Wednesday, 7 April 2010

I Miss This Blog

I miss this blog. It's been long time write nothing. Where have I been? Do I move somewhere to spill out all the ideas in my head? Or just the junks I have?

Yes, my head are full of junks of mind. I need to keep it sane.

Sunday, 29 November 2009

My Retreat

Kamis

Bangun tidur dengan kepala sangat berat dan perasaan tidak enak. Rasa ini membuatku membatalkan niat puasa sekalligus tidak pergi ke gym untuk morning training. Kamis, biasanya adalah hari aerobik semi yoga. Hari itu, aku juga tidak ke kantor. Ruteku hari itu, hanya kos-warnet-kos. Kalau cek email bisa dari HP, tapi entah aku ingin ke warnet. 

Sisa hari lainnya, aku habiskan dengan membaca Lembah Abadi (Eeuwige Vallei), kumpulan puisi "perjalanan" Sitor Situmorang. Hadiah Lebaran dari seorang teman. Puisi itu menandai ulang tahun ke-80 Sitor Situmorang. Jadi, ingat dalam tradisi Belanda (Sitor beristrikan orang Belanda, Barbara Brower), 80 tahun dianggap sebagai tahapan usia yang penting. Mereka akan mendapatkan 80 bunga mawar (tachtig rozen). Dengan berusia 80 tahun, seseorang dianggap telah menjalani semua kesempurnaan hidup. 

Malamnya, aku mendapatkan maag-ku kambuh. Hebat sangat.

Jum'at

Bulik Surip pulang ke Tulungagung. Zalini dan Ayuni pergi ke Jogjakarta. Praktis, tinggal M dan aku di rumah. Itupun, kita seperti hidup di dunia berbeda. M di rumah induk, dan aku di pavilliun. 

Hari itu, mendung sejak pagi. Yang aku lakukan adalah meneruskan membaca buku Sitor. Agak susah paham juga. Karena memang dari awal, aku tidak terlalu paham puisi. Tetapi, bahasa Belanda-nya lumayan. Bisa, sambil memperdalam pengertian bahasa Belanda ini dan itu kalau di puisi. 

Perutku masih sangat sakit hari itu. Kepalaku juga masih sangat pusing, dan disorientasi. Hati masih mendung, semendung cuaca di luar. Matahari baru tampak cerah di sore hari. 

Sabtu
Retreat di hari ketiga. Akhirnya, sudah mulai melihat dunia luar. Pagi-pagi, pergi ke gym. Latihan sampai dengan jam 10. Lalu, terus berbelanja kecil di Superindo. Yah, boodschappen doen seperti biasanya. Membeli kebutuhan dapur dan kulkas. 

Seorang teman menelpon di sore hari, mengajak menonton New Moon. Aku sebenarnya tidak menolak. Tetapi, menolak untuk antri tiket. Kalau dia mau, dia yang mengantri tiket. Dan, dia tidak keberatan. Hari ini, aku lebih banyak membaca Unlikely Destinations. Bagaimana suka dan duka Tony dan Maureen Wheeler membangun The Lonely Planet, seluk beluk bisnis mereka, hubungan mereka dengan para penulis dan sebagainya. 

Akhirnya, si teman tidak dapat tiket. Dan, kebetulan, malam minggu hujan sangat deras. Sampai, jam 8 malam, aku baru sadar, kalau air mau masuk rumah. Akhirnya, tidur lebih awal, dan tidak sempat menyalakan laptop. Malam aku mimpi agak aneh. Entah, mimpi apa itu. Mungkin, pengaruh otak yang kacau.

Minggu
Hari Minggu, pagi dengan kepala yang cerah. Ada semacam satu insight baru. Jam 5 sudah bangun, tetapi ketiduran kembali. Jam 7 baru bangun 100 persen. Lalu, sarapan roti gandum yang rasanya kok menjadi agak aneh ya? Minum teh madu, dan berangkat ke gym lagi. Jam 12.30 baru cabut dari gym, dan terus berselancar ke dunia maya. Sampai jam 2. 

Dan, sekarang, sudah kembali ke dunia nyata. Duduk di sebuah warung kopi, menunggu teman. Seperti biasa, temanku yang satu ini selalu telat....

Entahlah, besok apa lagi yang terjadi dalam hidupku. Aku tidak tahu. Hanya, aku harus menghadapinya dengan berani. 



Friday, 13 November 2009

It Is Cloudy In Surabaya

Hari ini, Ahmad Yani mendung. Tetapi, belum tampak tanda-tanda langit akan memutahkan tangisnya.

Tadi pagi masih panas. Gerah. Bahkan, ketika bangun tidur gerah sudah tidak terelakkan. Hujan memang datang telat tahun ini.

Mengapa hujan selalu dirindukan?
Karena hujan membawa kesejukan.
Karena hujan membawa bau tanah.
Karena hujan membawa kesuburan tanah.

Mengapa hujan tidak diinginkan?
Karena hujan selalu membawa persaan gloomy dan sedih.
Karena hujan selalu kelabu.
Karena hujan, kadang membawa banjir.

Tapi, saat ini, aku mengingkan hujan.
Untuk membasuh habis kemarau panjang.
Untuk membasuh habis semua dosa-dosa.

Karena aku tetap tahu, dalam hujan selalu ada kesejukan.

Wednesday, 11 November 2009

Tales of Our Friendship

Last night, I went online. Coincidentally, Bebe and Tika were online too. Sudah lama aku tidak online dengan mereka berdua. Bebe sedang menapaki kehidupan sebagai pelajar di Essex University (UK). Selain itu, ada perbedaan waktu tujuh jam. Tika sibuk dengan virtual farming-nya. Sepertinya dia online, tetapi tidak pernah membalas kalau disapa. Akhirnya, kita mengobrol tentang banyak hal. Biasalah, cewek pasti bergosip. Tentang kehidupan baru Bebe di Essex, tentang kuliahnya, tentang teman-teman di flat dia. Dan, tentu saja tentang siapa yang keren di kampusnya. Juga tentang Surabaya, tentang Jakarta dan kehidupan pribadi kita masing-masing. Begitulah, akhirnya kami mengobrol beberapa lama. Bisa mengobati kerinduan kepada mereka. Terakhir kali kami bertiga berkumpul Agustus 2008. Ketika itu Bebe dan aku transit perjalanan kita ke Bangkok.

Delapan tahun yang lalu, aku mulai mengenal baik keduanya. Benecia Eriana Magno (Bebe) dan Kartika Candra (Tika). Mereka berdua bershio ayam dan aku bershio monyet. Artinya, aku yang tertua. Tika menjadi yang termuda, karena dia lahir di bulan Agustus dan Bebe lahir di bulan Januari.

Dari list banyak teman di dunia ini, mereka menempati list yang “paling yang dirindukan”.

Baiklah, aku mulai perjalanan dengan Bebe. Bebe adalah satu tahun lebih senior dibandingkan aku. Tetapi, dia lebih muda daripada aku. Pertemuanku dengan Bebe waktu itu di gazebo FISIP. Kalau tidak salah 2001. Ketika itu, dia baru saja kembali dari bangku kuliah paska referendum di Timor Leste. Dia memilih melanjutkan kuliahnya di Universitas Airlangga dibandingkan menjadi diplomat karier kala itu. Padahal, dia sudah terpilih dan siap-siap untuk ditempatkan. Bertahun kemudian, aku tanya alasan dia untuk memilih kembali ke Unair daripada menjadi diplomat, dan apakah dia tidak menyesal. Dia bilang tidak. Keinginannya waktu itu hanya melanjutkan kuliah. “Kalau aku tidak kembali ke kampus, aku kan tidak akan bertemu dengan Tika dan kamu”. Kita mulai dekat ketika dia memberiku tais. Yaitu, selendang khas Timor Leste. Setelah itu, kita menjadi sering ngobrol dan ternyata kita tertarik dengan hal yang sama, sastra. Begitulah, akhirnya kita menjadi dekat.

Sekarang dengan Tika. Kalau Bebe adalah kakak kelasku, Tika adalah adik kelasku. Kita mulai dekat pada 2002. Waktu itu, dia dan dua orang temannya sedang mempersiapkan makalah untuk dibawa ke pertemuan nasional. Seorang teman dan aku mereview tulisan mereka. Tapi sering aku coret disana dan disini plus omelan dari aku. Sok banget waktu itu, hehehe. Akhirnya, kita menjadi dekat juga, karena kita juga sama-sama tertarik dengan sastra! Tika punya catatan tersendiri bagaimana dia dekat dengan Bebe. Ketika kita mulai dekat itu, aku sudah agak jarang ke kampus. Lebih banyak diam di rumah dan mengerjakan skripsi, hehe.

Tapi, beberapa hal kemudian menyatukan kami. Sastra dan absurditas. Oh, betapa kami suka bekhayal (sampai sekarang ternyata masih suka ngayal juga). Kalau suatu sore kami minum teh dicampur madu, dan makan cookies buatan Mama Bebe, kita berpura-pura sedang ada di sebuah apartemen di Paris, dan memandang Sungai Seine. Sambil memandang Gereja Norte Dame. Kenapa Paris? Waktu itu, kita adalah pengagum Sarte dan Foucault… hahaha.

Kami bertiga, suka mengobrol masalah sastra, buku, politik, budaya, musik, dan tentu saja tentang lelaki. Ketika kami tidak terlalu bokek, kami paling suka makan sate dan gulai kambing di sebelah Apotik Kimia Farma di Jalan Darmawangsa. Sate dan gulai disana paling enak. Setelah makan sate dan gule, biasanya kami langsung kepanasan dan berkeringat.

Selama saling mengenal ini, kami mulai mengenal sifat masing-masing. Sifat yang baik atau yang buruk. Mereka berdua, sangat santai dalam segala hal. Sementara aku sering dianggap “serius” dan teratur. Pernah dalam suatu masa, kami janjian untuk nonton pertunjukan teater atau film, aku sudah lupa. Kami sepakat ketemu di kampus jam 18.30 di gazebo FISIP. Aku tunggu sampai dengan jam 19.00 mereka berdua belum muncul. Akhirnya, aku meninggalkan tempat itu, dengan ngamuk. Dalam perjalanan pulang, aku menemukan mereka sedang ngobrol dengan beberapa orang di warung kopi. Langsung saja, aku pilih ngacir dan tidak jadi nonton teater malam itu. Hehehe. Intinya, aku ngamuk. Mereka berdua kebingungan. Kalau dipikir-pikir, aku memang orang yang ngamukan. Semua kadang minta presisi dan tepat waktu, hehe. Seperti hidupku yang sangat teratur.

Tidak selamanya hubungan kami baik-baik saja. Sering kami berselisih paham dan “sedikit duel” seperti adegan terakhir Bebe dengan aku perkara “celana pendek” dan “hooker” di Pattaya. Semuanya berakhir juga dengan baik. Karena kita, mengatakan dengan apa adanya. Tidak perlu jaim. Karena itulah, kita bisa mengenal dengan lebih baik.

Kami juga sering tidak setuju dengan pilihan-pilihan hidup Tika. Atau beberapa keputusan Bebe. Atau kekeraskepalaanku dalam beberapa hal. Tapi, kita menghargai keputusan masing-masing orang. Kita hanya sahabat. Yang berusaha untuk saling mengingatkan. Pasti ada ketika kita saling dibutuhkan. Kami juga tidak berkomunikasi dengan intens. Tidak setiap hari harus kotak mereka dan mengetahui mereka sedang melakukan apa. Bagi kami, yang terpenting, kami selalu ada satu sama lain. Bisa saling melengkapi. Lalu, kita kembali pada kehidupan masing-masing. Bebe dengan kehidupan barunya di Essex. Tika bergulat dengan Jakarta. Dan aku, yang sudah mulai bosan dengan pelukan Surabaya.

PS: posting ke-100

Tuesday, 10 November 2009

Tragedi Moslem Meal

Barangkali, karena katrok dan tidak pernah mengalami long flight ke negara-nya Obama, tanda MML di tiket pulang NWA aku acuhkan. Aku, dan beberapa temanku tidak care saja dengan notice itu. Tragedi datang ketika makan sore kita, dari Detroit (USA) ke Narita (Jepang). Dalam perjalanan pulang ini, aku mendapatkan makanan terlebih dahulu. Heran. Tumben cepat. Biasanya, agak lama baru diberikan.

Yang ada di depan mejaku adalah makanan dibungkus dalam aluminium foil. Di dalamnya, aku buka, berisi dal! Itu, makanan India yang berasal dari kacang hijau, yang dimasak dengan bumbu semacam kari. Terus, ditambah dengan sayuran. Menurutku, seperti bayam yang dimasak sangat nyunyut. Ditambah dengan kentang rebus. What the hell is this? Karena hanya itu yang diberikan, akhirnya, aku makan saja hidangan itu. Tidak lama kemudian, cewek Jepang di sebelah kiriku dan bule botak di sebelah kananku mendapakan makanan. Mereka bisa memilih diantara beberapa menu. Beef, or chicken. Mereka lalu makan beef, chicken dan omlette dengan nikmatnya. Aku harus berjuang keras untuk menghabiskan makanan vegetarianku!

Ketika tiba saat mengudap, yang datang di hadapanku adalah beberapa biji wortel dan anggur. Duuhh....Seperti kelinci, aku makanan kudapan "sehat" itu. Dua orang di sebelahku, mendapatkan burger. Dan, mereka makan dengan nikmatnya. kraus...kraus..kraus...

Ketika makan besar kedua, masih pula kami mendapatkan moslem meal. Aku sudah lupa apa saja menunya. Tetapi, tidak jauh-jauh berbeda dengan yang pertama. Masakan rasa kari.... Dengan kentang, kacang hijau, sayuran nyunyut dan roti. Duh, I lost my appetite. Sementara baru omlette masuk ke dalam hidungku. Benar-benar menggoda selera makanku. Oh, I love omlette.

Makan kudapan tahap dua, juga tidak banyak bedanya. Buah...buah..buah..dan kraus-kraus seperti kelinci dan sapi.

Ketika kami ganti pesawat dari Narita ke Bangkok, orang-orang yang mengalami nasib sama sekitar 15 orang. Kami semua protes. Dan, mulailah kami paham apa yang dimaksud dengan MML (Moeslem Meal). Makanan muslim. Makanan yang halal dan non daging. Itulah yang dipahami oleh perusahaan penerbangan luar negeri. Jadi, posisi kita disamakan dengan para vegan. Anehnya, ketika penerbangan pergi ke USA, kami mendapatkan menu biasa.

Akhirnya, kami menjelaskan kepada mas pramugara yang cuakeppppp kalau makanan orang muslim itu berbeda dengan makanan vegetarian. Orang muslim, itu bisa makan ayam, daging, telur atau ikan. Kita hanya tidak diperkenankan makan babi saja. Dan, kita mohon untuk "dibebaskan" dari makan makanan para vegetarian. Karena jujur, kita tersiksa dan tidak bisa menikmati makan, hahaha.

Akhirnya, selesai sudah tragedi moeslem meal tadi. Kita mendapatkan makanan yang sangat lezat, berupa salmon! Dan, seterusnya, sampai Jakarta... Nikmatnya...

Looking for The First House Hotel

When we arrived at Suvarnabhumi Airport, we did not know where to stay. We were still arguing. Emmy suggested in First House Hotel in Petchburi Road, where her uncle used to stay during his business trip to Bangkok. But, she had no idea where that place is. Only, one key word. Near the Indonesian Embassy. That's all. So we decided to have lunch. We were starving. The argument was still continuing. Due to this argument, it was to us to decide to take vehicle to the downtown. Finally, we decided to stay in First House Hotel.

The bus Number 12 brought us to the city. Left us in Ding Daeng bus halte. We still had no idea how to get to Petchburi Road. We met few people who can speak English, or at least able to show us direction. Fortunately, we me a guy, who would like to take bus to Pratunam. This place is near Petchburi Road. Here we goes.

Down from the bus, we still looked for the "Petchburi Road" We found it. But nobody knew where that HOTEL. So, we decided to get hotel in Pratunam District. Perhaps, this area is like Tanah Abang in Jakarta or Pasar Turi (now PGS) in Surabaya. People are coming here to buy some clothes. Clothes and other textile products are inexpensive. One that drove me to find hotel in this area was The Bayoke Sky Hotel. Emmy told us that the rate of this hotel is affordable. But, when we tried to check in Guest Information, that the rate reached THB 4.000! So it's around Rp. 1,2 million. Wow. We could not afford it. Emmy and I decided to find other hotels and left Bebe in Bayoke Sky Lobby to watch our belongings, hehehe. Bebe complained but we did not listen. :D

We went to several hotels, including Bayoke Boutique (I guess, this hotel that Emmy meant. The cheap one Bayoke...). Finally, we decided to stay in Khuranna Inn. We paid for THB 1.800 for three persons. Actually, they offered us THB 2.000. But Emmy did good job. She bargained!. The room was spacious, with 24 inch flat TV, and shower of cold and hot water. And yes, one more thing, two doors refigerator! This hotel was just renovated. We could smelled the paints.

We love our room. But, we were still curiuos with First House Hotel. Emmy search through the internet, and we found it. THB 1.500 per night for two persons. Emmy booked through her VISA. And, the next day, we looked for this place.

There is another hotel named First Hotel in Petchburi Road. Just crossed the road of KBRI (Indonesian Embassy). We thought, that here's the hotel! We were in, and asked a girl in Information Desk. We told her that we had booked the room, for THB 1.500 per night. She told us, it is impossible to release via website about the room rate. The actual rate was THB 4.000, just the same as Bayoke Sky Hotel. So, it's other hotel, she told me.

We kept looking that First House Hotel. Because we have booked it, and Emmy has paid with her VISA. Finally, we found this hotel, is such small road, or in Indonesia we call it "Gang". Yeah, Soi in Thai means Gang in Indonesia. The hotel was actually small and cute. But, it was an old one. We went to the room. We found that the rug is a little bit smelly due to lack of ventilation.

Emmy asked "are you guys, sure want to move to this hotel? The THB 1.500 is for two persons? But, in our hotel -Khuranna Inn-, THB 1.800 is for 3 persons, plus breakfast" We were discouraged. And, we decided to stay in our Khuranna and lost those THB 5.00 for internet booking. Hahahaha. But, at least we found it. That First House Hotel.

Endorfin and Cafein

Today, I start my day with two "ins", endorfin and cafein. I got endorfin from my morning training and got my cafein from my coffee. Aren't they perfect combination? UI hope they can support me through the bored and dull day. *crossing fingers*