Showing posts with label Liburan. Show all posts
Showing posts with label Liburan. Show all posts

Monday, 24 August 2009

Traveling Memang Selalu Indah

Jalan sendiri atau diuruskan, liburan memang selalu indah. Karena, kemarin Minggu, dan aku malas keluar. Menjelang buka puasa, aku iseng-iseng buka-buka buku jaman dulu. Uppsss... coba tebak apa yang aku temukan? Oh, itinerary waktu traveling ke Thailand. Ya jadwal-jadwal kereta, bus, nomor telepon hostel, jalur bus, etc...etc. Tidak ketinggalan juga, tiket Air Asia! Oh, jadi teringat masa-masa itu.

Hal yang kita ingat adalah, kita bertiga terdampar ke Suvarnabhumi Airport seperti terlempar ke masa yang lain. Dari sumpeknya Soekarno-Hatta sampai ke modern Suvarnabhumi ini. *Kemudian baru tahu, kalau teryata, ada bandara yang lebih keren lagi, Incheon di Seoul, Korea Selatan*

Kembali ke masalah itinerary itu, aku jadi teringat Bebe yang menggotong-gotong koper warna merahnya, aku yang terseok-seok dengan tas fitness (I have problem with my back, so I decided to use travel bag instead), dan Emmy dengan tas ransel besarnya dan travel bag-nya. Menaiki jembatan penyeberangan di depan Pratunam Centre. Diantara gajah-gajah. Whuppp...whuppp... Ingin tertawa sendiri rasanya.

Terus juga nemu tiket masuk Grand Palais. Heran kenapa, yang teringat di benakku, justru cowok dan cewek yang dengan tegangnya bertengkar dengan Bahasa China. Whussss... di tengah udara bulan Agustus Thailand yang dahsyat panasnya.

Terus nemu tiket terusan ferry di Chao Praya. Tiket yang membawa kita seharian tidak keluar dari sungai. Kesana kemari ikut rute yang enak. Sampai akhirnya, kita terbawa hampir ke arah luar kota. Untung, di Thelwes kita tersadar. Karena Thelwes sebenarnya juga sudah tidak masuk dalam tourist map. Kalau kita tidak tersadar disana, kemungkinan besar kita akan terbawa ke arah luar kota. Karena ternyata sungai Chao juga menghubungkan Bangkok dengan wilayah-wilayah di sekitarnya.

Ah ya, aku juga nemu beberapa bon makan..... Ah, betapa indahnya masa-masa itu. Liburan memang selalu menyenangkan. Setidak enak-enaknya liburan, masih tidak enak tidak ada waktu untuk liburan.

Am I Too Old Traveling?

Ketika membaca buku Trinity, The Naked Traveler dan bicara mengenai telatnya umur orang Indonesia untuk traveling, terutama traveling ke luar negeri. Benar juga. Miss T tidak salah. Kata Miss T, kita bisa traveling ke luar negeri kalau sudah bekerja selama beberapa tahun dan setelah didahului dengan masa menabung. You are definitely right, Miss T!

Aku, memulai traveling ke luar negeri ketika berumur 26 tahun. Travelingnya juga tidak jauh-jauh amat. Cukup ke negeri di seberang air besar. Singapore sama Malaysia. Itupun setelah direncanakan dengan cukup matang selama 6 bulan, bersama dengan tiga orang teman cewekku. Masa, umur segini belum pernah pergi ke luar negeri.

Tentu saja, itu adalah perjalanan independent. Selama beberapa bulan, Nadia browsing ini dan itu. Booking hotel dan tiket dengan kartu kredit Sophie (ah, hanya Sophie yang punya kartu kredit waktu itu). Saat yang kita pilih liburanmu juga waktu peak season, Tahun Baru!

Selama satu minggu traveling, kami sudah hitung dengan manis dan matematis diatas kertas kemana kami semua akan pergi. Nadia, orang yang sangat terencana membuat jadwal ini sangat enak. Dia bahkan menghitung berapa waktu yang dibutuhkan untuk kesana dan kesini. Misalnya saja, lama penerbangan dari Surabaya ke Batam, terus dari Bandara Hang Nadim ke terminal ferry Batam Centre. Dengan menggunakan perencanaan ini, kita bisa estimasi jam berapa kita akan sampai di negara tetangga. Dari hitungan Matematis, mulai dari flight jam 7 pagi, kita dipastikan sampai di Singapore jam 3 sore. Itu karena ketika kita menyeberang sebelum jam 12, masuk ke imigrasi Singapore belum begitu padat.

Liburan di Singapore-Malaysia yang merupakan liburan kami ke luar negeri, kami catat dengan baik dan buruk. Penuh dengan kenangan deh... Termasuk kenangan tentang masuk angin berjamaah yang menyerang secara bergantian.

Traveling kedua tahun kemarin itu ke Thailand. Bersama Bebe dan Emmy. Traveling ini juga didahului dengan masa-masa menabung, dan booking tiket promo jauh-jauh hari sebelumnya. Jadi, Jakarta-Bangkok PP hanya kena Rp. 760 rebu, dengan pesawat versi gerobak, Air Asia.

Mengingat pengalaman traveling 2006 yang lalu, coba buat deh itu itinerary. Tapi, ternyata teman-temanku tidak ada yang respon. Ya sudahlah. Ehh..ternyata, semuanya berjalan off script atau jalan di luar rencana. Ah, tapi asyik juga. Jalan kesana kemari tanpa tujuan. Hanya kalau butuh pergi ke tempat ini cek di website. Site-site yang awalnya ingin kita kunjungi gagal total berantakan. Kita juga bukan orang yang pagi-pagi jam 6 bangun terus jalan. Tapi, orang-orang pemalas. Jam 10 siang baru mulai jalan. Waaaa....rugi kali, sudah jalan jauh, di luar negeri masih suka molor. Tapi, harap maklum, jam 12 malam kita baru pulang dari jalan. Belum lagi karena faktor USIA. Yang kalau malam baunya Counterpain semua.

Jalan bareng sama teman-teman sepanjang 2009 ini lebih banyak di dalam negeri. Mengingat, krisis moneter internasional. Hah, secara aku diingatkan seorang teman "Jangan pergi dekat-dekat. Kapan kamu akan sampainya pergi jauh??" Ah, benar juga.

Perjalanan terjauh akhir tahun kemarin ke belahan bumi Amerika juga atas kebaikan donor dengan embel-embel short term scholarship. Sayangnya, memang too short. Satu minggu saja. Sampai hari Sabtu malam, Minggu pagi berikutnya sudah harus kembali ke tanah air. Yeah, tapi lumayan. Kapan bisa ke negera Obama lagi, di masa-masa setelah Pemilu dan menjelang Inaugurasi? Tapi, intinya perjalanan yang terakhir ini enak sekali. Tidak terlalu sengsara. Karena semua sudah diurusi. Mulai dari tiket, penginapan, asuransi, bahkan sampai dengan wawancara Visa saja ditungguin, dan bisa dipastikan Visa bakal keluar. Kita hanya butuh datang di tempat yang sudah dijanjikan. Hmmm...

Tuesday, 18 August 2009

Spontaneus Jakarta-3

Pagi-pagi harus meninggalkan rumah Donny. 17 Agustus. Semua orang harus upacara. Donny juga harus upacara karena dia bekerja di bawah Astra Group yang para bos terkenal sangat nasionalis. Karena mbarengin Danur yang upacara jam 7 pagi, kita berangkat dari rumah jam 6 pagi.

Sementara itu, Nisha dan aku akan bertemu di ITC Cempaka Mas. Untuk selanjutnya kita ke rumah dia di Sumurbatu. Nisha baru tinggal di tempat ini selama satu bulan. Dia pindah dari kos lamanya di tempat Mimi di Cikini. Dia tinggal berdampaingan dengan nenek dan budhe-nya. Rumahnya merupakan tempat dengan tiga kamar. Barang-barang masih belum dibereskan. Masih bertebaran di lantai. Oh, sudah lama sekali aku tidak ketemu dengan Nisha. Lebih dari satu tahun. Sepertinya, ketika aku training terakhir untuk BEE Project di Treva itu. Kita ngobrol sampai malam di TIM, tepatnya di warung Mas Min.

Seharian yang dilakukan di Sumurbatu adalah menoton Broken English, craving brownies, minum teh dan bicara hal-hal tidak penting. Nah, Broken English adalah film yang menarik. Dibintangi oleh Posey Parker. Bercerita tentang seorang perempuan bernama Nora. Dalam usianya yang sudah 30 lebih. Nora selalu berhadapan dengan lingkungan kalau orang-orang telah menikah ataupun sudah berpasangan. Sementara dia selalu bertemu dengan orang-orang yang salah. Dia juga terjebak dengan pekerjaan yang sama selama 6 tahun di sebuah hotel. Pekerjaan dia dirasa sangat membosankan.

Sampai pada suatu ketika dia bertemu dengan pria Perancis bernama Julien. Pria ini banyak membukakan banyak hal dalam kehidupan Nora yang memang sangat membosankan. Bahkan, Nora, tidak pernah menikmati hidupnya. Sampai kemudian Julien harus kembali ke Perancis. Nora ditinggalkan lagi oleh satu orang lelaki. Julien mengajak Nora untuk ikut bersamanya ke Perancis. Hanya karena alasan pekerjaan, Nora menolak ajakan Julien. Dia kemudian hanya meninggalkan alamanya kepada Nora.

Perginya Julien membuat hidup Nora semakin kosong. Namun, tiba-tiba dia merasakan kalau hidupnya selama ini ya itu-itu saja... Sampai akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya, dan pergi dengan temannya Audrey ke Perancis.

Nahas bagi dia, dia kehilangan alamat Julien ketika dia di Perancis. Hidupnya tambah tidak tentu. Akan tetapi, ketika Audrey mengajak dia pulang, Nora memutuskan untuk tetap tinggal di Paris meskipun dia tidak tahu, akan melakukan apa di kota ini.

Perginya Audrey, membuat Nora menikmati setiap detik hidupnya. Dia pergi ke galeri. Dia berteman dengan orang baru, minum bersama di cafe atau di bar. Bahkan saling bercerita tentang banyak hal. Dia menemukan begitu banyaknya orang di Paris yang tidak membosankan dan baik hati. Tidak ada yang menipu dan membohonginya. Bahkan, dengan seorang lelaki setengah baya yang dia temui di sebuah bar yang mentraktir dia minum. Sampai tiba waktunya bagi Nora untuk pergi meninggalkan Paris.

Ketika berada di kereta untuk ke bandara, dia bertemu dengan Julien. Mereka sepakat untuk keluar dari kereta dan pergi ke sebuah cafe, for one more drink. dan, Nora tahu kalau dia telah ketinggalan pesawat.

*********

Film ini banyak menghadirkan visual yang gloomy karena memang para tokoh disana juga menjalani kehidupan yang gloomy. Orang-orang berperilaku dengan sangat datar. Tidak ada adegan yang dramatis. Semua seperti sebuah kebetulan saja. Seperti saat Julien dan Nora pada akhirnya bertemu di dalam kereta. Waktu itu, Nora hanya duduk di kursi penumpang. Julien tiba-tiba masuk, dan duduk di tempat yang lain. Nora melihatnya, dan mendatangi Julien. Ketika Nora mendekatinya, Julien hanya santai saja. Dan bertanya, apa yang sedang Nora lakukan di Paris, dan kenapa dia tidak menghubunginya. Film ini jauh dari kesan dramatis Hollywood. Dan, meskipun film ini salah satunya ber setting New York, tapi tidak kelihatan kalau tempat itu ada di New York. Dari keseluruhan adegan shoot di NY, hanya nampak jelas Yellow taxi sekali, dan patung Liberty sekali.

*********
Setelah seharian bermalas-malasan nonton DVD, aku sampai lupa mengabari Arie selama aku di Jakarta. Akhirnya, jam 2 kita cabut ke bandara. Kita membunuh waktu di Solaria Bandara. Eh, ternyata flight ku telat lagi, 50 menit. Disini, kita banyak bicara mengenai piliha hidup dan passion. Dan, Nisha adalah orang yang sangat mengenalku dengan baik. Mengetahui passion ku dengan baik, dan dia setuju tentang langkah ke depan yang akan aku ambil. It's time to go home. I had a very awesome weekend in Jakarta. Everyone was happy. Finally, landed safely in Surabaya after few turbulences.

Spontaneus Jakarta-2

Malam itu, aku menginap di Tika. Kulkas dia baru. Rumah petaknya sekarang sudah mulai penuh dengan barang-barang. Juga sudah ada TV dan DVD player. Aku lihat, kulkasnya penuh dengan bahan-bahan makanan. Ada berbagai macam makanan beku, susu, keju, dan lain-lain. Mirip dengan aku ketika baru saja beli kulkas. Penuh dengan bahan-bahan makanan karena kita takut kelaparan. Aku tertawa saja, mengingat sekarang kulkasku hanya berisi barang-barang yang penting saja.

Pagi hari, kita masak oseng-oseng ikan asin yang memang rasanya sangat asin. Karena ikan ini, semuanya menjadi bau ikan asin. Bau ikan asin tidak mau hilang dari tangan kami. Walaupun sudah kita gosok dengan sabun. Parah.

Jam 10 Donny dan Intan menjemputku. Dan, sempat membuat Jalan Bendi macet beberapa saat. Karena aku belum merapikan semua barang dan tidak sempat memakai sepatu, akhirnya aku berlarian di atas aspalt

We did not have idea where to go. Akhirnya, kita ke Cilandak Town Square (CITO) untuk nonton Merah Putih. Film kolosal perjuangan yang diproduseri oleh Hasyim Djoyohadikusumo. Dibintangi oleh Donny Alamsyah, Lukman Sardi, Darius, Zumi Zola dan anak Hasyim, Saraswati Rahayu. Karena melibatkan orang-orang Hollywood, lumayan untuk lighting, sound, efek visual, dst. Pokoknya tidak norak seperti pada umumnya film Indonesia.

Hari itu, kita menghabiskan waktu dengan makan, creambath dan jalan. Pokoknya, hal-hal yang menyenangkan lainnya. Malamnya, aku menginap di Donny. Rencana awal, akan menginap di tempat baru Nisha di Sumurbatu. Tetapi karena Maghrib masih di Bekasi, dan susah untuk ketemu di daerah tengah, akhirnya aku memutuskan untuk menginap di Donny. Apalagi, kamar sudah disiapkan. Donny sudah agak ngambek waktu aku bilang akan menginap di Sumurbatu.

Spontaneus Jakarta-1

Pergi ke Jakarta saat long weekend sangat menyenangkan. Jakarta sepi. Tidak ada kemacetan. Tidak ada gerombolan orang disana-sini. Benar-benar Jakarta kehilangan sejumlah besar manusia. Oh, pada kemana semua manusia itu? Jadinya, nyaman sekali.

Pergi ke Jakarta kali ini merupakan bagian dari janji yang aku tebar ke teman-teman di disana. Jika, in the middle of 2009, aku akan mengunjungi mereka. Selain, aku juga sudah kangen dengan mereka semua. Aku memang sedang butuh penyegaran.

Pesawat sempat delay 45 menit. Padahal, dari kantor sudah cepat-cepat menuju bandara. Lewat tol. Jam setengah satu sudah sampai bandara.

Jam 5 baru sampai Jakarta. Untung tidak perlu menunggu waktu lama bis jurusan blok M datang. Bis Damri bandara kelihatannya baru mengalami pergantian. Tidak lagi apek seperti biasanya. AC nya juga lumayan dingin. Tapi, tiketnya naik menjadiRp. 20 ribu. Sebelumnya Rp. 15 ribu. Karena jalanan tidak macet, hanya dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai di Blok M. Tika sudah menunggu disana. Ketika pertama kali melihatku, dia bertanya dengan terkejut, "Mana barang bawaanmu?" Dia hanya melihatku membawa tas Adidas yang berisi laptop, dan tas kecil tempat sepatu warna merah yang biasanya aku isi perlengkapan fitness. "Ya ini bawaanku..." Dia geleng-geleng, "Wow, aku terkejut melihatnya.."

Dari blok M kita lansung ke Jatet (JakartaTheatre) seberang Sarinah. Tika ada acara disana, liputan acaranya LG Mobile. Dari blok M, kita cukup naik Trans Jakarta koridor 1. Setibanya disana, acara belum mulai. Awalnya, aku menolak ajakan Tika untuk ikut ke acara dia. Mending aku menunggu Wahyu dan Dicky di Oh La La Cafe di bawah. Tapi Tika insist. "Sudah, kamu ikut saja. Kamu makan saja dengan santai. Aku sudah bilang sama Reynaldi (PR LG), kalau aku akan bawa teman.." Jadinya, aku masuk ke dalam acara itu dengan name tag, MEDIA.

Ketika sampai di ballroom, Tika langsung mempersilahkan aku makan. Untung sekali aku tidak membawa banyak barang. Hanya dua tas kecil saja. Sehingga tidak perlu repot dengan membawa barang-barang. Karena Jakarta bukan lingkungan sosialku, aku tidak perlu berbasa-basi dengan banyak orang. Aku langsung mengambil piring untuk makan. Lalu, mencari tempat di pojok untuk makan. Jujur, aku lapar sekali. Kacang rebus yang aku beli di Blok M tidak cukup kenyang untuk mengganjal perutku.

Ketika aku sedang enak-enak menikmati makan, tiba-tiba seorang lelaki mendekatiku. Dan, bertanya kepadaku seperti layaknya seorang teman lama. Gayanya agak endang-bambang.
"Enak tidak nasi gorengnya?"tanyanya sambil menunjuk-nunjuk piringku. Seakan-akan dia mau mendaratkan sendoknya di piringku.
"Belum aku coba" Karena saat itu, aku baru mulai makan, dan baru mengunyah brokoli. "Bentar aku coba" Lalu aku coba nasi gorengku. "Enak. Lumayan. Saladmu bagaimana?" Dia sedang memakan salad.
"Eduuunnnnn...." jawabnya dengan manja. Aku melongo.
"Edun itu apaan sih?"
"Enak bangetttt...." jawabnya sambil mencolek-colek aku. Tika memandangku dari kejauhan. Dia juga agak mengkerut-kerutkan keningnya. "Eh, kamu dari media ya?"
"Ya, kamu?"
"Aku make up artis..." Aku mengangguk-angguk.
"Kamu belajar dimana?"
"Otodidak. Dulu, aku pernah ikut dalam pembuatan Sinetron Dewi Fortuna. Itu tuh, yang bintangnya Bella Saphira, Putri Patricia sama Didi Riyadi. Aku dulu mau ikut disana, karena aku tergila-gila dengan Didi Riyadi"
"Kalau sekarang?"
"Ah, sudah tidak lagi. Didi Riyadi mah sudah tuwir." jawabnya genit.
"Lalu, idolamu sekarang siapa? Dude?"
"Enggak..enggak mau sama Dude. Dude terlalu cewek" jawab lelaki itu sambil menggerak-gerakkan jari kelingkingnya. Lalu tertawa genit "Kalau aku sih suka Teuku Wisnu..." Aku jadi ingin tertawa yang keras.

Dari kejauhan Tika melihatku dengan heran. Ketika si cowok yang tidak pernah aku tahu namanya itu sedang pergi mengambil makanan lainnya, Tika mendekatiku dan bertanya,
"Siapa dia, Mon?"
"Katanya sih make up artist. Aku tidak tahu siapa namanya. Memang kenapa?"
"Aku pikir, dia teman lamamu...." Lalu, kita terkikik.

Ketika sedang asyik craving cakes, Wahyu menelpon. Dia sudah di Oh La La rupanya. Aku bilang sama Tika kalau aku turun dulu ke bawah. Ketika sampai di meja resepsionis, orang LG memanggilku.
"Mbak-nya mau kemana?"
"Ada telepon mendadak dari kantor. Kenapa Mbak?"
"Sebentar Mbak..." Katanya sambil merogoh-rogoh laci meja dia. Dia mencari-cari uang yang biasanya diberikan kepada media. Eh, ya ampun.
"Tidak usah, Mbak. Terima kasih. Ini saya harus buru-buru ke kantor"
"Kalau boleh tahu, Mbak-nya dari media apa?" Waduh, aku bingung harus jawab apa. Spontan aku jawab Indopost.
Si Mbaknya dengan pedenya bilang "Oh gantinya Mas Cep ya?"
"Ya" jawabku sambil lari dan tanpa pikir panjang.

Sementar aku turun, Wahyu sudah duduk di Oh La La dengan segelas susu dingin. Tidak lama kemudian Dicky sama Tika join. Cerita dan curhat-curhatan tambah seru. Tambah malam, Oh La La menjadi tambah aneh. Semakin banyak pria-pria dandy. Kami menghitung uang kecil kembalian. Jumlahnya mencapai Rp. 10 ribu. Ini terjadi, karena kami berkali-kali pesan makanan, dan berkali-kali mendapatkan uang kembalian kecil.

Kita berempat di cafe itu sampai over midnite. Benar kata Iit, kalau banyak orang ke Jakarta untuk belanja, aku ke Jakarta hanya untuk ketemu teman dan nongkrong di cafe. Semua orang memandang kami, dua orang lelaki dan dua orang perempuan. Suatu pemandangan yang agak janggal di Oh La La.

Jakarta yang panas tambah panas.


Tuesday, 14 July 2009

Bali: Liburan Antik

Day 0 - 10 Juli 2009

Benar, sudah tidak konsentrasi di kantor. Rasanya, dari pagi sudah mual perut. Tidak sabar menunggu sore. Di kantor sudah error melulu. Hati dan otak sudah benar-benar panas. Akhirnya tiba bagi kami untuk menumpahkan semuanya. Hanya dengan liburan (kata Any, masak, kita harus liburan tiap tiga bulan?). But life is so stressful lately...

Setengah 4 sore, selesai tidak selesai kerjaan aku tinggal pulang. Aku sudah tidak tahan lagi. Jam 4 sampai di rumah. Untung sudah packing. Tiba di rumah mandi, dan segera berangkat. Aku yang samperin Nadia dan Sofie di Karangmenur, dan terus ke Bali Megah Wisata (BMW) di Jalan Diponegoro.Jam 5 tepat sampai disana. Kita berangkat ke Bali dengan naik bis. Alasannya, penghematan. Awalnya, aku agak ragu dengan naik bis ke Bali. Agak trauma dengan naik Bali Prima ke Banyuwangi, yang nyetirnya ugal-ugalan. Tapi, Nadia berhasil meyakinkan aku kalau naik bis lebih bagus daripada naik kereta. Ya sudah aku serahkan sama Nadia, secara dia sering ke Bali. Baru baliknya naik pesawat.

Jam 5.30 PM kita harus sudah sampai di BMW. Meski bis baru berangkat jam 6 sore. Nah, Any sampai dengan bis mau berangkat belum juga sampai. Ketika kita sudah di BMW dia masih ada di Ahmad Yani menunggu taksi. Akhirnya, si sopir bilang sama dia untuk menunggu saja di Mc D Mayjend Sungkono. Tapi, ternyata dia nekad untuk ke Diponegoro. Op tijd. dia datang tepat waktu. Jam 6 tepat. Bis segera berangkat. Nadia dan Sofie duduk di bangku paling depat. Tepat di belakang sopir. Any dan aku ada di belakang mereka.

Tepat di seberang Sofie dan Nadia, seorang lelaki yang (maaf) tambun, dan menyebar bau tidak enak dari tubuhnya. Anak-anak sudah kasak-kusuk saja, hehehe.

BMW ini hanya berisi 20 tempat duduk. Dan, tempat duduk yang paling belakang kosong dua. Dilengkapi dengan toilet. Sopir yang membawa kita lambat sekali kemudinya. Tapi, menurutku memang lebih baik begitu. Lalu lintas ke arah timur kalau malam padat sekali dengan kendaraan-kendaraan besar.

Ketika mendekati tengah malam, kita makan malam di Pasir Putih. Anak tiga ini belum makan malam. Aku sudah makan malam di bis. Mbontot dari rumah. Untung mbontot, kalau tidak bisa kram perut.

Masakannya ya begitulahhh..... Tapi, dimakan juga. Setelah itu jatuh tertidur. Sektiar jam 3 subuh, kita menyeberang. Sesampainya di Gilimanuk, "pramugari" menawariku kopi. Setelah itu, kembali jatuh tertidur. Ketika jam menunjukkan pukul 5, perut mulai melilit. Minta dikeluarkan. Tapi, aku harus menahannya sampai Bali. Di bis ada larangan download disana. Kalau dalam kondisi mendesak, bisa menghubungi kru bis.

Day 1, 11 Juli 2009

Jam 9 kita sampai di pool BWM, dan menunggu kakaknya Sofie, Mas ND. Di pool BMW ini, aku baru saja tahu kalau filter UV Hoya yang terpasang di kamera sudah pecah. Ceritanya, aku mau ambil itu buat foto-foto. Ternyata sesak sekali. Bisa juga dibuka oleh Any. Dan, baru ketahutan kalau pecah. Sepertinya pecah ketika sedang di Probolinggo. Ketika aku tidak mengurus kameraku, gara-gara masuk angin. Aku tinggalkan begitu saja kamera itu di dalam mobil, sementara aku di rumah Teddy untuk dapat perawatan dari bapaknya.

Kita dijemput 10 menit kemudian dengan Nissan X-trail. Mobil kemudian yang akan kita gunakan untuk kesana-kemari. Setelah itu, langsung menuju ke Puri Ratu di Jimbaran, tepatnya di by pass Ngurah Rai. Vila sedang dibersihkan. Nyonya rumah ada juga. Tidak di Taman Lawangan. Begitu sampai di vila, aku langsung download.

Kita ditempatkan di lantai 2 puri. Desain puri itu khas via di Bali. Dengan ruangan yang sangat terbuka. Terutama kamar mandinya. Kamar mandi memiliki jendela yang sangat lebar dan tinggi. Barangkali, 1,5 meter. Jendela dibangun dengan kaca bening, dan selalu terbuka. Jadi, misalnya ketika kita mandi atau pupi, kita bisa melihat dengan jalan raya atau kebun sebelah. Untungnya, kebun sebelah tidak berpenghuni, dan tidak ditanami. Karena bekas rawa-rawa. Dan, yang ada hanya pohon asam saja. Kalau sama jalan raya masih jauh. Kita saja yang bisa melihat jalan raya, tapi mereka tidak. Kata anak-anak, kamar mandinya "horror"

Habis kita menaruh barang, kita langsung diajak makan. "Di depan Hard Rock Kuta saja..." Wah, kita sudah GR. Mau makan di HR. Usut punya usut, kita ternyata makan nasi bungkus di pantai Kuta, hehehe. Tapi, meskipun nasi bungkus, ramainya minta ampun. Dan, tempe gorengnya enak sekali. Dipadu dengan mangga dan kopi. Hasilnya setelah itu, perutku agak mules sekali... Dan langsung T. Dan, setelah itu, rasanya masuk angin mulai datang. Tapi siang itu kita akan ke Dreamland. Tempat yang dikelola oleh Mas Tommy itu.

Kompleks Dreamland ada di kompleks Pecatu. Ada perumahan. Ada hotel. Ada apertemen, dan ada lapangan golf. Tentu saja, ada cafe Klapa. Yang peresmiannya sempat bikin ribut para seleb Jakarta itu. Demi rebutan Mas Tom, hehehe.

Waktu lihat X-trail kita, dan berplat nomor B, si satpam langsung bilang "Ada DJ live, Mbak di Klapa. Silahkan kesana...." katanya sambil memberi kartu parkir dan brosur Klapa.

Dreamland tempatnya tidak terlalu luas. Pantai kecil saja. Tapi, penuh dengan manusia. Ya turis domestik. Ya turis luar negeri. Orang-orang ada yang asyik berselancar. Ada yang hanya duduk-duduk. Ada juga yang hanya makan-makan. Tapi, Dreamland panas sekali sore itu. Kita akhirnya memutuskan untuk duduk-duduk dan makan di cafe pinggir pantai. Selain itu, kita juga malas turun ke pantai gara-gara swine flu. Pada saat itu aku rasakan perutku juga mulai tidak karuan. Ingin kentut. Tapi tidak bisa. Rasanya seperti dikocok. Wah, masuk angin ini. Bahkan makan setengah sore tidak bsia menolongku. Waktu aku sudah tidak tahan lagi, aku berniat naik ke atas. Yang ternyata adalah lokasi Klapa. Aku hanya ingin cari toilet. Tapi, diusir sama satpam.... Bukan diusir sih, tapi Dilarang untuk Tidak Naik ke Atas. Eh, sama saja dengan diusir, hehehe. Ternyata, yang ampuh hanya X-trail pinjaman itu, hehehe. Lekas saja aku lari, karena aku hanya mencari toilet. Di bawah, toilet hanya ada satu.... Antri lagi. Duuhh...download sih tapi tidak lega. Mas ND sudah telepon lagi. Kita disuruh balik ke kota. Karena dia dan keluarga mau bikin makan malam buat kita. Ya, sudah deh.... akhirnya kita kembali ke vila.

Ternyata makan malam ikan bakar Kedunganan... Sedaaaapppp......

Malamnya, Bali hujan. Malam minggu lagi. Akhirnya, kita menunggu hujan reda di vila. Sambil aku kerokan. Asoiii... Indonesia sekali. Ketika hujan reda, ada ide dari Linda - yang juga tinggal di vila - untuk ke Kuta, melihat kehidupan malam disana. Tapi, karena hujan turun dengan lebat (lagi), we did not see anything. Hanya orang-orang yang pada berteduh. Kuta agak sepi. Bahkan cafe-cafe. Barangkali karena hujan. Atau bule-bule itu sudah pada tipsy di diskotik. Kita pulang, tapi mampir di Mc D. I needed hot tea.

Terus langsung tidur......

Day 2, 12 Juli 2009.

Minggu. Bangun dengan setengah hang over. Ubud adalah tujuan kita hari itu. Sama ke Kintamani. Ingin melihat pemandangan Danau Batur. Setelah itu, mampir di Ubud.

Pagi, kita ingin sarapan nasi campur Bali. Setelah googling tempat makan yang halal, kita dapat dua referensi. Rumah Makan Adi dan KKN. Keduanya di Jalan Danau Buyan. Setelah putar sana-sini, akhirnya ketemu Jalan Danau Buyan. Tapi, tidak ketemu juga rumah makan Adi. Yang ketemu warung KKN. Ya, sudah. Kita sarapan disana. Ternyata, warung makan prasmanan! Jadi, ingat jaman-jaman kuliah dulu. Tapi, masakannya sangat lumayan enak. Sangat mlekoh.

Setelah sarapan, kita langsung cabut ke Kintamani. Kintamani merupakan satu jalur dengan arah Singaraja. Kita lewat Ubud. Sepanjang jalan yang kita lewati, tampak rumah-rumah sekaligus show room para pengrajin. Mulai dari kayu, kaca, batu dan sebagainya. Tampak juga beberapa galeri mewah.

Setelah perjalanan lumayan lama, dan sempat ragu, apa benar ini jalur Kintamani, kita bertemu dengan pemandangan yang sangat indah. Gunung Batur, dan danaunya. Kintamani sebenarnya adalah nama kecamatan. Di sepanjang jalan itu, banyak sekali tanaman jeruk. Begitu pula orang-orang jualan jeruk. Jeruk kintamani lumayan terkenal juga.

Tampak juga di kejauhan sebuah bukit dengan banyak pasirnya. Mengingatkan aku pada foto Tibet si Agustinus. Padang pasir...gunung. Indah sekali. Kita foto-foto saja awalnya di pinggir jalan dengan view danau dan gunung. Tapi, kita tidak puas saja. Waktu kita mutar mobil, mau kembali ke track yang disarankan oleh tukang parkir, tapi kita cari sendiri jalan lainnya ke Dana Batur. Ah, dasar sok tahu, hehehe. Tapi sungguh, di jalan itu ada penunjuk ke Danau Batur dan Pura Mentrik.

Kita ambillah jalan itu. Saudara tahu apa yang kami lewati. Jalan yang sangat sempit, tajam, dan curam. Tapi, kita sudah sulit untuk kembali. Sepanjang jalan kita hanya berpapasan dengan truk-truk pengangkut pasir. Hati kami tinggal separo. Nyali kami sudah habis barangkali.

Kami berdoa, dan percaya pada kemampaun Nadia saja.

Tapi sungguh, sebenarnya, jalan yang curam dan terjal itu indah sekali viewnya.

Begitu kita sampai di bawah, di sana memang ada lokasi truk-truk ambil pasir. Dan, menyebutkan kalau daerah tersebut merupakan kawasan hutan. Setelah kita bertanya, ternyata itu memang jalan menuju danau Batur. Hanya saja, jalannya sedang rusak berat dan tidak bisa dilewati. Satu-satunya cara, kita harus kembali naik, lewat jalan menakutkan yang baru saja kami lewati.

Duuuhhhh...takutttttt... semakin keras kami berdoa....

Akhirnya, dengan selamat kami sampai di atas. Di jalan raya yang benar, dan kemudian mengambil jalan yang benar ke Danau Batur. Jalannya tidak securam sebelumnya. Lebih ramai. Kita tertawa. Tapi, ketakutan kita telah memakan sebagian besar energi kita.

Di Danau Batur, kondisinya sangat tidak nyaman. Gara-gara pedangan acung. Yang jadi sasaran Nadia sama Any. Sempat ribut juga sama Nadia. Any terpaksa beli cincin. Sofie dan aku tidak jadi sasaran karena kita beraksi. Aku dengan kamera, dan Sofie dengan sok cueknya. Kita hanya setengah jam disana. Terus naik lagi ke Kintamani, dan menuju Ubud.

Di desa Tegallalang, kita berhenti. Sejenak menikmati hidangan dari Cafe Teras Padi. Dengan pemandanganan sawah bersusun atau subak. Hidangannya lumayan. Disinilah aku mulai merasakan masuk angin lagi. Dengan hebat. Mungkin karena belum sembuh 100 persen, sudah dipakai jalan, dan kena angin Danau Batur yang sangat keras...

Sebelum pulang, kita makan dulu di Warung Bu Mangku, Ubud. Makan nasi ayam lengkap. Ada ayam yang digoreng, direbus, dan dimasak bumbu merah. Ditambah juga dengan sambal bali yang pedas, teracancam kacang panjang yang diiris-iris, dan dikasih kacang China goreng. Sedap, dan mlekoh. Tapi setelah Any dan aku selesai makan, tercium bau tidak enak. Seperti bau kotoran. Apa itu mungkin bau kotoran babi???? Nadia sama Sofie langsung menaruh sendoknya....

Dari sini, kita menuju Monang Maning, buat mengantar Any ke rumah kakaknya. Berkali kesana, tetap saja lupa jalannya. Tersesat di gang-gang di Bali yang sempit... Duuhh.... Habis itu langsung pulang ke puri. Any di Monang Maning.

Malamnya Any, menghilangkan dompet kakak iparnya.

Day 3, 13 Juli 2009

Ulang tahun bapakku... Pagi-pagi telepon rumah. Eh, tertanya hari Senin. Lupa kalau cuti sehari.

Karena malam tidak makan, bangun tidur langsung terasa lapar. Karena bingung mau makan kemana, kita ke Mc. D (lagi..). How I hate this food. Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin cari-cari makan gambling. Takut babi-lah. Baru kita sarapan, Mas ND sudah telepon. Kita disuruh ke Taman Lawang. Jemput Bos.. Karena Nadia butuh foto barang-barang di Bali Pasadena, kita kesana dulu. Ketika jemput itu, si bos bilang kalau istrinya ultah, dan mau bikin suprise party.

Habis Nadia foto-foto barang, kita bilang mau spa... Dan, kita dikirim spa hari itu Asoiiiii... di Nusa Dua. Katanya, di Intercontinental. Kita sudah sangat GR. Ternyata, kita dikirim spa di salon sebelah Intercontinental. Namanya Happy Salon *padahal malam sebelumnya Nadia browsing nyari tempat spa...*

Kita sempat ragu masuk tempat itu. Sepertinya, tempatnya kurang meyakinkan. Tapi, bos menyakinkan kalau salon itu enak banget pijatannya. Kita masuk ruangan yang untuk massage. Kayak di panti pijat begitu. Satu ruangan dengan tiga dipan. Kita dibaringkan satu persatu. Mulai ditelanjangi. Sumpah kita masih ragu tentang spa ini. Karena merasa kurang representatif. Tapi, ketika mereka mulai memijit, enak sekali pijetannya. Dan, mereka ramah-ramah. Kita ketawa-tawa. Nah, meskipun spa itu sederhana sekali, kita puas sekali. Dapat harga murah lagi, Rp. 70 ribu!

Setelah spa, kita terus disandera sama Bos. Intinya kita baru boleh keluar rumah, habis ultah. Untungnya, ultah tepat waktu. Jam 5 sore. Acara makan-makan saja dan pembacaan puisi dari Mamas.

Sayangnya, Any masuk angin. Dia tidak bisa full sama kita. Setelah keliling Kuta, dia minta antar pulang. selanjutnya kita sudah malas balik lagi kesana. Jadinya, hanya ke KFC. Minum coklat panas.....

Day 4, 14 Juli 2009

Flight jam 7 waktu Bali. Brrrr.... Bali dingin. Tidak mandi... Hanya cuci muka saja. Akhirnya landed di Surabaya dengan selamat jam 7 pagi. Pikiran jadi segar. And ready back to work...