelled the paints.

We love our room. But, we were still curiuos with First House Hotel. Emmy search through the internet, and we found it. THB 1.500 per night for two persons. Emmy booked through her VISA. And, the next day, we looked for this place.

There is another hotel named First Hotel in Petchburi Road. Just crossed the road of KBRI (Indonesian Embassy). We thought, that here's the hotel! We were in, and asked a girl in Information Desk. We told her that we had booked the room, for THB 1.500 per night. She told us, it is impossible to release via website about the room rate. The actual rate was THB 4.000, just the same as Bayoke Sky Hotel. So, it's other hotel, she told me.

We kept looking that First House Hotel. Because we have booked it, and Emmy has paid with her VISA. Finally, we found this hotel, is such small road, or in Indonesia we call it "Gang". Yeah, Soi in Thai means Gang in Indonesia. The hotel was actually small and cute. But, it was an old one. We went to the room. We found that the rug is a little bit smelly due to lack of ventilation.

Emmy asked "are you guys, sure want to move to this hotel? The THB 1.500 is for two persons? But, in our hotel -Khuranna Inn-, THB 1.800 is for 3 persons, plus breakfast" We were discouraged. And, we decided to stay in our Khuranna and lost those THB 5.00 for internet booking. Hahahaha. But, at least we found it. That First House Hotel.

Tuesday, 15 September 2009

Berbuka di Festival Kabuenga


Aku beruntung sekali, waktu ke Wakatobi pertama kali bertepatan dengan Festival Kabuenga. Yaitu, festival tahunan yang biasanya diselenggarakan di Wakatobi. Festival tahun ini digelar sebagai rangkaian dari Indonesia Sail 2009. Jadi, para peserta Indonesia Sail setelah dari Manado dengan Bunaken Sail, langsung menuju Wakatobi. Tokh, Wakatobi dan Manado sama-sama daerah yang merupakan bagian dari the world coral triangle alias pusat segitiga karang dunia. Di dunia ini, ada 6 negara yang termasuk jajaran itu. Yaitu Thailand, Malaysia, Philiphina, Indonesia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Di Indonesia, tempat itu berjajar dari Bunaken-Manado, Wakatobi, Bali, dan Lombok. Wakatobi mengklaim dirinya berada di jantungnya coral triangle di dunia.

Festival Kabuenga dulunya adalah upacara adat yang dilakukan oleh orang di Wakatobi untuk mencari jodoh. Para lelaki yang menjadi pelaut, dan para perempuan yang ada di rumah saja. Dalam moment ini, lelaki dan perempuan dipertemukan.

Ada beberapa macam prosesi Kabuenga. Misalnya saja, ada ayunan, para perempuan berjualan makanan, tari-tarian yang melambangkan pernikahan dan tradisi pingitan, dan sebagainya. Dari ajang para gadis berjualan ini, lelaki akan datang membeli dagangannya, dan berharap akan terjadi hubungan yang lebih serius.

Nah, dalam Festival Kabuenga 2009 ini, para gadis memang duduk di lapangan Merdeka dengan makanan-makanan tradisional di depan mereka. Berbagai hidangan tradisional ada di hadapan mereka. Seperti masakan dari ikan, kasuami dan kasuami pepe, nasi bambu, lepat, dan sebagainya. Tapi, sepertinya ini tidak dijual. Baru kemudian saya tahu, kalau masakan-masakan ini dimakan pada saat buka puasa bersama.

Bupati Wakatobi, Hugua dan istrinya Ratna Dewi, sebagai simbol pernikahan, diayun oleh dua orang gadis cantik.

Ketika Maghrib dikumandangkan dengan bunyi sirene, buka puasa boleh dilakukan. Orang-orang yang melihat festival ini, diperkenankan untuk mengambil makanan-makanan dari talam itu. Gratis. Kemudian, orang-orang ramai minum ronso (es degan dengan jahe), dan mengambil makanan besar untuk berbuka.

Enaknya, berbuka di Festival Kabuenga. What a precious experience!

Tuesday, 1 September 2009

Wakatobi!


Wakatobi merupakan singkatan dari nama empat pulau besar di wilayah yang dulunya menjadi bagian dari kesultanan (sebelum merdeka) dan Kabupaten Buton ini. Keempat pulau besar itu adalah Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Bersusun dari dalam sampai keluar. Binongko adalah wilayah terluar.

Wilayah ini mekar pada tahun 2004. Hugua adalah bupati pertama di wilayah kepulauan ini. Sebab, kabupaten ini memiliki 142 pulau, dan hanya 7 yang berpenghuni. Kalau dilihat dari persentasenya, 97 persen berupa lautan dan wilayah daratnya hanya 3 persen.

Tempat ini merupakan salah satu pusat segitiga karang dunia. Wilayah ini terbentang dari Philiphina, Malaysia, Indonesia (Bunaken, Wakatobi, Bali, Lombok), Timor Leste, Papua Nugini sampai dengan Kepulauan Solomon. Dari hasil Operational Wallacea (Opwal), dari 850 jenis karang di dunia, 750 jenis ada di kabupaten ini. Tidak mengherankan, sebab lautan disini merupakan pertemuan dari Laut Banda dan Laut Flores.

Untuk mencapai wilayah ini, sekarang ada dua macam alternatif. Lewat laut atauoun lewat udara. Kalau mau lewat laut bisa dari Kota Bau-Bau di Kepulauan Buton dan naik kapal cepat selama 4 jam (kalau ombak sedang bagus) atau naik kapal kayu selama 12 jam (kalau ombak sedang bagus juga). Atau bisa naik Susi Air dari Kendari. Telah ada satu bandara kecil bernama Matahora. Pembangunan memang masih dilaksanakan disana dan disini. Ijin operasional bandara ini juga belum ada. Sehingga pesawat komersil belum bisa mendaratkan di kabupaten ini. Jadi, statusnya hanya charter. Pemda dalam satu tahunnya men-charter dari Susi Ari senilai Rp. 1,2 milyar. Jadi, di dalam tiket yang ada tulisannya Pemerintah Daerah Wakatobi. Kalaupun nanti ada pesawat komersil, yang bisa mendarat pesawat-pesawat yang berpenumpang 30 orang milik Express Air.

Kemarin, ketika sempat ketemu dengan bupati Hugua di bandara. Dia mengatakan, kalau September ini ijin operasional sudah turun.

Pergi ke Wakatobi tidak lengkap kalau tidak diving atau snorkeling. Sayangnya, aku tidak bisa diving, hehehe. Renang saja tidak bisa, hehe. Kalau mau diving, sebenarnya di empat pulau itu ada semua spot-spotnya. Tapi, yang terkenal itu di Hoga Island (dekat Kaledupa) yang dikelola oleh Opwal. Atau ada di Tomia. Konon, di Tomia kita bisa melihat penyu bertelur. Kalau di Wakatobi, yang namanya air laut itu bisa hijau dan biru. Pasirnya juga putih sekali. Yang ada di foto itu Hugua Beach (well...) yang ada di desa Waetuna. Di dekat pantai ini, ada dua kelompok karang. Kalau sedang surut, kita bisa berjalan di atas lamun (semacam rumput laut) untuk pergi ke karang ini.

Ada pantai yang antik dan bisa disebut sebagai kolam renang. Yaitu pantai yang ada di Dusun Sousu, Desa Matahora, Wangi-Wangi Selatan. Setelah pantai ada air lautnya. Tetapi, sekitar duapuluh meter setelah garis pantai, ada satu garis putih, yang ternyata itu adalah pasir putih. Jadi, di dalam laut masih ada pasir putihnya lagi.

Makanya, next project, aku harus belajar diving nih. Karena di tahun-tahun mendatang, aku akan suka sekali kalau pergi ke Wakatobi.

Meskipun dalam hal infrastruktur belum bisa dikatakan belum 100 persen sempurna, telah ada berbagai upaya untuk pembenahan. Misalnya saja pembangunan bandara, jalan yang menghungkan bandara dengan pusat kota di Wanci, dan sebagainya. Masalah air bersih (tawar) memang masih menjadi masalah di kabupaten kepulauan. Paling banter, air yang dihasilkan payau. Hanya beberapa tempat yang mampu menghasilkan air tawar.

Naik Apa Ya ke Wakatobi?


Ketika pertama kali mendapatkan tawaran untuk mengerjakan proyek di Wakatobi, saya langsung excited. Berkali-kali aku mendengarkan nama itu, tetapi tidak pernah tahu tempat itu ada dimana. Pokoknya, kalau mendengarkan nama Wakatobi, yang ada dalam benakku hanya nama Nadine Chandawinata, mantan Puteri Indonesia 2005.

Seperti biasanya, kalau bingung dengan satu hal, yang aku lakukan adalah menanyakannya kepada Mbah Google. Ada berbagai macam informasi disana, termasuk betapa indahnya pemandangan bawah laut kawasan ini yang termasuk dalam the world coral triangle.

Lalu, bagaimana kesananya? Nah, ini yang bikin aku sangat bingung. Dari hasil pencarian, kesana hanya bisa ditempuh dengan menggunakan KAPAL LAUT! Seketika aku langsung panas-dingin dan berdebar-debar. Anda pasti tahu kenapa, aku tidak bisa renang! Sementara kesana harus berjam-jam naik kapal laut. Bisa 11 jam dari Bau-Bau, itupun kalau ombak sedang bagus-bagusnya. Tetapi, bulan-bulan begini, adalah bulan bertiupnya angin Timur. Ombak di Laut Banda tidak ada duanya. Bisa 7 meter tingginya. Alamak, aku langsung menggigil. Dan, sudah siap-siap untuk membeli life vest alias jaket pelampung.

Lalu, datanglah berita bagus itu. Dari Pak Rus, PO CD Project Sulawesi Tenggara yang ada di Kendari. Kalau sekarang ke Wakatobi sudah ada alternatif lainnya. Yaitu dengan naik pesawat charter milik Susi Air.Dengan menggunakan Cesna 280 janis Grand Caravan, pesawat charteran milik Susi Pudjiastuti, pengusaha ikan asal Pantai Pangandaran ini. Pesawat ini dikenal dengan nama lain pesawat DC 12 alias pesawat diisi 12. Karena memang berisikan 12 orang penumpang. Para pilotnya mas-mas bule cakep. Ada yang berasal dari Italia.

Menaiki pesawat jenis ini, tidak ada peragaan mengenakan bagaimana mengenakan sabuk pengaman dan alat pelampung. Si Mas hanya bilang dalam bahasa Indonesia sengaunya, "dalam kondisi darurat, alat pelampung ada di bawah tempat duduk Anda"

Dan, kedua mas ini akan menyetir pesawat berbaling-baling ini dengan santainya. Kadang dia mengunyah kacang rebus yang dia masukkan ke dalam botol Aqua. Kadang mereka sambil potret ke kiri dan ke kanan.

Dari Kendari, penerbangan hanya membutuhkan waktu 40 menit. Kita kemudian bisa mendarat di Bandara Matahora, Pulau Wangi-Wangi. Bandara ini masih dalam proses pembangunan.

Monday, 31 August 2009

Kendari!


Sebelum kita ke Wakatobi, harus transit semalam di Kendari karena pesawat Susi Air ke Wakatobi hanya terbang pada jam-jam tertentu. Yaitu pada tiap hari jam 8.30 WITA. Hanya saja, pada hari Selasa dan Kamis, baru terbang pada pukul 16.00 WITA.

Ketika kita mendekati bandara Wolter Monginsidi Kendari, yang nampak hanya perbukitan dengan hutan yang lebat. Menurut Pak Ruslan, contact person di Kendari, bukit itu tidak bernama. Biasanya, orang Kendari kalau memberikan nama pada sebuah tempat, pasti ada peristiwa tertentu. Pemberian nama akan mengingatkan orang pada satu kejadian.

Bandara Monginsidi (seperti gambar atas), tampak baru. Bahkan belum selesai 100 persen. Landasan pesawat juga nampak baru. Bandara ini berada di Kabupaten Konawe Selatan, tetapi merupakan lahan Angkatan Laut. Mirip Juanda pada jaman dulu-lah. Pendapatannya, dibagi antara ketiga belah pihak: pengelola bandara, AL dan pemda Konawe Selatan.

Kota Kendari merupakan ibukota Sulawesi Tenggara. Namun, tidak mirip dengan ibukota propinsi. Berbeda jauh dengan Makassar yang merupakan ibukota Sulawesi Selatan. Suasana Kendari seperti kota kecil di Jawa Timur. Seperti Tulungagung.

Untuk menuju tengah kota saja, butuh waktu 30 menit dengan naik taksi. Jalan berkelok-kelok. Kiri kanan jalan masih banyak lahan kosong. Sepi sekali. Taksi sebenarnya juga tidak melaju dengan cepat. Santai saja. Tujuan kita Hotel Imperial, di Jalan Ahmad Yani.

Di Kendari ini, agak susah untuk menemukan tempat makanan yang "maknyus" Beda jauh dengan Makassar yang kaya dengan makanan yang enak-enak. Kita tinggal pilih saja. Mau ikan bakar, mau mie titi, ingin sarrabba, ingin songkolo, ingin ngopi di Phoenam, ingin cotto, ingin sop konro, ingin sop bersaudara, atau jenis makanan yang lainnya. Semuanya tersedia. Anda tinggal pilih. Kalau Anda tidak memiliki pantangan makanan, bisa saja mencoba semuanya.

Jujur, di Kendari belum ketemu tempat makan dengan masakan mak nyus. Yang agak lumayan adalah RM Aroma yang terletak di samping Hotel Plaza Inn. Rumah makan ini menyediakan masakan khas Suku Tolaki, suku asli Kendari. Lumayan juga. Ada ayam yang dimasak asam dengan kendondong (duh, lupa namanya) dan ada juga ikan palumara (tidak beda jauh dengan asam-asam bandeng di Jawa Timur). Disediakan juga sononggi (berupa bubur sagu). Orang Tolaki, biasanya makan bubur sagu dengan kuah ikan, dan juga sayur bayam.

Terkait dengan places of interest, agak bingung juga. Sepertinya, baru menemukan Kendari Beach. Itupun kalau malam gelap minta ampun. Tidak ada apa-apa. Orang disana juga tidak seramai di Pantai Losari, Makassar. Rumah makan terapung di pinggir pantai juga bukan pilihan yang baik untuk makan. Bersama dengan seorang teman pernah mencoba pesen minuman disana. Saya pesan juice jeruk, dan ternyata oh ternyata saya dikasih air nutrisari. Sedangkan teman saya memesan kopi. Sayangnya, kopi tidak disajikan dalam cangkir atau minimal gelas biasa. Akan tetapi disajikan dalam gelas sirup berkaki! Baru setelah kami menikmati minum yang "menyedihkan" itu, kami justru mendapatkan kalau di sepanjang pantai banyak terdapat makanan kaki lima yang umumnya menyediakan makanan dari Makassar. Seperti pisang epek, dan sarabba. Tidak ketinggalan ikan bakar! Sayangnya, perut kami sudah penuh dengan makanan yang kami beli di RM Sulawesi. Rumah makan ini, juga bukan pilihan yang baik. Sudah begitu, harganya mahal!

Kalau Anda ke Kendari, jangan harap akan menemukan mall. Kalau di Makassar masih agak lumayan. Ada Mall Panakukang, dan Mall Ratu Indah (MARI). Sedangkan di Kendari, hanya ada Mandonga Mall. Mall ini hanya dua lantai. Lantai bawah untuk jualan VCD dan kaset. Sedangkan lantai dua, hanya untuk berjualan baju. Dibuat mirip-mirip kios. Kalau dilihat, lebih cocok disebut pasar, hehehe.


Monday, 24 August 2009

Traveling Memang Selalu Indah

Jalan sendiri atau diuruskan, liburan memang selalu indah. Karena, kemarin Minggu, dan aku malas keluar. Menjelang buka puasa, aku iseng-iseng buka-buka buku jaman dulu. Uppsss... coba tebak apa yang aku temukan? Oh, itinerary waktu traveling ke Thailand. Ya jadwal-jadwal kereta, bus, nomor telepon hostel, jalur bus, etc...etc. Tidak ketinggalan juga, tiket Air Asia! Oh, jadi teringat masa-masa itu.

Hal yang kita ingat adalah, kita bertiga terdampar ke Suvarnabhumi Airport seperti terlempar ke masa yang lain. Dari sumpeknya Soekarno-Hatta sampai ke modern Suvarnabhumi ini. *Kemudian baru tahu, kalau teryata, ada bandara yang lebih keren lagi, Incheon di Seoul, Korea Selatan*

Kembali ke masalah itinerary itu, aku jadi teringat Bebe yang menggotong-gotong koper warna merahnya, aku yang terseok-seok dengan tas fitness (I have problem with my back, so I decided to use travel bag instead), dan Emmy dengan tas ransel besarnya dan travel bag-nya. Menaiki jembatan penyeberangan di depan Pratunam Centre. Diantara gajah-gajah. Whuppp...whuppp... Ingin tertawa sendiri rasanya.

Terus juga nemu tiket masuk Grand Palais. Heran kenapa, yang teringat di benakku, justru cowok dan cewek yang dengan tegangnya bertengkar dengan Bahasa China. Whussss... di tengah udara bulan Agustus Thailand yang dahsyat panasnya.

Terus nemu tiket terusan ferry di Chao Praya. Tiket yang membawa kita seharian tidak keluar dari sungai. Kesana kemari ikut rute yang enak. Sampai akhirnya, kita terbawa hampir ke arah luar kota. Untung, di Thelwes kita tersadar. Karena Thelwes sebenarnya juga sudah tidak masuk dalam tourist map. Kalau kita tidak tersadar disana, kemungkinan besar kita akan terbawa ke arah luar kota. Karena ternyata sungai Chao juga menghubungkan Bangkok dengan wilayah-wilayah di sekitarnya.

Ah ya, aku juga nemu beberapa bon makan..... Ah, betapa indahnya masa-masa itu. Liburan memang selalu menyenangkan. Setidak enak-enaknya liburan, masih tidak enak tidak ada waktu untuk liburan.

Am I Too Old Traveling?

Ketika membaca buku Trinity, The Naked Traveler dan bicara mengenai telatnya umur orang Indonesia untuk traveling, terutama traveling ke luar negeri. Benar juga. Miss T tidak salah. Kata Miss T, kita bisa traveling ke luar negeri kalau sudah bekerja selama beberapa tahun dan setelah didahului dengan masa menabung. You are definitely right, Miss T!

Aku, memulai traveling ke luar negeri ketika berumur 26 tahun. Travelingnya juga tidak jauh-jauh amat. Cukup ke negeri di seberang air besar. Singapore sama Malaysia. Itupun setelah direncanakan dengan cukup matang selama 6 bulan, bersama dengan tiga orang teman cewekku. Masa, umur segini belum pernah pergi ke luar negeri.

Tentu saja, itu adalah perjalanan independent. Selama beberapa bulan, Nadia browsing ini dan itu. Booking hotel dan tiket dengan kartu kredit Sophie (ah, hanya Sophie yang punya kartu kredit waktu itu). Saat yang kita pilih liburanmu juga waktu peak season, Tahun Baru!

Selama satu minggu traveling, kami sudah hitung dengan manis dan matematis diatas kertas kemana kami semua akan pergi. Nadia, orang yang sangat terencana membuat jadwal ini sangat enak. Dia bahkan menghitung berapa waktu yang dibutuhkan untuk kesana dan kesini. Misalnya saja, lama penerbangan dari Surabaya ke Batam, terus dari Bandara Hang Nadim ke terminal ferry Batam Centre. Dengan menggunakan perencanaan ini, kita bisa estimasi jam berapa kita akan sampai di negara tetangga. Dari hitungan Matematis, mulai dari flight jam 7 pagi, kita dipastikan sampai di Singapore jam 3 sore. Itu karena ketika kita menyeberang sebelum jam 12, masuk ke imigrasi Singapore belum begitu padat.

Liburan di Singapore-Malaysia yang merupakan liburan kami ke luar negeri, kami catat dengan baik dan buruk. Penuh dengan kenangan deh... Termasuk kenangan tentang masuk angin berjamaah yang menyerang secara bergantian.

Traveling kedua tahun kemarin itu ke Thailand. Bersama Bebe dan Emmy. Traveling ini juga didahului dengan masa-masa menabung, dan booking tiket promo jauh-jauh hari sebelumnya. Jadi, Jakarta-Bangkok PP hanya kena Rp. 760 rebu, dengan pesawat versi gerobak, Air Asia.

Mengingat pengalaman traveling 2006 yang lalu, coba buat deh itu itinerary. Tapi, ternyata teman-temanku tidak ada yang respon. Ya sudahlah. Ehh..ternyata, semuanya berjalan off script atau jalan di luar rencana. Ah, tapi asyik juga. Jalan kesana kemari tanpa tujuan. Hanya kalau butuh pergi ke tempat ini cek di website. Site-site yang awalnya ingin kita kunjungi gagal total berantakan. Kita juga bukan orang yang pagi-pagi jam 6 bangun terus jalan. Tapi, orang-orang pemalas. Jam 10 siang baru mulai jalan. Waaaa....rugi kali, sudah jalan jauh, di luar negeri masih suka molor. Tapi, harap maklum, jam 12 malam kita baru pulang dari jalan. Belum lagi karena faktor USIA. Yang kalau malam baunya Counterpain semua.

Jalan bareng sama teman-teman sepanjang 2009 ini lebih banyak di dalam negeri. Mengingat, krisis moneter internasional. Hah, secara aku diingatkan seorang teman "Jangan pergi dekat-dekat. Kapan kamu akan sampainya pergi jauh??" Ah, benar juga.

Perjalanan terjauh akhir tahun kemarin ke belahan bumi Amerika juga atas kebaikan donor dengan embel-embel short term scholarship. Sayangnya, memang too short. Satu minggu saja. Sampai hari Sabtu malam, Minggu pagi berikutnya sudah harus kembali ke tanah air. Yeah, tapi lumayan. Kapan bisa ke negera Obama lagi, di masa-masa setelah Pemilu dan menjelang Inaugurasi? Tapi, intinya perjalanan yang terakhir ini enak sekali. Tidak terlalu sengsara. Karena semua sudah diurusi. Mulai dari tiket, penginapan, asuransi, bahkan sampai dengan wawancara Visa saja ditungguin, dan bisa dipastikan Visa bakal keluar. Kita hanya butuh datang di tempat yang sudah dijanjikan. Hmmm...

Tuesday, 18 August 2009

Spontaneus Jakarta-3

Pagi-pagi harus meninggalkan rumah Donny. 17 Agustus. Semua orang harus upacara. Donny juga harus upacara karena dia bekerja di bawah Astra Group yang para bos terkenal sangat nasionalis. Karena mbarengin Danur yang upacara jam 7 pagi, kita berangkat dari rumah jam 6 pagi.

Sementara itu, Nisha dan aku akan bertemu di ITC Cempaka Mas. Untuk selanjutnya kita ke rumah dia di Sumurbatu. Nisha baru tinggal di tempat ini selama satu bulan. Dia pindah dari kos lamanya di tempat Mimi di Cikini. Dia tinggal berdampaingan dengan nenek dan budhe-nya. Rumahnya merupakan tempat dengan tiga kamar. Barang-barang masih belum dibereskan. Masih bertebaran di lantai. Oh, sudah lama sekali aku tidak ketemu dengan Nisha. Lebih dari satu tahun. Sepertinya, ketika aku training terakhir untuk BEE Project di Treva itu. Kita ngobrol sampai malam di TIM, tepatnya di warung Mas Min.

Seharian yang dilakukan di Sumurbatu adalah menoton Broken English, craving brownies, minum teh dan bicara hal-hal tidak penting. Nah, Broken English adalah film yang menarik. Dibintangi oleh Posey Parker. Bercerita tentang seorang perempuan bernama Nora. Dalam usianya yang sudah 30 lebih. Nora selalu berhadapan dengan lingkungan kalau orang-orang telah menikah ataupun sudah berpasangan. Sementara dia selalu bertemu dengan orang-orang yang salah. Dia juga terjebak dengan pekerjaan yang sama selama 6 tahun di sebuah hotel. Pekerjaan dia dirasa sangat membosankan.

Sampai pada suatu ketika dia bertemu dengan pria Perancis bernama Julien. Pria ini banyak membukakan banyak hal dalam kehidupan Nora yang memang sangat membosankan. Bahkan, Nora, tidak pernah menikmati hidupnya. Sampai kemudian Julien harus kembali ke Perancis. Nora ditinggalkan lagi oleh satu orang lelaki. Julien mengajak Nora untuk ikut bersamanya ke Perancis. Hanya karena alasan pekerjaan, Nora menolak ajakan Julien. Dia kemudian hanya meninggalkan alamanya kepada Nora.

Perginya Julien membuat hidup Nora semakin kosong. Namun, tiba-tiba dia merasakan kalau hidupnya selama ini ya itu-itu saja... Sampai akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya, dan pergi dengan temannya Audrey ke Perancis.

Nahas bagi dia, dia kehilangan alamat Julien ketika dia di Perancis. Hidupnya tambah tidak tentu. Akan tetapi, ketika Audrey mengajak dia pulang, Nora memutuskan untuk tetap tinggal di Paris meskipun dia tidak tahu, akan melakukan apa di kota ini.

Perginya Audrey, membuat Nora menikmati setiap detik hidupnya. Dia pergi ke galeri. Dia berteman dengan orang baru, minum bersama di cafe atau di bar. Bahkan saling bercerita tentang banyak hal. Dia menemukan begitu banyaknya orang di Paris yang tidak membosankan dan baik hati. Tidak ada yang menipu dan membohonginya. Bahkan, dengan seorang lelaki setengah baya yang dia temui di sebuah bar yang mentraktir dia minum. Sampai tiba waktunya bagi Nora untuk pergi meninggalkan Paris.

Ketika berada di kereta untuk ke bandara, dia bertemu dengan Julien. Mereka sepakat untuk keluar dari kereta dan pergi ke sebuah cafe, for one more drink. dan, Nora tahu kalau dia telah ketinggalan pesawat.

*********

Film ini banyak menghadirkan visual yang gloomy karena memang para tokoh disana juga menjalani kehidupan yang gloomy. Orang-orang berperilaku dengan sangat datar. Tidak ada adegan yang dramatis. Semua seperti sebuah kebetulan saja. Seperti saat Julien dan Nora pada akhirnya bertemu di dalam kereta. Waktu itu, Nora hanya duduk di kursi penumpang. Julien tiba-tiba masuk, dan duduk di tempat yang lain. Nora melihatnya, dan mendatangi Julien. Ketika Nora mendekatinya, Julien hanya santai saja. Dan bertanya, apa yang sedang Nora lakukan di Paris, dan kenapa dia tidak menghubunginya. Film ini jauh dari kesan dramatis Hollywood. Dan, meskipun film ini salah satunya ber setting New York, tapi tidak kelihatan kalau tempat itu ada di New York. Dari keseluruhan adegan shoot di NY, hanya nampak jelas Yellow taxi sekali, dan patung Liberty sekali.

*********
Setelah seharian bermalas-malasan nonton DVD, aku sampai lupa mengabari Arie selama aku di Jakarta. Akhirnya, jam 2 kita cabut ke bandara. Kita membunuh waktu di Solaria Bandara. Eh, ternyata flight ku telat lagi, 50 menit. Disini, kita banyak bicara mengenai piliha hidup dan passion. Dan, Nisha adalah orang yang sangat mengenalku dengan baik. Mengetahui passion ku dengan baik, dan dia setuju tentang langkah ke depan yang akan aku ambil. It's time to go home. I had a very awesome weekend in Jakarta. Everyone was happy. Finally, landed safely in Surabaya after few turbulences.

Spontaneus Jakarta-2

Malam itu, aku menginap di Tika. Kulkas dia baru. Rumah petaknya sekarang sudah mulai penuh dengan barang-barang. Juga sudah ada TV dan DVD player. Aku lihat, kulkasnya penuh dengan bahan-bahan makanan. Ada berbagai macam makanan beku, susu, keju, dan lain-lain. Mirip dengan aku ketika baru saja beli kulkas. Penuh dengan bahan-bahan makanan karena kita takut kelaparan. Aku tertawa saja, mengingat sekarang kulkasku hanya berisi barang-barang yang penting saja.

Pagi hari, kita masak oseng-oseng ikan asin yang memang rasanya sangat asin. Karena ikan ini, semuanya menjadi bau ikan asin. Bau ikan asin tidak mau hilang dari tangan kami. Walaupun sudah kita gosok dengan sabun. Parah.

Jam 10 Donny dan Intan menjemputku. Dan, sempat membuat Jalan Bendi macet beberapa saat. Karena aku belum merapikan semua barang dan tidak sempat memakai sepatu, akhirnya aku berlarian di atas aspalt

We did not have idea where to go. Akhirnya, kita ke Cilandak Town Square (CITO) untuk nonton Merah Putih. Film kolosal perjuangan yang diproduseri oleh Hasyim Djoyohadikusumo. Dibintangi oleh Donny Alamsyah, Lukman Sardi, Darius, Zumi Zola dan anak Hasyim, Saraswati Rahayu. Karena melibatkan orang-orang Hollywood, lumayan untuk lighting, sound, efek visual, dst. Pokoknya tidak norak seperti pada umumnya film Indonesia.

Hari itu, kita menghabiskan waktu dengan makan, creambath dan jalan. Pokoknya, hal-hal yang menyenangkan lainnya. Malamnya, aku menginap di Donny. Rencana awal, akan menginap di tempat baru Nisha di Sumurbatu. Tetapi karena Maghrib masih di Bekasi, dan susah untuk ketemu di daerah tengah, akhirnya aku memutuskan untuk menginap di Donny. Apalagi, kamar sudah disiapkan. Donny sudah agak ngambek waktu aku bilang akan menginap di Sumurbatu.

Spontaneus Jakarta-1

Pergi ke Jakarta saat long weekend sangat menyenangkan. Jakarta sepi. Tidak ada kemacetan. Tidak ada gerombolan orang disana-sini. Benar-benar Jakarta kehilangan sejumlah besar manusia. Oh, pada kemana semua manusia itu? Jadinya, nyaman sekali.

Pergi ke Jakarta kali ini merupakan bagian dari janji yang aku tebar ke teman-teman di disana. Jika, in the middle of 2009, aku akan mengunjungi mereka. Selain, aku juga sudah kangen dengan mereka semua. Aku memang sedang butuh penyegaran.

Pesawat sempat delay 45 menit. Padahal, dari kantor sudah cepat-cepat menuju bandara. Lewat tol. Jam setengah satu sudah sampai bandara.

Jam 5 baru sampai Jakarta. Untung tidak perlu menunggu waktu lama bis jurusan blok M datang. Bis Damri bandara kelihatannya baru mengalami pergantian. Tidak lagi apek seperti biasanya. AC nya juga lumayan dingin. Tapi, tiketnya naik menjadiRp. 20 ribu. Sebelumnya Rp. 15 ribu. Karena jalanan tidak macet, hanya dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai di Blok M. Tika sudah menunggu disana. Ketika pertama kali melihatku, dia bertanya dengan terkejut, "Mana barang bawaanmu?" Dia hanya melihatku membawa tas Adidas yang berisi laptop, dan tas kecil tempat sepatu warna merah yang biasanya aku isi perlengkapan fitness. "Ya ini bawaanku..." Dia geleng-geleng, "Wow, aku terkejut melihatnya.."

Dari blok M kita lansung ke Jatet (JakartaTheatre) seberang Sarinah. Tika ada acara disana, liputan acaranya LG Mobile. Dari blok M, kita cukup naik Trans Jakarta koridor 1. Setibanya disana, acara belum mulai. Awalnya, aku menolak ajakan Tika untuk ikut ke acara dia. Mending aku menunggu Wahyu dan Dicky di Oh La La Cafe di bawah. Tapi Tika insist. "Sudah, kamu ikut saja. Kamu makan saja dengan santai. Aku sudah bilang sama Reynaldi (PR LG), kalau aku akan bawa teman.." Jadinya, aku masuk ke dalam acara itu dengan name tag, MEDIA.

Ketika sampai di ballroom, Tika langsung mempersilahkan aku makan. Untung sekali aku tidak membawa banyak barang. Hanya dua tas kecil saja. Sehingga tidak perlu repot dengan membawa barang-barang. Karena Jakarta bukan lingkungan sosialku, aku tidak perlu berbasa-basi dengan banyak orang. Aku langsung mengambil piring untuk makan. Lalu, mencari tempat di pojok untuk makan. Jujur, aku lapar sekali. Kacang rebus yang aku beli di Blok M tidak cukup kenyang untuk mengganjal perutku.

Ketika aku sedang enak-enak menikmati makan, tiba-tiba seorang lelaki mendekatiku. Dan, bertanya kepadaku seperti layaknya seorang teman lama. Gayanya agak endang-bambang.
"Enak tidak nasi gorengnya?"tanyanya sambil menunjuk-nunjuk piringku. Seakan-akan dia mau mendaratkan sendoknya di piringku.
"Belum aku coba" Karena saat itu, aku baru mulai makan, dan baru mengunyah brokoli. "Bentar aku coba" Lalu aku coba nasi gorengku. "Enak. Lumayan. Saladmu bagaimana?" Dia sedang memakan salad.
"Eduuunnnnn...." jawabnya dengan manja. Aku melongo.
"Edun itu apaan sih?"
"Enak bangetttt...." jawabnya sambil mencolek-colek aku. Tika memandangku dari kejauhan. Dia juga agak mengkerut-kerutkan keningnya. "Eh, kamu dari media ya?"
"Ya, kamu?"
"Aku make up artis..." Aku mengangguk-angguk.
"Kamu belajar dimana?"
"Otodidak. Dulu, aku pernah ikut dalam pembuatan Sinetron Dewi Fortuna. Itu tuh, yang bintangnya Bella Saphira, Putri Patricia sama Didi Riyadi. Aku dulu mau ikut disana, karena aku tergila-gila dengan Didi Riyadi"
"Kalau sekarang?"
"Ah, sudah tidak lagi. Didi Riyadi mah sudah tuwir." jawabnya genit.
"Lalu, idolamu sekarang siapa? Dude?"
"Enggak..enggak mau sama Dude. Dude terlalu cewek" jawab lelaki itu sambil menggerak-gerakkan jari kelingkingnya. Lalu tertawa genit "Kalau aku sih suka Teuku Wisnu..." Aku jadi ingin tertawa yang keras.

Dari kejauhan Tika melihatku dengan heran. Ketika si cowok yang tidak pernah aku tahu namanya itu sedang pergi mengambil makanan lainnya, Tika mendekatiku dan bertanya,
"Siapa dia, Mon?"
"Katanya sih make up artist. Aku tidak tahu siapa namanya. Memang kenapa?"
"Aku pikir, dia teman lamamu...." Lalu, kita terkikik.

Ketika sedang asyik craving cakes, Wahyu menelpon. Dia sudah di Oh La La rupanya. Aku bilang sama Tika kalau aku turun dulu ke bawah. Ketika sampai di meja resepsionis, orang LG memanggilku.
"Mbak-nya mau kemana?"
"Ada telepon mendadak dari kantor. Kenapa Mbak?"
"Sebentar Mbak..." Katanya sambil merogoh-rogoh laci meja dia. Dia mencari-cari uang yang biasanya diberikan kepada media. Eh, ya ampun.
"Tidak usah, Mbak. Terima kasih. Ini saya harus buru-buru ke kantor"
"Kalau boleh tahu, Mbak-nya dari media apa?" Waduh, aku bingung harus jawab apa. Spontan aku jawab Indopost.
Si Mbaknya dengan pedenya bilang "Oh gantinya Mas Cep ya?"
"Ya" jawabku sambil lari dan tanpa pikir panjang.

Sementar aku turun, Wahyu sudah duduk di Oh La La dengan segelas susu dingin. Tidak lama kemudian Dicky sama Tika join. Cerita dan curhat-curhatan tambah seru. Tambah malam, Oh La La menjadi tambah aneh. Semakin banyak pria-pria dandy. Kami menghitung uang kecil kembalian. Jumlahnya mencapai Rp. 10 ribu. Ini terjadi, karena kami berkali-kali pesan makanan, dan berkali-kali mendapatkan uang kembalian kecil.

Kita berempat di cafe itu sampai over midnite. Benar kata Iit, kalau banyak orang ke Jakarta untuk belanja, aku ke Jakarta hanya untuk ketemu teman dan nongkrong di cafe. Semua orang memandang kami, dua orang lelaki dan dua orang perempuan. Suatu pemandangan yang agak janggal di Oh La La.

Jakarta yang panas tambah panas.


Tuesday, 11 August 2009

The Smell of Makassar

This city smells like cigarettes. Inilah kesan yang aku dapatkan ketika aku datang pertama kali dan kembali lagi kesini. Yeah, Makassar baunya mirip asbak. Dimana-mana, orang-orang mengepulkan asap dari dalam mulutnya. Membuat orang-orang di sekitarnya merasa sesak, dan seperti ada kabut di sekitar.

Sejak aku mendarat di Hassanuddin, asap langsung menyambut. Asap ini lahir dari mulut para pejemput, para sopir taksi, para makelar, para tukang ojek, para porter dan juga para penumpang yang sebelumnya telah menahan diri untuk tidak merokok selama di penerbangan.

Ketika saya datang dan makan di warung ikan Paottere di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI), asap memenuhi ruangan. Baik asap yang berasal dari bekas bakaran ikan ataupun dari asap rokok para pengunjung. Karena ruanh ber AC, bisa dibayangkan seperti apa ruangannya. Kurang sekali oksigennya.

Dimana-mana, bau asap rokok. Bahkan di Mall Panakukang yang notabene adalah mall terbesar, tanda larangan merokok tetap dilanggar. Kebakaran tetap saja keluar dari mulut para pengunjung. Di hotel Horison, di ballroom nya sampai ditulis tanda larangan besar untuk merokok, and thanks God, it works. Tapi, begitu keluar dari ballroom, bau rokok kembali menyeruak. Ya di lobby hotel. Ya di selasar hotel. Ya di restoran yang notabene sebagian bebas rokok. Tak ketinggalan juga kamar! Gosh!

Saya akan paham, kalau mereka merokok di warung kopi yang tidak ber AC. Bagaimana bisa orang-orang tetap merokok di dalam ruangan berpendingin. Apa mereka tidak tahu, kalau itu sangat merugikan orang lain? Saya bukan sok sehat, tapi itu bisa membuat orang sangat sesak. Dan, meskipun merokok itu adalah hak, tapi telah melanggar hak orang lain untuk menghirup udara bersih.

Kata teman saya, Henky Widjaja yang dengar keluhan saya bilang " Ya, mereka sebagian besar memang masih primitif"

Friday, 7 August 2009

Indonesia Tanah Airku...

Tanah Airku tidak kulupakan
Kau terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak akan hilang dari kalbu....



Ketika aku turut menyanyikan lagu itu di Forum Kawasan Indonesia (KTI) yang keempat di Makassar, dua hari yang lalu, aku merasakan sangat terharu. Dadaku terasa sesak. Barangkali, kalau aku tidak di forum, pasti air mataku telah menetes. Aku tidak tahu kenapa aku begitu terharu dengan lagu itu.

Aku berada di dalam sebuah forum yang berasal dari delegasi 12 propinsi di KTI. Ada Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, NTT, NTB, Maluku, Maluku Utara, Papau, dan Papua Barat. Mereka, adalah orang-orang yang dengan semua keterbatasannya berusaha keluar dari persoalan hidup yang mereka alami. Mereka melakukan banyak hal untuk komunitas dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka, adalah orang-orang yang berani bermimpi, dan mewujudkan mimpi itu. Coba saja Linggi. Seorang mantan kepala desa di di Uru Batang, yang membuat listrik mikrohidro sehingga desanya bisa merasakan terangnya listrik. Dengan menggunakan turbin, desanya tidak lagi gelap. Anak-anak bisa belajar kala malam, dan para orang tua menjadi lebih produktif.

Atau, ibu guru Minnee Wally dan Elisabeth Hole, yang mengajarkan kurikulum lingkungan hidup, dengan belajar sambil menyelam. Di daerah Teluk Tanah Merah ini, anak-anak diajarkan untuk mengenal laut yang mereka miliki, dan mencintai laut-laut mereka. Atau, seorang lelaki bernama Silverius Oscar Unggul, yang menjadi salah Young Leader 2009 yang ditetapkan oleh World Economic Forum.

Di sekelilingku, selama dua hari, bertebaran dengan bebas energi-energi positif dari orang-orang ini. Orang-orang yang memiliki semangat. Orang-orang ini, adalah mereka yang mampu memberikan inspirasi bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Di forum ini, aku mendapatkan kembali semangatku. Semangat, yang akhir-akhir ini entah hilang kemana. Seperti biasa, aku seperti memiliki siklus, sebuah turning point dalam hidupku. Dan, saat ini adalah yang terparah. Ketika awalnya berada di dalam forum ini, aku malas luar biasa. Karena aku tahu forum ini "sedikit" ada basa-basi. Aku kurang suka dengan forum-forum seperti ini. Hanya karena akan ketemu dengan JICA, aku berangkat ke Makassar Selasa pagi yang lalu.

Tapi, aku mendapatkan banyak hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Aku, kembali terinspirasi untuk melakukan banyak hal. Aku tahu, bahwa aku tidak boleh menyerah apapun yang terjadi. Aku akan terus bertahan dan berjuang. Aku tahu, di depanku, aku masih bisa bermimpi apa saja.

Aku jadi hidup kembali. Dan, aku sangat senang ada forum itu.

Siang Hari di Phoenam

Kemarin siang, setelah meeting dengan Nakajima-san dan Wanna di JICA office di Kantor Gubernur, aku sempatkan diri ke Phoenam. Saat itu, jam menunjukkan 12.30 waktu Indonesia Tengah. Waktunya makan siang. Pagi aku tidak sarapan. Tapi, kalau ke Phoenam sebenarnya hanya ada kopi, roti dan mie goreng. Ah, peduli amat. Kalau perlu, makan roti dua porsi. Aku tidak jadi mampir ke FIPO, karena Haji Basir sedang rapat, entah dimana, dan mungkin juga kantor sepi. Katanya, tropi mau dikirim saja.

Siang itu, ada sekitar 10 orang pengunjung di Phoenam. Ya, tentu saja, para pengunjungnya adalah lelaki semua. Lima orang laki-laki duduk di meja sebelahku. Mereka semua China. Sedang mengobrol dengan serunya. Dua orang lelaki, duduk di meja seberang, sedang bermain catur. Kemudian dua orang lelaki, duduk agak jauh dari mejaku. Di dekatku, duduk dua orang lelaki, satu orang menyanyi "Indonesia Raya" Lalu, masuk seorang lelaki setengah Arab. Dia memaki kopyah. Sedikit berjenggot. Sudah berwarna putih. Lelaki ini, memandangku dengan penuh selidik. Sepertinya, aneh melihat seorang perempuan duduk sendirian di warung kopi di tengah hari bolong. Aku cuek saja. Disana meminum kopi susu dan memakan dua porsi roti. Satu porsi roti panggang kaya, dan satu porsi roti panggang telur rebus. Aku memang sedang lapar.

Kopi di Phoenam memang tetap enak. Aku meminumnya pelan-pelan. Setiap lelaki yang masuk ke dalam Phoenam, selalu melirik ku. Tak jarang yang senyum dikulum.

Hal yang sama aku alami bersama dengan Rina di Jalan Sadaeng. Ketika kita minum sejenis STMJ, tapi ada namanya. Hanya saja aku lupa. Kita disana minum, dan sambil makan pisang goreng dan ketela goreng. Disana, kita sampai jam 12 malam. Semua orang setengah melotot ke kita. Apalagi, kita bercerita dengan seru banyaknya kisah perjalanan yang kita lakukan. Cerita-cerita konyol saat traveling. Juga, tentang mimpi dan rencanaku bersama dengan Lala tahun depan. Upsss..ternyata, Rina kenal juga Lala. Kita lalu sepakat, kalau tahun depan, kita akan traveling bersama, ke benua itu. Dan, berpikir, siapa-siapa saja orang yang ada di benua itu, dan berkenan memberikan kita surat undangan, hehe. Oh, aku tidak menyangka bisa ketemu dan mengobrol sebebas ini dengan adik kelasku ini. Oh, senang sekali, menemukan satu lagi orang yang sejenis. Jam 12 malam, kita sepakat untuk cabut dari tempat ini. Aku ke hotel, Rina ke kos di Jalan Hadji Bau.

Monday, 3 August 2009

Jember Fashion Carnaval


Well, the 8th Jember Fashion Carnaval was held yesterday. I went there with three companions: Any, April and Ery. It's the first time I went there to see it with my bare eyes, mingled with the crowd of thousands of people. Under the hot weather. The sun hit me, but it's fun!

This event holds annually. Each year, the theme is always different. It was initiated by Mr. Dynan Faryz (picture left) in 2002. It's such wonderful idea comes from the man who lives in Jember. Brilliant idea is not always from people who live in Jakarta. 

The name of carnival itself spells in Indonesian, Carnaval. Some people say, that it's a fault adaption. They should have used "carnival". For me, it's interesting to use carnaval than carnival. It's just different. We don't have to use the same word or sentence to describe something. 

JMC's theme 2009 is The World Unity. It tries to combine all the world aspects such as animal, plants, cultural, social, etc. It divided into 8 groups. Each group contained one sub-theme. Such as in Animal Plant, we can see people dressed like animal creatures. Such as scorpion, butterflies, etc. In floral, we can see people became vegetables like carrot, chili, and other forms. Greens, reds, oranges, and many other colors. So colorful. 

According to local newspaper, Mr. Faryz using the idea of world unity as his concern to many crisis in the world; economic, politic, environment, war, hunger, etc, as well as the rapid increasing of technology. 

The paraded for 3,6 km, from alun-alun to Stadium. Streets as the run away. And, 600 volunteers acted like they are a pro- model.  

Tuesday, 21 July 2009

Trip to Jogja

This trip is quite long ago. Yeah.. about 3 months or so during my work trip for Monev. The followers: Nadia, Sofie, Any, and me. No more joined us. Even though Nadia has published this holiday thread to Facebook. Many wanted to join, but, could not make it! Many reasons, since "mbulet" has been our trade mark for long times.

I join the team in Caruban. Since I had spent a week in Ponorogo. It is better to meet them at the middle than back to Surabaya. We had wonderful journey. As usual, Nadia was behind the wheel. During this trip, Any proclaimed that she was on diet. We laughed. Did not believe on her plan to diet. We were really sure, that dieting would be in pain. As we know, culinary is part of every journey, either in or out of town. It was our holiday since one in Singapore and Malaysia last 2006. Actually, Any did not join us. Judith joined us instead. I was really glad. Finally, we could make it! HOLIDAY!

We stopped in Solo for Dhuhur in Dewi's place. Dewi is Nadia's younger sister. She studies Medical in Universitas Sebelas Maret. We were in Solo for about an hour. Then, decided to have lunch in Kartasura. Nadia told us that there is a really nice stall (aka warung) of fried duck in Kartasura, named Pak Slamet. Unfortunately, it was sold out. We took another warung's. But, the taste was really good. The service was also good and the warung was also clean. Any broke her vow! She ate fried duck with jerohan. Sofie and I ate chicken instead.

We spent our first night in Motel Sala 4 in Dagen Street. My girl friends, complained about the hotel. Since I recommended this motel, for sure, they complained me! They said, about XXX hotel, hehehe. I just laughed.
I said, "I guess, you're guys want a cheap holiday. Some kind of backpacking..."
They answered, "No way... We work. We want a better place..." But, we already paid that motel. So, we had to stay. Fortunately, we just booked for one night. As I remembered, I used to stay in this motel when I visited Jogja. It was clean and tidy. But, when we stayed that night, this hotel was untidy, the sheet and the cushion were smelly. Weeeekkk...Like million years not being washed. Fortunately, I brought my jarit.

In our first night, we went for the most complicated dinner we've ever had. We wanted bakmi Jogja. Nadia recommended bakmi Kadin, on the other hand Dewi - who finally joined us - and I recommended bakmi Ketandan. I read about this warung from Umar Kayyam's Mangan Ora Mangan Kumpul (MMOK). Ketandan street is near Malioboro. We looked for this street, we found nothing. After an hour here and there finally, we found this street. We found dark street, with no sign of well-known warung bakmi was there! We stopped and ask someone. He said, that there was not warung bakmi around the street. Nadia and the rest asked me, where did I find the name of the warung. I answered, "Umar Kayyam's book..." They burst into laugh. Oh Gosh, Umar Kayyam lived years ago, Any said.

We, finally, headed to the other warung bakmi. Bakmi Kadin. It is well-known bakmi restaurant in Jogja, Nadia said. It has special way of cooking. By boiling the bakmi in arang, and by using duck's egg. Since it lies near Kadin office, it is then well-known as Bakmi Kadin. The restaurant was very crowded. It was not Saturday evening. But, the next day was holiday. We waited more than an hour until our food was served. The waitress said, that two of their rombongs had been booked for the wedding of Noe, the vocalist of Letto, and also the son of Emha Ainun Najib.

According to our opinion: the bakmi was plain. Not as the promotion, everywhere, in blog, mostly. It was less spicy. We did not eat them up.

The next morning, we ate the delicious Nasi Gudheg Yuk Jum, near Gadjah Mada University. It is well recommended. After that, we're heading to Baron Beach, in Gunung Kidul District. Dewi did not join us. Since she had class at noon.

It was Friday. At first, we had decided to use GPS in my mobile to find that beach. But, the price of GPRS was too high. So, we decided to use other GPS (Gak Pake Suwe) a.k.a our ability to ask direction. Mates, we don't live in Europe or San Francisco, we do not need maps, because asking people direction is better than anything. The villager knows many things, even if it is miles away from him/her.

We found Baron at mid day. The route was very fantastic. Sometimes, we just found houses. Sometimes some plantation or rice field. Sometimes, we found forests.

Baron actually has beautiful cliffs. He also has fish market. But, the beach is average. The beach line is not too long. We decided to have lunch there. We ate seafood: lobster, octopus, and some other fishes. After that, we went to Kukup Beach. It has more beautiful beach than in Baron. The cliff is also magnificent! The coast line is long... and we saw many people were looking for small fishes (ikan hias). Kukup Beach reminded me to Tanah Lot. They have the same structure. The air was fresh, and the sky was really blue. The sand was also white. We played in the sand. Oh, I felt the air of freedom!

Before getting dark, we left Baron. This night, we stayed in awesome hotel: Indraloka Hotel in Cik Di Tiro Street, near UGM. This hotel is actually a house that is designed as motel. It consists only 8 rooms. Four in the downstairs and others in the upstairs. We felt like home. It also has internet access to the room. In upstairs, it has library and also pantry. It is designed like many motels and hostels in abroad, for backpackers. We loved this place very much!.

Tuesday, 14 July 2009

Bali: Liburan Antik

Day 0 - 10 Juli 2009

Benar, sudah tidak konsentrasi di kantor. Rasanya, dari pagi sudah mual perut. Tidak sabar menunggu sore. Di kantor sudah error melulu. Hati dan otak sudah benar-benar panas. Akhirnya tiba bagi kami untuk menumpahkan semuanya. Hanya dengan liburan (kata Any, masak, kita harus liburan tiap tiga bulan?). But life is so stressful lately...

Setengah 4 sore, selesai tidak selesai kerjaan aku tinggal pulang. Aku sudah tidak tahan lagi. Jam 4 sampai di rumah. Untung sudah packing. Tiba di rumah mandi, dan segera berangkat. Aku yang samperin Nadia dan Sofie di Karangmenur, dan terus ke Bali Megah Wisata (BMW) di Jalan Diponegoro.Jam 5 tepat sampai disana. Kita berangkat ke Bali dengan naik bis. Alasannya, penghematan. Awalnya, aku agak ragu dengan naik bis ke Bali. Agak trauma dengan naik Bali Prima ke Banyuwangi, yang nyetirnya ugal-ugalan. Tapi, Nadia berhasil meyakinkan aku kalau naik bis lebih bagus daripada naik kereta. Ya sudah aku serahkan sama Nadia, secara dia sering ke Bali. Baru baliknya naik pesawat.

Jam 5.30 PM kita harus sudah sampai di BMW. Meski bis baru berangkat jam 6 sore. Nah, Any sampai dengan bis mau berangkat belum juga sampai. Ketika kita sudah di BMW dia masih ada di Ahmad Yani menunggu taksi. Akhirnya, si sopir bilang sama dia untuk menunggu saja di Mc D Mayjend Sungkono. Tapi, ternyata dia nekad untuk ke Diponegoro. Op tijd. dia datang tepat waktu. Jam 6 tepat. Bis segera berangkat. Nadia dan Sofie duduk di bangku paling depat. Tepat di belakang sopir. Any dan aku ada di belakang mereka.

Tepat di seberang Sofie dan Nadia, seorang lelaki yang (maaf) tambun, dan menyebar bau tidak enak dari tubuhnya. Anak-anak sudah kasak-kusuk saja, hehehe.

BMW ini hanya berisi 20 tempat duduk. Dan, tempat duduk yang paling belakang kosong dua. Dilengkapi dengan toilet. Sopir yang membawa kita lambat sekali kemudinya. Tapi, menurutku memang lebih baik begitu. Lalu lintas ke arah timur kalau malam padat sekali dengan kendaraan-kendaraan besar.

Ketika mendekati tengah malam, kita makan malam di Pasir Putih. Anak tiga ini belum makan malam. Aku sudah makan malam di bis. Mbontot dari rumah. Untung mbontot, kalau tidak bisa kram perut.

Masakannya ya begitulahhh..... Tapi, dimakan juga. Setelah itu jatuh tertidur. Sektiar jam 3 subuh, kita menyeberang. Sesampainya di Gilimanuk, "pramugari" menawariku kopi. Setelah itu, kembali jatuh tertidur. Ketika jam menunjukkan pukul 5, perut mulai melilit. Minta dikeluarkan. Tapi, aku harus menahannya sampai Bali. Di bis ada larangan download disana. Kalau dalam kondisi mendesak, bisa menghubungi kru bis.

Day 1, 11 Juli 2009

Jam 9 kita sampai di pool BWM, dan menunggu kakaknya Sofie, Mas ND. Di pool BMW ini, aku baru saja tahu kalau filter UV Hoya yang terpasang di kamera sudah pecah. Ceritanya, aku mau ambil itu buat foto-foto. Ternyata sesak sekali. Bisa juga dibuka oleh Any. Dan, baru ketahutan kalau pecah. Sepertinya pecah ketika sedang di Probolinggo. Ketika aku tidak mengurus kameraku, gara-gara masuk angin. Aku tinggalkan begitu saja kamera itu di dalam mobil, sementara aku di rumah Teddy untuk dapat perawatan dari bapaknya.

Kita dijemput 10 menit kemudian dengan Nissan X-trail. Mobil kemudian yang akan kita gunakan untuk kesana-kemari. Setelah itu, langsung menuju ke Puri Ratu di Jimbaran, tepatnya di by pass Ngurah Rai. Vila sedang dibersihkan. Nyonya rumah ada juga. Tidak di Taman Lawangan. Begitu sampai di vila, aku langsung download.

Kita ditempatkan di lantai 2 puri. Desain puri itu khas via di Bali. Dengan ruangan yang sangat terbuka. Terutama kamar mandinya. Kamar mandi memiliki jendela yang sangat lebar dan tinggi. Barangkali, 1,5 meter. Jendela dibangun dengan kaca bening, dan selalu terbuka. Jadi, misalnya ketika kita mandi atau pupi, kita bisa melihat dengan jalan raya atau kebun sebelah. Untungnya, kebun sebelah tidak berpenghuni, dan tidak ditanami. Karena bekas rawa-rawa. Dan, yang ada hanya pohon asam saja. Kalau sama jalan raya masih jauh. Kita saja yang bisa melihat jalan raya, tapi mereka tidak. Kata anak-anak, kamar mandinya "horror"

Habis kita menaruh barang, kita langsung diajak makan. "Di depan Hard Rock Kuta saja..." Wah, kita sudah GR. Mau makan di HR. Usut punya usut, kita ternyata makan nasi bungkus di pantai Kuta, hehehe. Tapi, meskipun nasi bungkus, ramainya minta ampun. Dan, tempe gorengnya enak sekali. Dipadu dengan mangga dan kopi. Hasilnya setelah itu, perutku agak mules sekali... Dan langsung T. Dan, setelah itu, rasanya masuk angin mulai datang. Tapi siang itu kita akan ke Dreamland. Tempat yang dikelola oleh Mas Tommy itu.

Kompleks Dreamland ada di kompleks Pecatu. Ada perumahan. Ada hotel. Ada apertemen, dan ada lapangan golf. Tentu saja, ada cafe Klapa. Yang peresmiannya sempat bikin ribut para seleb Jakarta itu. Demi rebutan Mas Tom, hehehe.

Waktu lihat X-trail kita, dan berplat nomor B, si satpam langsung bilang "Ada DJ live, Mbak di Klapa. Silahkan kesana...." katanya sambil memberi kartu parkir dan brosur Klapa.

Dreamland tempatnya tidak terlalu luas. Pantai kecil saja. Tapi, penuh dengan manusia. Ya turis domestik. Ya turis luar negeri. Orang-orang ada yang asyik berselancar. Ada yang hanya duduk-duduk. Ada juga yang hanya makan-makan. Tapi, Dreamland panas sekali sore itu. Kita akhirnya memutuskan untuk duduk-duduk dan makan di cafe pinggir pantai. Selain itu, kita juga malas turun ke pantai gara-gara swine flu. Pada saat itu aku rasakan perutku juga mulai tidak karuan. Ingin kentut. Tapi tidak bisa. Rasanya seperti dikocok. Wah, masuk angin ini. Bahkan makan setengah sore tidak bsia menolongku. Waktu aku sudah tidak tahan lagi, aku berniat naik ke atas. Yang ternyata adalah lokasi Klapa. Aku hanya ingin cari toilet. Tapi, diusir sama satpam.... Bukan diusir sih, tapi Dilarang untuk Tidak Naik ke Atas. Eh, sama saja dengan diusir, hehehe. Ternyata, yang ampuh hanya X-trail pinjaman itu, hehehe. Lekas saja aku lari, karena aku hanya mencari toilet. Di bawah, toilet hanya ada satu.... Antri lagi. Duuhh...download sih tapi tidak lega. Mas ND sudah telepon lagi. Kita disuruh balik ke kota. Karena dia dan keluarga mau bikin makan malam buat kita. Ya, sudah deh.... akhirnya kita kembali ke vila.

Ternyata makan malam ikan bakar Kedunganan... Sedaaaapppp......

Malamnya, Bali hujan. Malam minggu lagi. Akhirnya, kita menunggu hujan reda di vila. Sambil aku kerokan. Asoiii... Indonesia sekali. Ketika hujan reda, ada ide dari Linda - yang juga tinggal di vila - untuk ke Kuta, melihat kehidupan malam disana. Tapi, karena hujan turun dengan lebat (lagi), we did not see anything. Hanya orang-orang yang pada berteduh. Kuta agak sepi. Bahkan cafe-cafe. Barangkali karena hujan. Atau bule-bule itu sudah pada tipsy di diskotik. Kita pulang, tapi mampir di Mc D. I needed hot tea.

Terus langsung tidur......

Day 2, 12 Juli 2009.

Minggu. Bangun dengan setengah hang over. Ubud adalah tujuan kita hari itu. Sama ke Kintamani. Ingin melihat pemandangan Danau Batur. Setelah itu, mampir di Ubud.

Pagi, kita ingin sarapan nasi campur Bali. Setelah googling tempat makan yang halal, kita dapat dua referensi. Rumah Makan Adi dan KKN. Keduanya di Jalan Danau Buyan. Setelah putar sana-sini, akhirnya ketemu Jalan Danau Buyan. Tapi, tidak ketemu juga rumah makan Adi. Yang ketemu warung KKN. Ya, sudah. Kita sarapan disana. Ternyata, warung makan prasmanan! Jadi, ingat jaman-jaman kuliah dulu. Tapi, masakannya sangat lumayan enak. Sangat mlekoh.

Setelah sarapan, kita langsung cabut ke Kintamani. Kintamani merupakan satu jalur dengan arah Singaraja. Kita lewat Ubud. Sepanjang jalan yang kita lewati, tampak rumah-rumah sekaligus show room para pengrajin. Mulai dari kayu, kaca, batu dan sebagainya. Tampak juga beberapa galeri mewah.

Setelah perjalanan lumayan lama, dan sempat ragu, apa benar ini jalur Kintamani, kita bertemu dengan pemandangan yang sangat indah. Gunung Batur, dan danaunya. Kintamani sebenarnya adalah nama kecamatan. Di sepanjang jalan itu, banyak sekali tanaman jeruk. Begitu pula orang-orang jualan jeruk. Jeruk kintamani lumayan terkenal juga.

Tampak juga di kejauhan sebuah bukit dengan banyak pasirnya. Mengingatkan aku pada foto Tibet si Agustinus. Padang pasir...gunung. Indah sekali. Kita foto-foto saja awalnya di pinggir jalan dengan view danau dan gunung. Tapi, kita tidak puas saja. Waktu kita mutar mobil, mau kembali ke track yang disarankan oleh tukang parkir, tapi kita cari sendiri jalan lainnya ke Dana Batur. Ah, dasar sok tahu, hehehe. Tapi sungguh, di jalan itu ada penunjuk ke Danau Batur dan Pura Mentrik.

Kita ambillah jalan itu. Saudara tahu apa yang kami lewati. Jalan yang sangat sempit, tajam, dan curam. Tapi, kita sudah sulit untuk kembali. Sepanjang jalan kita hanya berpapasan dengan truk-truk pengangkut pasir. Hati kami tinggal separo. Nyali kami sudah habis barangkali.

Kami berdoa, dan percaya pada kemampaun Nadia saja.

Tapi sungguh, sebenarnya, jalan yang curam dan terjal itu indah sekali viewnya.

Begitu kita sampai di bawah, di sana memang ada lokasi truk-truk ambil pasir. Dan, menyebutkan kalau daerah tersebut merupakan kawasan hutan. Setelah kita bertanya, ternyata itu memang jalan menuju danau Batur. Hanya saja, jalannya sedang rusak berat dan tidak bisa dilewati. Satu-satunya cara, kita harus kembali naik, lewat jalan menakutkan yang baru saja kami lewati.

Duuuhhhh...takutttttt... semakin keras kami berdoa....

Akhirnya, dengan selamat kami sampai di atas. Di jalan raya yang benar, dan kemudian mengambil jalan yang benar ke Danau Batur. Jalannya tidak securam sebelumnya. Lebih ramai. Kita tertawa. Tapi, ketakutan kita telah memakan sebagian besar energi kita.

Di Danau Batur, kondisinya sangat tidak nyaman. Gara-gara pedangan acung. Yang jadi sasaran Nadia sama Any. Sempat ribut juga sama Nadia. Any terpaksa beli cincin. Sofie dan aku tidak jadi sasaran karena kita beraksi. Aku dengan kamera, dan Sofie dengan sok cueknya. Kita hanya setengah jam disana. Terus naik lagi ke Kintamani, dan menuju Ubud.

Di desa Tegallalang, kita berhenti. Sejenak menikmati hidangan dari Cafe Teras Padi. Dengan pemandanganan sawah bersusun atau subak. Hidangannya lumayan. Disinilah aku mulai merasakan masuk angin lagi. Dengan hebat. Mungkin karena belum sembuh 100 persen, sudah dipakai jalan, dan kena angin Danau Batur yang sangat keras...

Sebelum pulang, kita makan dulu di Warung Bu Mangku, Ubud. Makan nasi ayam lengkap. Ada ayam yang digoreng, direbus, dan dimasak bumbu merah. Ditambah juga dengan sambal bali yang pedas, teracancam kacang panjang yang diiris-iris, dan dikasih kacang China goreng. Sedap, dan mlekoh. Tapi setelah Any dan aku selesai makan, tercium bau tidak enak. Seperti bau kotoran. Apa itu mungkin bau kotoran babi???? Nadia sama Sofie langsung menaruh sendoknya....

Dari sini, kita menuju Monang Maning, buat mengantar Any ke rumah kakaknya. Berkali kesana, tetap saja lupa jalannya. Tersesat di gang-gang di Bali yang sempit... Duuhh.... Habis itu langsung pulang ke puri. Any di Monang Maning.

Malamnya Any, menghilangkan dompet kakak iparnya.

Day 3, 13 Juli 2009

Ulang tahun bapakku... Pagi-pagi telepon rumah. Eh, tertanya hari Senin. Lupa kalau cuti sehari.

Karena malam tidak makan, bangun tidur langsung terasa lapar. Karena bingung mau makan kemana, kita ke Mc. D (lagi..). How I hate this food. Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin cari-cari makan gambling. Takut babi-lah. Baru kita sarapan, Mas ND sudah telepon. Kita disuruh ke Taman Lawang. Jemput Bos.. Karena Nadia butuh foto barang-barang di Bali Pasadena, kita kesana dulu. Ketika jemput itu, si bos bilang kalau istrinya ultah, dan mau bikin suprise party.

Habis Nadia foto-foto barang, kita bilang mau spa... Dan, kita dikirim spa hari itu Asoiiiii... di Nusa Dua. Katanya, di Intercontinental. Kita sudah sangat GR. Ternyata, kita dikirim spa di salon sebelah Intercontinental. Namanya Happy Salon *padahal malam sebelumnya Nadia browsing nyari tempat spa...*

Kita sempat ragu masuk tempat itu. Sepertinya, tempatnya kurang meyakinkan. Tapi, bos menyakinkan kalau salon itu enak banget pijatannya. Kita masuk ruangan yang untuk massage. Kayak di panti pijat begitu. Satu ruangan dengan tiga dipan. Kita dibaringkan satu persatu. Mulai ditelanjangi. Sumpah kita masih ragu tentang spa ini. Karena merasa kurang representatif. Tapi, ketika mereka mulai memijit, enak sekali pijetannya. Dan, mereka ramah-ramah. Kita ketawa-tawa. Nah, meskipun spa itu sederhana sekali, kita puas sekali. Dapat harga murah lagi, Rp. 70 ribu!

Setelah spa, kita terus disandera sama Bos. Intinya kita baru boleh keluar rumah, habis ultah. Untungnya, ultah tepat waktu. Jam 5 sore. Acara makan-makan saja dan pembacaan puisi dari Mamas.

Sayangnya, Any masuk angin. Dia tidak bisa full sama kita. Setelah keliling Kuta, dia minta antar pulang. selanjutnya kita sudah malas balik lagi kesana. Jadinya, hanya ke KFC. Minum coklat panas.....

Day 4, 14 Juli 2009

Flight jam 7 waktu Bali. Brrrr.... Bali dingin. Tidak mandi... Hanya cuci muka saja. Akhirnya landed di Surabaya dengan selamat jam 7 pagi. Pikiran jadi segar. And ready back to work...








Tuesday, 10 February 2009

Ke Sunda Kelapa Lagi


Oktober 2008 yang lalu, aku ke Sunda Kelapa lagi. Kali ini membantu Happy memoto Intan dan Donny, untuk buat pre-wedding kedua mereka. Sunda Kelapa adalah destination tidak terjadwal, sebagai pengganti kekecewaan kami karena tidak jadi ke Pulau Seribu due to bad weather dan gelombang besar.

Pertama kali ke Sunda Kelapa, Agustus 2007. Waktu itu, ditemani si Ari. Nah, di tempat itu pulalah, dan di saat mengantar aku pula, dia bertemu dengan soulmate dia, Si Roslina.

Keadaan pelabuhan pertama pendaratan Cornelis de Houtman itu, masih saja mempertahankan pelabuhan klasik. Di pelabuhan ini, mangkal puluhan perahu dari kayu. Yang siap mengangkut bahan-bahan makanan ke luar Jawa seperti Lampung, Makassar, Ambon dan sebagainya. Puluhan kuli angkut kapal mengangkut barang di pudak mereka, melewati tangga dari kayu.

Senja masih saja turun dengan indah di pelabuhan ini.

Yang membedakan adalah, kalau tahun sebelumnya tidak ada perahu kecil yang sampai ke belakang-belakang parkiran kapal kayu, sekarang sudah ada. Parkir kapal-kapal kayu inilah yang kadang mem-blok cahaya sunset.

Dengan adanya perahu kecil ini, kita bisa menyusuri belakang perahu, dan kita bisa memotret sunset dengan puasnya. Akhirnya, adegan foto untuk pre-wed juga terjadi di Sunda Kelapa.

Betul, kami sungguh puas dengan lokasi, dan foto-foto yang kami ambil. Bisa menghilangkan kekecewaan kami karena tidak jadi ke Pulau Seribu.

Seadainya jadi, bisa-bisa aku menjadi kaku di kapal. Karena ketika siang kami ke Muara Angke, aku melihat wujud kapal nelayan yang akan mengangkut kita. Perahu nelayan, dari kayu, dan tidak seberapa besar. Pakai mesin biasa, ditingkahi bau amis ikan... Aku tidak membayngkan itu, selama 4 jam bergoyang-goyang di atas perahu. Padahal, ketika kami naik perahu di Ancol saja, rasanya, aku ingin segera turun dan faktanya aku sudah teriak-teriak sama tukang perahunya untuk seger menepi. Karena ombak yang besar....

Yang lucu dari kisah ini adalah: Happy, sudah membeli life vest karena dia trauma sama laut.

Friday, 6 February 2009

Keterkejutan Budaya

Shock Culture atau keterkejutan budaya adalah hal alami yang orang yang baru saja mengalami perpindahan budaya.Bisa dari negara berkembang ke negara maju. Ataupun sebaliknya. Gegar budaya saya alami ketika menginjakkan kaki di negeri sebelah Batam. Saat itu, tiga jam kami mengantri di Custom. Dengan tas ransel 40 literku, dan satu tas kecil. Ratusan orang berjajar dengan tertib hanya untuk sebuah stempel, dan ucapan “Have A Nice Stay…”

Ketika tok petugas ditancapkan di atas paspor kami, senyum kami mengembang. Padahal, masuk angin dan kaki kram rasanya campur-campur. Segera, kami serasa terdampar di planet lain. Sebuah tempat bernama Harbour Front. Sumpah, kami tidak tahu bagaimana membeli tiket MRT. Kami tidak pernah ke negeri ini sebelumnya. Kami (Sophie, Nadia, Judith dan aku), hanya seperti alien yang baru saja mendarat di bumi. Seperti Kabayan yang datang ke Jakarta. Kami benar-benar linglung. Kami mungkin lost in translation kalau meminjam istilah film yang dibintangi oleh Bill Murray dan Scarlett Johansson.

Kami memandangi outlet-outlet mewah di terminal ferry ini. Kita harus kemana? Mengapa, satu jam naik ferry dari negeri seberang sudah menjadi sangat berbeda sekali? Baik bahasa, orang-orang, kebudayaan, dan lainnya. Padahal, hanya sebuah laut yang memisahkan. Negeri ini, terlihat dari seberang. Tak lebih dari sebuah noktah kecil berwarna hitam.

Kami bertemu dengan seorang bapak. Mengaku sebagai pelaut dari Jakarta, dan mengajari kami bagaimana membeli tiket di vending machine, dan menyimpannya karena akan digunakan untuk kita keluar lagi. Kami harus turun di Boogis MRT Stasion. Di Seiyu karena kami akan ke Rochord Road (bukan Orchad Road yang terkenal itu, Kawan).

Sekali lagi Kawan, kami mengalami shock culture ketika mendaratkan kaki di stasiun Boogis. Karena tiba-tiba saja kami terdampar di sebuah mall!!!! Yang dikenal dengan Seiyu Department Store. Pada akhirnya, kami menjadi tahu, kalau di negeri seberang itu, stasiun MRT pada umumnya gabung dengan mall atau pusat perbelanjaan. Karena kawan, di negeri sebelah ini sebenarnya adalah negeri Pasar Besar. Kawan bisa belanja. Tapi, kami hanya bisa berjalan-jalan, demi hebohnya jutaan dollar yang dibakar di Marina Bay. Sambil orang berteriak “Happy New Year 2007!” sambil melempar botol-botol bir, di tengah hiruk pikuk musik punk di Esplenade Park!

Sekali lagi, kami mengalami gegar budaya. Tidak pernah kami lihat kembang api sebesar itu! Hanya kembang api di Perak yang pernah kami lihat. Kecil-kecil dan monoton. Dan, Kawan, ketika kami melintas di depan Swiss Bell Hotel, kami mengalami gegar budaya untuk kesekian kalinya. Kami lihat Dede Yusuf, anggota DPR kala itu (sekarang wagub Jabar), sedang ber-old and new year di tengah terompet dan orang yang menyanyikan Auld Lang Syne.

Haunted Hotels

Kalau pergi ke kota kecil di Indonesia, selain berpetualang dengan kuliner kota setempat, pengalaman lainnya adalah merasakan tidur di hotel-hotel khas kota kecil. Hotel-hotel di kota kecil, biasanya memiliki ciri yang khas: pelayanan yang sangat kekeluargaan, dan fasilitas yang "sederhana" Selain itu, banyak diantaranya yang "berhantu" atau istilah kerennya spooky.

Aku pernah beberapa kali tidur di hotel spooky. Dan, kalau sudah begitu, pasti aku selalu mimpi yang aneh-aneh, ditindihin, dan kejadian-kejadian aneh lainnya. Meskipun, aku sudah menerapkan resep seorang teman. "Perkenalkan dirimu pada penghuni kamar itu. Kedatanganmu paling tidak kan menganggu dunia mereka. Kalau perlu, kamu sholatin deh..."

Resep itu sudah aku terapkan. Hasilnya, sama saja. Tetap saja aku ditindihin.

Misalnya ketika di Banyuwangi. Aku sengaja memilih lokasi hotel yang dekat dengan pantai. Alasanku sangat romantis. Jogging di pantai dulu pagi hari sebelum kerja. Meskipun aku sadar, kalau tempat itu ada di Ketapang, dan kalau ke kota masih dibutuhkan waktu 1 jam. Tidak masalah. Begitu banyak kendaraan umum dari Ketapang ke kota. Beberapa waktu sebelum aku masuk ke hotel, sopir travel yang membawa Bu Sis dan aku minum kopi dulu di depan pelabuhan. Ketika sopir berhenti untuk minum kopi, aku mencoba untuk tidur telentang. Eee...belum lima menit, aku sudah mimpi yang aneh-aneh. Anak-anak kecil masuk ke mobil semua. Bermain-main di dalamnya. Lompat kesana, lompat kesini. Main di kemudi, terus naik ke atap mobil. Mereka pada ingusan semua. Ibunya, bingung menyeka ingus-ingus itu.

Tak lama aku terbangun, dan sopir sudah kembali dari ngopi. Siap mengantar kami ke tujuan.

Begitu check in di hotel, aku tidak mendapatkan kamar seperti yang aku pesan by phone. Kamar penuh, dan terpaksa aku mendapatkan kamar lainnya. Baru sore harinya nanti (aku check in 03.30 pagi), aku bisa tidur di kamar yang aku pesan. Tidak masalah, kataku kepada petugas hotel. Lalu, dia mengantarku ke kamar.

Ketika saya hendak merebahkan tubuh, tiba-tiba lampu mati. Hanya kamar yang aku tempati. Tak lama nyala lagi. Pengalaman terburuk bukan di kamar ini. Tapi di kamar yang sudah aku pesan. Karena aku kecapaken seharian di lapangan, jam 6 sore aku sudah tidur. Kamar yang aku pesan itu memang spooky. Lampunya remang-remang, dan memang sudah ada hawa tidak enak. Tapi, aku cuek saja. Selama tidur, TV aku nyalakan. Tidurku nyenyak sekali. Jam 2 malam aku bangun karena tidurku terlalu awal. Aku sebenarnya sudah bertekad untuk tidak tidur lagi dengan membawa buku Romo Sindhunata. Tapi, ternyata masih mengantuk juga. Akhirnya aku tertidur juga. Nah, di phase yang ini, segera saja bayangan hitam besar menindihku, dan di alam mimpi, aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang menyabit rumput. Setelah melihat ke arahku, lelaki berkulit hitam itu mengacung-acungkan sabit ke arahku. Dan, itulah yang membuatku terbangun dan bersumpah untuk segera check out esok harinya.

Pagi harinya, orang Bappeda tanya ke saya, apakah masih menginap di hotel itu. Aku bilang, sudah check out, Pak.
"Kenapa?" Lalu, aku ceritakan pengalaman 'spiritual' pada malam sebelumnya. Orang itu lalu tertawa, dan bercerita. Kalau di hotel itu dulu ada orang yang bunuh diri, dan ada kuburan di sebelah hotel itu. Dan, ya benar, aku melihat kuburan di samping hotel itu. Hmm...memang.

Pengalaman lainnya ketika ramai-ramai ke Sragen sama Mas Redhi, Pak Arifin dan Maman. Kami memesan kamar yang di paviliun, dan ada parkir sendiri. Kami diberi 4 kamar di belakang. Kamar baru, katanya. Dan, kami datang juga menjelang pagi. Jam 4-an. Empat kamar itu berjajar rapi. Kamarku yang paling ujung timur (depan), kamar Mas Redhi, Pak Arifin, lalu kamar Maman paling ujung di belakang.

Belum lima menit aku tidur, kembali bayangan hitam dan besar menindihku. Lalu, di kamar mandi aku dengan dua anak kecil sedang main air kecipak-kecipak, dan berterian-teriak. Khas anak kecil. Wawww... aku berusaha untuk bangun. Setelah bangun, aku bersumpah, kalau hal ini terjadi sekali lagi, aku akan pindah ke kamar salah satu lelaki itu. Untungnya, kejadian itu tidak terjadi lagi.

Pagi harinya, ketika kami berkumpul, orang-orang juga mengalami hal yang sama, kecuali Maman! Mas Redhi, digoyang kasurnya, dan diusir untuk check out. Dia juga bermimpi kalau di kamarnya ada bayangan hitam melayang-layang. Pak Arifin beda lagi. Dia mimpi, ada ular besar masuk ke kamarnya. Warnanya hijau. Menyeramkan sekali. Kenapa hanya Maman yang tidak ya??? Hehehe.. Aku tidak ada ide.

Kata Yanto, sopir mobil rental kami,kamar-kamar itu memang ada penunggunya. Ibu dan dua orang anaknya. Haaaaaa...tambah serem saja. Untungnya, sore harinya, Wanna, rekan dari Jakarta datang. Dan, aku ada teman sekamar. Karena Wanna juga takut tidur sendiri setelah aku cerita.

Tentunya Mates, masih banyak lagi kejadian-kejadian aneh di hotel-hotel kota kecil. Tapi, note ini tidak akan cukup untuk menampung semuanya.