Showing posts with label Work. Show all posts
Showing posts with label Work. Show all posts

Tuesday, 15 September 2009

Berbuka di Festival Kabuenga


Aku beruntung sekali, waktu ke Wakatobi pertama kali bertepatan dengan Festival Kabuenga. Yaitu, festival tahunan yang biasanya diselenggarakan di Wakatobi. Festival tahun ini digelar sebagai rangkaian dari Indonesia Sail 2009. Jadi, para peserta Indonesia Sail setelah dari Manado dengan Bunaken Sail, langsung menuju Wakatobi. Tokh, Wakatobi dan Manado sama-sama daerah yang merupakan bagian dari the world coral triangle alias pusat segitiga karang dunia. Di dunia ini, ada 6 negara yang termasuk jajaran itu. Yaitu Thailand, Malaysia, Philiphina, Indonesia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Di Indonesia, tempat itu berjajar dari Bunaken-Manado, Wakatobi, Bali, dan Lombok. Wakatobi mengklaim dirinya berada di jantungnya coral triangle di dunia.

Festival Kabuenga dulunya adalah upacara adat yang dilakukan oleh orang di Wakatobi untuk mencari jodoh. Para lelaki yang menjadi pelaut, dan para perempuan yang ada di rumah saja. Dalam moment ini, lelaki dan perempuan dipertemukan.

Ada beberapa macam prosesi Kabuenga. Misalnya saja, ada ayunan, para perempuan berjualan makanan, tari-tarian yang melambangkan pernikahan dan tradisi pingitan, dan sebagainya. Dari ajang para gadis berjualan ini, lelaki akan datang membeli dagangannya, dan berharap akan terjadi hubungan yang lebih serius.

Nah, dalam Festival Kabuenga 2009 ini, para gadis memang duduk di lapangan Merdeka dengan makanan-makanan tradisional di depan mereka. Berbagai hidangan tradisional ada di hadapan mereka. Seperti masakan dari ikan, kasuami dan kasuami pepe, nasi bambu, lepat, dan sebagainya. Tapi, sepertinya ini tidak dijual. Baru kemudian saya tahu, kalau masakan-masakan ini dimakan pada saat buka puasa bersama.

Bupati Wakatobi, Hugua dan istrinya Ratna Dewi, sebagai simbol pernikahan, diayun oleh dua orang gadis cantik.

Ketika Maghrib dikumandangkan dengan bunyi sirene, buka puasa boleh dilakukan. Orang-orang yang melihat festival ini, diperkenankan untuk mengambil makanan-makanan dari talam itu. Gratis. Kemudian, orang-orang ramai minum ronso (es degan dengan jahe), dan mengambil makanan besar untuk berbuka.

Enaknya, berbuka di Festival Kabuenga. What a precious experience!

Tuesday, 1 September 2009

Wakatobi!


Wakatobi merupakan singkatan dari nama empat pulau besar di wilayah yang dulunya menjadi bagian dari kesultanan (sebelum merdeka) dan Kabupaten Buton ini. Keempat pulau besar itu adalah Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Bersusun dari dalam sampai keluar. Binongko adalah wilayah terluar.

Wilayah ini mekar pada tahun 2004. Hugua adalah bupati pertama di wilayah kepulauan ini. Sebab, kabupaten ini memiliki 142 pulau, dan hanya 7 yang berpenghuni. Kalau dilihat dari persentasenya, 97 persen berupa lautan dan wilayah daratnya hanya 3 persen.

Tempat ini merupakan salah satu pusat segitiga karang dunia. Wilayah ini terbentang dari Philiphina, Malaysia, Indonesia (Bunaken, Wakatobi, Bali, Lombok), Timor Leste, Papua Nugini sampai dengan Kepulauan Solomon. Dari hasil Operational Wallacea (Opwal), dari 850 jenis karang di dunia, 750 jenis ada di kabupaten ini. Tidak mengherankan, sebab lautan disini merupakan pertemuan dari Laut Banda dan Laut Flores.

Untuk mencapai wilayah ini, sekarang ada dua macam alternatif. Lewat laut atauoun lewat udara. Kalau mau lewat laut bisa dari Kota Bau-Bau di Kepulauan Buton dan naik kapal cepat selama 4 jam (kalau ombak sedang bagus) atau naik kapal kayu selama 12 jam (kalau ombak sedang bagus juga). Atau bisa naik Susi Air dari Kendari. Telah ada satu bandara kecil bernama Matahora. Pembangunan memang masih dilaksanakan disana dan disini. Ijin operasional bandara ini juga belum ada. Sehingga pesawat komersil belum bisa mendaratkan di kabupaten ini. Jadi, statusnya hanya charter. Pemda dalam satu tahunnya men-charter dari Susi Ari senilai Rp. 1,2 milyar. Jadi, di dalam tiket yang ada tulisannya Pemerintah Daerah Wakatobi. Kalaupun nanti ada pesawat komersil, yang bisa mendarat pesawat-pesawat yang berpenumpang 30 orang milik Express Air.

Kemarin, ketika sempat ketemu dengan bupati Hugua di bandara. Dia mengatakan, kalau September ini ijin operasional sudah turun.

Pergi ke Wakatobi tidak lengkap kalau tidak diving atau snorkeling. Sayangnya, aku tidak bisa diving, hehehe. Renang saja tidak bisa, hehe. Kalau mau diving, sebenarnya di empat pulau itu ada semua spot-spotnya. Tapi, yang terkenal itu di Hoga Island (dekat Kaledupa) yang dikelola oleh Opwal. Atau ada di Tomia. Konon, di Tomia kita bisa melihat penyu bertelur. Kalau di Wakatobi, yang namanya air laut itu bisa hijau dan biru. Pasirnya juga putih sekali. Yang ada di foto itu Hugua Beach (well...) yang ada di desa Waetuna. Di dekat pantai ini, ada dua kelompok karang. Kalau sedang surut, kita bisa berjalan di atas lamun (semacam rumput laut) untuk pergi ke karang ini.

Ada pantai yang antik dan bisa disebut sebagai kolam renang. Yaitu pantai yang ada di Dusun Sousu, Desa Matahora, Wangi-Wangi Selatan. Setelah pantai ada air lautnya. Tetapi, sekitar duapuluh meter setelah garis pantai, ada satu garis putih, yang ternyata itu adalah pasir putih. Jadi, di dalam laut masih ada pasir putihnya lagi.

Makanya, next project, aku harus belajar diving nih. Karena di tahun-tahun mendatang, aku akan suka sekali kalau pergi ke Wakatobi.

Meskipun dalam hal infrastruktur belum bisa dikatakan belum 100 persen sempurna, telah ada berbagai upaya untuk pembenahan. Misalnya saja pembangunan bandara, jalan yang menghungkan bandara dengan pusat kota di Wanci, dan sebagainya. Masalah air bersih (tawar) memang masih menjadi masalah di kabupaten kepulauan. Paling banter, air yang dihasilkan payau. Hanya beberapa tempat yang mampu menghasilkan air tawar.

Naik Apa Ya ke Wakatobi?


Ketika pertama kali mendapatkan tawaran untuk mengerjakan proyek di Wakatobi, saya langsung excited. Berkali-kali aku mendengarkan nama itu, tetapi tidak pernah tahu tempat itu ada dimana. Pokoknya, kalau mendengarkan nama Wakatobi, yang ada dalam benakku hanya nama Nadine Chandawinata, mantan Puteri Indonesia 2005.

Seperti biasanya, kalau bingung dengan satu hal, yang aku lakukan adalah menanyakannya kepada Mbah Google. Ada berbagai macam informasi disana, termasuk betapa indahnya pemandangan bawah laut kawasan ini yang termasuk dalam the world coral triangle.

Lalu, bagaimana kesananya? Nah, ini yang bikin aku sangat bingung. Dari hasil pencarian, kesana hanya bisa ditempuh dengan menggunakan KAPAL LAUT! Seketika aku langsung panas-dingin dan berdebar-debar. Anda pasti tahu kenapa, aku tidak bisa renang! Sementara kesana harus berjam-jam naik kapal laut. Bisa 11 jam dari Bau-Bau, itupun kalau ombak sedang bagus-bagusnya. Tetapi, bulan-bulan begini, adalah bulan bertiupnya angin Timur. Ombak di Laut Banda tidak ada duanya. Bisa 7 meter tingginya. Alamak, aku langsung menggigil. Dan, sudah siap-siap untuk membeli life vest alias jaket pelampung.

Lalu, datanglah berita bagus itu. Dari Pak Rus, PO CD Project Sulawesi Tenggara yang ada di Kendari. Kalau sekarang ke Wakatobi sudah ada alternatif lainnya. Yaitu dengan naik pesawat charter milik Susi Air.Dengan menggunakan Cesna 280 janis Grand Caravan, pesawat charteran milik Susi Pudjiastuti, pengusaha ikan asal Pantai Pangandaran ini. Pesawat ini dikenal dengan nama lain pesawat DC 12 alias pesawat diisi 12. Karena memang berisikan 12 orang penumpang. Para pilotnya mas-mas bule cakep. Ada yang berasal dari Italia.

Menaiki pesawat jenis ini, tidak ada peragaan mengenakan bagaimana mengenakan sabuk pengaman dan alat pelampung. Si Mas hanya bilang dalam bahasa Indonesia sengaunya, "dalam kondisi darurat, alat pelampung ada di bawah tempat duduk Anda"

Dan, kedua mas ini akan menyetir pesawat berbaling-baling ini dengan santainya. Kadang dia mengunyah kacang rebus yang dia masukkan ke dalam botol Aqua. Kadang mereka sambil potret ke kiri dan ke kanan.

Dari Kendari, penerbangan hanya membutuhkan waktu 40 menit. Kita kemudian bisa mendarat di Bandara Matahora, Pulau Wangi-Wangi. Bandara ini masih dalam proses pembangunan.

Monday, 31 August 2009

Kendari!


Sebelum kita ke Wakatobi, harus transit semalam di Kendari karena pesawat Susi Air ke Wakatobi hanya terbang pada jam-jam tertentu. Yaitu pada tiap hari jam 8.30 WITA. Hanya saja, pada hari Selasa dan Kamis, baru terbang pada pukul 16.00 WITA.

Ketika kita mendekati bandara Wolter Monginsidi Kendari, yang nampak hanya perbukitan dengan hutan yang lebat. Menurut Pak Ruslan, contact person di Kendari, bukit itu tidak bernama. Biasanya, orang Kendari kalau memberikan nama pada sebuah tempat, pasti ada peristiwa tertentu. Pemberian nama akan mengingatkan orang pada satu kejadian.

Bandara Monginsidi (seperti gambar atas), tampak baru. Bahkan belum selesai 100 persen. Landasan pesawat juga nampak baru. Bandara ini berada di Kabupaten Konawe Selatan, tetapi merupakan lahan Angkatan Laut. Mirip Juanda pada jaman dulu-lah. Pendapatannya, dibagi antara ketiga belah pihak: pengelola bandara, AL dan pemda Konawe Selatan.

Kota Kendari merupakan ibukota Sulawesi Tenggara. Namun, tidak mirip dengan ibukota propinsi. Berbeda jauh dengan Makassar yang merupakan ibukota Sulawesi Selatan. Suasana Kendari seperti kota kecil di Jawa Timur. Seperti Tulungagung.

Untuk menuju tengah kota saja, butuh waktu 30 menit dengan naik taksi. Jalan berkelok-kelok. Kiri kanan jalan masih banyak lahan kosong. Sepi sekali. Taksi sebenarnya juga tidak melaju dengan cepat. Santai saja. Tujuan kita Hotel Imperial, di Jalan Ahmad Yani.

Di Kendari ini, agak susah untuk menemukan tempat makanan yang "maknyus" Beda jauh dengan Makassar yang kaya dengan makanan yang enak-enak. Kita tinggal pilih saja. Mau ikan bakar, mau mie titi, ingin sarrabba, ingin songkolo, ingin ngopi di Phoenam, ingin cotto, ingin sop konro, ingin sop bersaudara, atau jenis makanan yang lainnya. Semuanya tersedia. Anda tinggal pilih. Kalau Anda tidak memiliki pantangan makanan, bisa saja mencoba semuanya.

Jujur, di Kendari belum ketemu tempat makan dengan masakan mak nyus. Yang agak lumayan adalah RM Aroma yang terletak di samping Hotel Plaza Inn. Rumah makan ini menyediakan masakan khas Suku Tolaki, suku asli Kendari. Lumayan juga. Ada ayam yang dimasak asam dengan kendondong (duh, lupa namanya) dan ada juga ikan palumara (tidak beda jauh dengan asam-asam bandeng di Jawa Timur). Disediakan juga sononggi (berupa bubur sagu). Orang Tolaki, biasanya makan bubur sagu dengan kuah ikan, dan juga sayur bayam.

Terkait dengan places of interest, agak bingung juga. Sepertinya, baru menemukan Kendari Beach. Itupun kalau malam gelap minta ampun. Tidak ada apa-apa. Orang disana juga tidak seramai di Pantai Losari, Makassar. Rumah makan terapung di pinggir pantai juga bukan pilihan yang baik untuk makan. Bersama dengan seorang teman pernah mencoba pesen minuman disana. Saya pesan juice jeruk, dan ternyata oh ternyata saya dikasih air nutrisari. Sedangkan teman saya memesan kopi. Sayangnya, kopi tidak disajikan dalam cangkir atau minimal gelas biasa. Akan tetapi disajikan dalam gelas sirup berkaki! Baru setelah kami menikmati minum yang "menyedihkan" itu, kami justru mendapatkan kalau di sepanjang pantai banyak terdapat makanan kaki lima yang umumnya menyediakan makanan dari Makassar. Seperti pisang epek, dan sarabba. Tidak ketinggalan ikan bakar! Sayangnya, perut kami sudah penuh dengan makanan yang kami beli di RM Sulawesi. Rumah makan ini, juga bukan pilihan yang baik. Sudah begitu, harganya mahal!

Kalau Anda ke Kendari, jangan harap akan menemukan mall. Kalau di Makassar masih agak lumayan. Ada Mall Panakukang, dan Mall Ratu Indah (MARI). Sedangkan di Kendari, hanya ada Mandonga Mall. Mall ini hanya dua lantai. Lantai bawah untuk jualan VCD dan kaset. Sedangkan lantai dua, hanya untuk berjualan baju. Dibuat mirip-mirip kios. Kalau dilihat, lebih cocok disebut pasar, hehehe.


Tuesday, 11 August 2009

The Smell of Makassar

This city smells like cigarettes. Inilah kesan yang aku dapatkan ketika aku datang pertama kali dan kembali lagi kesini. Yeah, Makassar baunya mirip asbak. Dimana-mana, orang-orang mengepulkan asap dari dalam mulutnya. Membuat orang-orang di sekitarnya merasa sesak, dan seperti ada kabut di sekitar.

Sejak aku mendarat di Hassanuddin, asap langsung menyambut. Asap ini lahir dari mulut para pejemput, para sopir taksi, para makelar, para tukang ojek, para porter dan juga para penumpang yang sebelumnya telah menahan diri untuk tidak merokok selama di penerbangan.

Ketika saya datang dan makan di warung ikan Paottere di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI), asap memenuhi ruangan. Baik asap yang berasal dari bekas bakaran ikan ataupun dari asap rokok para pengunjung. Karena ruanh ber AC, bisa dibayangkan seperti apa ruangannya. Kurang sekali oksigennya.

Dimana-mana, bau asap rokok. Bahkan di Mall Panakukang yang notabene adalah mall terbesar, tanda larangan merokok tetap dilanggar. Kebakaran tetap saja keluar dari mulut para pengunjung. Di hotel Horison, di ballroom nya sampai ditulis tanda larangan besar untuk merokok, and thanks God, it works. Tapi, begitu keluar dari ballroom, bau rokok kembali menyeruak. Ya di lobby hotel. Ya di selasar hotel. Ya di restoran yang notabene sebagian bebas rokok. Tak ketinggalan juga kamar! Gosh!

Saya akan paham, kalau mereka merokok di warung kopi yang tidak ber AC. Bagaimana bisa orang-orang tetap merokok di dalam ruangan berpendingin. Apa mereka tidak tahu, kalau itu sangat merugikan orang lain? Saya bukan sok sehat, tapi itu bisa membuat orang sangat sesak. Dan, meskipun merokok itu adalah hak, tapi telah melanggar hak orang lain untuk menghirup udara bersih.

Kata teman saya, Henky Widjaja yang dengar keluhan saya bilang " Ya, mereka sebagian besar memang masih primitif"

Friday, 7 August 2009

Indonesia Tanah Airku...

Tanah Airku tidak kulupakan
Kau terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak akan hilang dari kalbu....



Ketika aku turut menyanyikan lagu itu di Forum Kawasan Indonesia (KTI) yang keempat di Makassar, dua hari yang lalu, aku merasakan sangat terharu. Dadaku terasa sesak. Barangkali, kalau aku tidak di forum, pasti air mataku telah menetes. Aku tidak tahu kenapa aku begitu terharu dengan lagu itu.

Aku berada di dalam sebuah forum yang berasal dari delegasi 12 propinsi di KTI. Ada Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, NTT, NTB, Maluku, Maluku Utara, Papau, dan Papua Barat. Mereka, adalah orang-orang yang dengan semua keterbatasannya berusaha keluar dari persoalan hidup yang mereka alami. Mereka melakukan banyak hal untuk komunitas dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka, adalah orang-orang yang berani bermimpi, dan mewujudkan mimpi itu. Coba saja Linggi. Seorang mantan kepala desa di di Uru Batang, yang membuat listrik mikrohidro sehingga desanya bisa merasakan terangnya listrik. Dengan menggunakan turbin, desanya tidak lagi gelap. Anak-anak bisa belajar kala malam, dan para orang tua menjadi lebih produktif.

Atau, ibu guru Minnee Wally dan Elisabeth Hole, yang mengajarkan kurikulum lingkungan hidup, dengan belajar sambil menyelam. Di daerah Teluk Tanah Merah ini, anak-anak diajarkan untuk mengenal laut yang mereka miliki, dan mencintai laut-laut mereka. Atau, seorang lelaki bernama Silverius Oscar Unggul, yang menjadi salah Young Leader 2009 yang ditetapkan oleh World Economic Forum.

Di sekelilingku, selama dua hari, bertebaran dengan bebas energi-energi positif dari orang-orang ini. Orang-orang yang memiliki semangat. Orang-orang ini, adalah mereka yang mampu memberikan inspirasi bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Di forum ini, aku mendapatkan kembali semangatku. Semangat, yang akhir-akhir ini entah hilang kemana. Seperti biasa, aku seperti memiliki siklus, sebuah turning point dalam hidupku. Dan, saat ini adalah yang terparah. Ketika awalnya berada di dalam forum ini, aku malas luar biasa. Karena aku tahu forum ini "sedikit" ada basa-basi. Aku kurang suka dengan forum-forum seperti ini. Hanya karena akan ketemu dengan JICA, aku berangkat ke Makassar Selasa pagi yang lalu.

Tapi, aku mendapatkan banyak hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Aku, kembali terinspirasi untuk melakukan banyak hal. Aku tahu, bahwa aku tidak boleh menyerah apapun yang terjadi. Aku akan terus bertahan dan berjuang. Aku tahu, di depanku, aku masih bisa bermimpi apa saja.

Aku jadi hidup kembali. Dan, aku sangat senang ada forum itu.

Siang Hari di Phoenam

Kemarin siang, setelah meeting dengan Nakajima-san dan Wanna di JICA office di Kantor Gubernur, aku sempatkan diri ke Phoenam. Saat itu, jam menunjukkan 12.30 waktu Indonesia Tengah. Waktunya makan siang. Pagi aku tidak sarapan. Tapi, kalau ke Phoenam sebenarnya hanya ada kopi, roti dan mie goreng. Ah, peduli amat. Kalau perlu, makan roti dua porsi. Aku tidak jadi mampir ke FIPO, karena Haji Basir sedang rapat, entah dimana, dan mungkin juga kantor sepi. Katanya, tropi mau dikirim saja.

Siang itu, ada sekitar 10 orang pengunjung di Phoenam. Ya, tentu saja, para pengunjungnya adalah lelaki semua. Lima orang laki-laki duduk di meja sebelahku. Mereka semua China. Sedang mengobrol dengan serunya. Dua orang lelaki, duduk di meja seberang, sedang bermain catur. Kemudian dua orang lelaki, duduk agak jauh dari mejaku. Di dekatku, duduk dua orang lelaki, satu orang menyanyi "Indonesia Raya" Lalu, masuk seorang lelaki setengah Arab. Dia memaki kopyah. Sedikit berjenggot. Sudah berwarna putih. Lelaki ini, memandangku dengan penuh selidik. Sepertinya, aneh melihat seorang perempuan duduk sendirian di warung kopi di tengah hari bolong. Aku cuek saja. Disana meminum kopi susu dan memakan dua porsi roti. Satu porsi roti panggang kaya, dan satu porsi roti panggang telur rebus. Aku memang sedang lapar.

Kopi di Phoenam memang tetap enak. Aku meminumnya pelan-pelan. Setiap lelaki yang masuk ke dalam Phoenam, selalu melirik ku. Tak jarang yang senyum dikulum.

Hal yang sama aku alami bersama dengan Rina di Jalan Sadaeng. Ketika kita minum sejenis STMJ, tapi ada namanya. Hanya saja aku lupa. Kita disana minum, dan sambil makan pisang goreng dan ketela goreng. Disana, kita sampai jam 12 malam. Semua orang setengah melotot ke kita. Apalagi, kita bercerita dengan seru banyaknya kisah perjalanan yang kita lakukan. Cerita-cerita konyol saat traveling. Juga, tentang mimpi dan rencanaku bersama dengan Lala tahun depan. Upsss..ternyata, Rina kenal juga Lala. Kita lalu sepakat, kalau tahun depan, kita akan traveling bersama, ke benua itu. Dan, berpikir, siapa-siapa saja orang yang ada di benua itu, dan berkenan memberikan kita surat undangan, hehe. Oh, aku tidak menyangka bisa ketemu dan mengobrol sebebas ini dengan adik kelasku ini. Oh, senang sekali, menemukan satu lagi orang yang sejenis. Jam 12 malam, kita sepakat untuk cabut dari tempat ini. Aku ke hotel, Rina ke kos di Jalan Hadji Bau.

Monday, 9 February 2009

Not A Good Day

Today is not a good day. Bahkan matahari-pun sudah tidak muncul dari Sabtu kemarin. Mendung terus. Hujan malah. Matahari melek-merem. Jadinya, terasa sekali kalau itu terpengaruh ke mood. Belum lagi, masuk angin sejak Sabtu malam, paska dari Black Canyon Coffee di Ciputra. Kerokan, tentunya. Seharian kemarin hanya di rumah. Masih agak masuk angin. Berkutat dengan buku latihan TOEFL, Traveler's Tales sama buku hasil Monev DPRD. Benar-benar sanga membosankan. Tidak bisa keluar dari rumah. Bahkan hanya untuk beli terang bulan!

Hari ini, Senin, mood juga masih belum balik juga. Aku merasa ada yang aneh dengan mood-ku. Akhir-akhir ini tidak terlalu bagus. Aku merasakan kebosanan yang luar biasa.

Hari ini juga karena mood masih kacau dan udara yang tidak begitu enak, akuke kantor dengan baju yang "ngawur". Aku baru sadar kalau ngawur setelah turun dari taksi. Hari ini, aku memakai dalaman turtle neck, blazer, celana jeans, dan sepatu boot. Hmm...pasti sangat salah kaprah. Sangat aneh. Turun dari taksi aku jalan terseok-seok dengan sepatu boot tahun "gak enak" itu.

Yeah..pokoknya, hari ini aku agak saltum....dan baju ini akan aku pakai ke konser nanti malam. Who cares, then?

Friday, 6 February 2009

Haunted Hotels

Kalau pergi ke kota kecil di Indonesia, selain berpetualang dengan kuliner kota setempat, pengalaman lainnya adalah merasakan tidur di hotel-hotel khas kota kecil. Hotel-hotel di kota kecil, biasanya memiliki ciri yang khas: pelayanan yang sangat kekeluargaan, dan fasilitas yang "sederhana" Selain itu, banyak diantaranya yang "berhantu" atau istilah kerennya spooky.

Aku pernah beberapa kali tidur di hotel spooky. Dan, kalau sudah begitu, pasti aku selalu mimpi yang aneh-aneh, ditindihin, dan kejadian-kejadian aneh lainnya. Meskipun, aku sudah menerapkan resep seorang teman. "Perkenalkan dirimu pada penghuni kamar itu. Kedatanganmu paling tidak kan menganggu dunia mereka. Kalau perlu, kamu sholatin deh..."

Resep itu sudah aku terapkan. Hasilnya, sama saja. Tetap saja aku ditindihin.

Misalnya ketika di Banyuwangi. Aku sengaja memilih lokasi hotel yang dekat dengan pantai. Alasanku sangat romantis. Jogging di pantai dulu pagi hari sebelum kerja. Meskipun aku sadar, kalau tempat itu ada di Ketapang, dan kalau ke kota masih dibutuhkan waktu 1 jam. Tidak masalah. Begitu banyak kendaraan umum dari Ketapang ke kota. Beberapa waktu sebelum aku masuk ke hotel, sopir travel yang membawa Bu Sis dan aku minum kopi dulu di depan pelabuhan. Ketika sopir berhenti untuk minum kopi, aku mencoba untuk tidur telentang. Eee...belum lima menit, aku sudah mimpi yang aneh-aneh. Anak-anak kecil masuk ke mobil semua. Bermain-main di dalamnya. Lompat kesana, lompat kesini. Main di kemudi, terus naik ke atap mobil. Mereka pada ingusan semua. Ibunya, bingung menyeka ingus-ingus itu.

Tak lama aku terbangun, dan sopir sudah kembali dari ngopi. Siap mengantar kami ke tujuan.

Begitu check in di hotel, aku tidak mendapatkan kamar seperti yang aku pesan by phone. Kamar penuh, dan terpaksa aku mendapatkan kamar lainnya. Baru sore harinya nanti (aku check in 03.30 pagi), aku bisa tidur di kamar yang aku pesan. Tidak masalah, kataku kepada petugas hotel. Lalu, dia mengantarku ke kamar.

Ketika saya hendak merebahkan tubuh, tiba-tiba lampu mati. Hanya kamar yang aku tempati. Tak lama nyala lagi. Pengalaman terburuk bukan di kamar ini. Tapi di kamar yang sudah aku pesan. Karena aku kecapaken seharian di lapangan, jam 6 sore aku sudah tidur. Kamar yang aku pesan itu memang spooky. Lampunya remang-remang, dan memang sudah ada hawa tidak enak. Tapi, aku cuek saja. Selama tidur, TV aku nyalakan. Tidurku nyenyak sekali. Jam 2 malam aku bangun karena tidurku terlalu awal. Aku sebenarnya sudah bertekad untuk tidak tidur lagi dengan membawa buku Romo Sindhunata. Tapi, ternyata masih mengantuk juga. Akhirnya aku tertidur juga. Nah, di phase yang ini, segera saja bayangan hitam besar menindihku, dan di alam mimpi, aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang menyabit rumput. Setelah melihat ke arahku, lelaki berkulit hitam itu mengacung-acungkan sabit ke arahku. Dan, itulah yang membuatku terbangun dan bersumpah untuk segera check out esok harinya.

Pagi harinya, orang Bappeda tanya ke saya, apakah masih menginap di hotel itu. Aku bilang, sudah check out, Pak.
"Kenapa?" Lalu, aku ceritakan pengalaman 'spiritual' pada malam sebelumnya. Orang itu lalu tertawa, dan bercerita. Kalau di hotel itu dulu ada orang yang bunuh diri, dan ada kuburan di sebelah hotel itu. Dan, ya benar, aku melihat kuburan di samping hotel itu. Hmm...memang.

Pengalaman lainnya ketika ramai-ramai ke Sragen sama Mas Redhi, Pak Arifin dan Maman. Kami memesan kamar yang di paviliun, dan ada parkir sendiri. Kami diberi 4 kamar di belakang. Kamar baru, katanya. Dan, kami datang juga menjelang pagi. Jam 4-an. Empat kamar itu berjajar rapi. Kamarku yang paling ujung timur (depan), kamar Mas Redhi, Pak Arifin, lalu kamar Maman paling ujung di belakang.

Belum lima menit aku tidur, kembali bayangan hitam dan besar menindihku. Lalu, di kamar mandi aku dengan dua anak kecil sedang main air kecipak-kecipak, dan berterian-teriak. Khas anak kecil. Wawww... aku berusaha untuk bangun. Setelah bangun, aku bersumpah, kalau hal ini terjadi sekali lagi, aku akan pindah ke kamar salah satu lelaki itu. Untungnya, kejadian itu tidak terjadi lagi.

Pagi harinya, ketika kami berkumpul, orang-orang juga mengalami hal yang sama, kecuali Maman! Mas Redhi, digoyang kasurnya, dan diusir untuk check out. Dia juga bermimpi kalau di kamarnya ada bayangan hitam melayang-layang. Pak Arifin beda lagi. Dia mimpi, ada ular besar masuk ke kamarnya. Warnanya hijau. Menyeramkan sekali. Kenapa hanya Maman yang tidak ya??? Hehehe.. Aku tidak ada ide.

Kata Yanto, sopir mobil rental kami,kamar-kamar itu memang ada penunggunya. Ibu dan dua orang anaknya. Haaaaaa...tambah serem saja. Untungnya, sore harinya, Wanna, rekan dari Jakarta datang. Dan, aku ada teman sekamar. Karena Wanna juga takut tidur sendiri setelah aku cerita.

Tentunya Mates, masih banyak lagi kejadian-kejadian aneh di hotel-hotel kota kecil. Tapi, note ini tidak akan cukup untuk menampung semuanya.