Monday, 2 August 2010
Night @ Surabaya
Acara sudah besok lusa. Tapi, entahlah... tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang sangat ramai dan meriah, tahun ini mendadak menjadi agak adem. Setiap tahunnya, kita bagaikan Sisiphus, yang menaikkan batu ke atas gunung, lalu kemudian didorong lagi turun dari gunung. Besoknya, ketika matahari terbit, dia akan mengulangi hal yang sama.
Tidakkah kita berpikir, bahwa pada umumnya manusia adalah Sisiphus. Mereka selalu melakukan hal yang sama setiap harinya. Kadangkala juga mengulangi kesalahan yang sama. Manusia yang tidak pernah belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada. Kadang, memang seperti itu.
Saat-saat malam, dan mengetik di kantor, mungkin akan menjadi hal yang sangat aku rindukan. Bekerja di "jam-jam aneh", kadangkala juga sangat menyenangkan. Keindahan kota ini sebenarnya akan bisa dinikmati hanya pada malam hari. Kota ini berubah sebagaimana layaknya kota kunang-kunang. Kota yang sangat indah...
10 tahun hidup dan besar di kota ini menjadi hal yang sangat menyenangkan. Yah, sebagai kota besar, kota ini tidak terlalu mengecewakan. Aku akan pasti merindukan Surabaya. Semuanya yang ada di kota ini. Makanannya, tempat-tempat yang biasa disinggahi, teman-temanku, dan semuanya deh.. bahkan sedikit kemacetannya.
Sunday, 29 November 2009
My Retreat
Friday, 13 November 2009
It Is Cloudy In Surabaya
Tadi pagi masih panas. Gerah. Bahkan, ketika bangun tidur gerah sudah tidak terelakkan. Hujan memang datang telat tahun ini.
Mengapa hujan selalu dirindukan?
Karena hujan membawa kesejukan.
Karena hujan membawa bau tanah.
Karena hujan membawa kesuburan tanah.
Mengapa hujan tidak diinginkan?
Karena hujan selalu membawa persaan gloomy dan sedih.
Karena hujan selalu kelabu.
Karena hujan, kadang membawa banjir.
Tapi, saat ini, aku mengingkan hujan.
Untuk membasuh habis kemarau panjang.
Untuk membasuh habis semua dosa-dosa.
Karena aku tetap tahu, dalam hujan selalu ada kesejukan.
Wednesday, 11 November 2009
Tales of Our Friendship
Last night, I went online. Coincidentally, Bebe and Tika were online too. Sudah lama aku tidak online dengan mereka berdua. Bebe sedang menapaki kehidupan sebagai pelajar di Essex University (UK). Selain itu, ada perbedaan waktu tujuh jam. Tika sibuk dengan virtual farming-nya. Sepertinya dia online, tetapi tidak pernah membalas kalau disapa. Akhirnya, kita mengobrol tentang banyak hal. Biasalah, cewek pasti bergosip. Tentang kehidupan baru Bebe di Essex, tentang kuliahnya, tentang teman-teman di flat dia. Dan, tentu saja tentang siapa yang keren di kampusnya. Juga tentang
Delapan tahun yang lalu, aku mulai mengenal baik keduanya. Benecia Eriana Magno (Bebe) dan Kartika Candra (Tika). Mereka berdua bershio ayam dan aku bershio monyet. Artinya, aku yang tertua. Tika menjadi yang termuda, karena dia lahir di bulan Agustus dan Bebe lahir di bulan Januari.
Dari list banyak teman di dunia ini, mereka menempati list yang “paling yang dirindukan”.
Baiklah, aku mulai perjalanan dengan Bebe. Bebe adalah satu tahun lebih senior dibandingkan aku. Tetapi, dia lebih muda daripada aku. Pertemuanku dengan Bebe waktu itu di gazebo FISIP. Kalau tidak salah 2001. Ketika itu, dia baru saja kembali dari bangku kuliah paska referendum di Timor Leste. Dia memilih melanjutkan kuliahnya di Universitas Airlangga dibandingkan menjadi diplomat karier kala itu. Padahal, dia sudah terpilih dan siap-siap untuk ditempatkan. Bertahun kemudian, aku tanya alasan dia untuk memilih kembali ke Unair daripada menjadi diplomat, dan apakah dia tidak menyesal. Dia bilang tidak. Keinginannya waktu itu hanya melanjutkan kuliah. “Kalau aku tidak kembali ke kampus, aku
Sekarang dengan Tika. Kalau Bebe adalah kakak kelasku, Tika adalah adik kelasku. Kita mulai dekat pada 2002. Waktu itu, dia dan dua orang temannya sedang mempersiapkan makalah untuk dibawa ke pertemuan nasional. Seorang teman dan aku mereview tulisan mereka. Tapi sering aku coret disana dan disini plus omelan dari aku. Sok banget waktu itu, hehehe. Akhirnya, kita menjadi dekat juga, karena kita juga sama-sama tertarik dengan sastra! Tika punya catatan tersendiri bagaimana dia dekat dengan Bebe. Ketika kita mulai dekat itu, aku sudah agak jarang ke kampus. Lebih banyak diam di rumah dan mengerjakan skripsi, hehe.
Tapi, beberapa hal kemudian menyatukan kami. Sastra dan absurditas. Oh, betapa kami suka bekhayal (sampai sekarang ternyata masih suka ngayal juga). Kalau suatu sore kami minum teh dicampur madu, dan makan cookies buatan Mama Bebe, kita berpura-pura sedang ada di sebuah apartemen di Paris, dan memandang Sungai Seine. Sambil memandang Gereja Norte Dame. Kenapa Paris? Waktu itu, kita adalah pengagum Sarte dan Foucault… hahaha.
Kami bertiga, suka mengobrol masalah sastra, buku, politik, budaya, musik, dan tentu saja tentang lelaki. Ketika kami tidak terlalu bokek, kami paling suka makan sate dan gulai kambing di sebelah Apotik Kimia Farma di Jalan Darmawangsa. Sate dan gulai disana paling enak. Setelah makan sate dan gule, biasanya kami langsung kepanasan dan berkeringat.
Selama saling mengenal ini, kami mulai mengenal sifat masing-masing. Sifat yang baik atau yang buruk. Mereka berdua, sangat santai dalam segala hal. Sementara aku sering dianggap “serius” dan teratur. Pernah dalam suatu masa, kami janjian untuk nonton pertunjukan teater atau film, aku sudah lupa. Kami sepakat ketemu di kampus jam 18.30 di gazebo FISIP. Aku tunggu sampai dengan jam 19.00 mereka berdua belum muncul. Akhirnya, aku meninggalkan tempat itu, dengan ngamuk. Dalam perjalanan pulang, aku menemukan mereka sedang ngobrol dengan beberapa orang di warung kopi. Langsung saja, aku pilih ngacir dan tidak jadi nonton teater malam itu. Hehehe. Intinya, aku ngamuk. Mereka berdua kebingungan. Kalau dipikir-pikir, aku memang orang yang ngamukan. Semua kadang minta presisi dan tepat waktu, hehe. Seperti hidupku yang sangat teratur.
Tidak selamanya hubungan kami baik-baik saja. Sering kami berselisih paham dan “sedikit duel” seperti adegan terakhir Bebe dengan aku perkara “celana pendek” dan “hooker” di Pattaya. Semuanya berakhir juga dengan baik. Karena kita, mengatakan dengan apa adanya. Tidak perlu jaim. Karena itulah, kita bisa mengenal dengan lebih baik.
Kami juga sering tidak setuju dengan pilihan-pilihan hidup Tika. Atau beberapa keputusan Bebe. Atau kekeraskepalaanku dalam beberapa hal. Tapi, kita menghargai keputusan masing-masing orang. Kita hanya sahabat. Yang berusaha untuk saling mengingatkan. Pasti ada ketika kita saling dibutuhkan. Kami juga tidak berkomunikasi dengan intens. Tidak setiap hari harus kotak mereka dan mengetahui mereka sedang melakukan apa. Bagi kami, yang terpenting, kami selalu ada satu sama lain. Bisa saling melengkapi. Lalu, kita kembali pada kehidupan masing-masing. Bebe dengan kehidupan barunya di Essex. Tika bergulat dengan
PS: posting ke-100
Tuesday, 10 November 2009
Endorfin and Cafein
Friday, 30 October 2009
"Aku Suka Tulisan-Tulisan Sampah Ini"
Aku tidak tahu, sejak kapan aku suka menulis. Sejak SD, mungkin. Aku suka saja coret-coret di buku tulis. Entah itu puisi, atau cerita-cerita pendek. Ketika SMP, aku juga suka nulis cerita-cerita pendek di buku tulis atau di potongan-potongan kertas kecil. Teman satu bangkuku, Nur, selalu saja menjadi pembaca cerita-cerita pendekku. Waktu SMA juga masih menulis. Bahkan, satu tulisan dimuat dalam majalah sekolah yang hanya terbit satu kali itu. Judulnya waktu itu, Sepatu Kaca.
Waktu kuliah, sudah jarang menuliskan cerpen. Yang ditulis catatan harian. Selama kuliah, aku ada beberapa catatan harian. Isinya ya curhat, ya pemikiran, ya hasil kontemplasi. Baru-baru di akhir masa-masa kuliah mulai menulis kembali cerpen. Bahkan mulai mengembangkan ide untuk menulis novel! Wuuu...sampai sekarang, 5 thaun kemudian, novel itu tidak jadi-jadi, hehehe. Ngendon saja di komputer kantor. Catatan harian juga masih nulis, tetapi saat ini lebih banyak dengan update blog. Kadang note di facebook.
Aku kemudian menjadi terjebak dengan tulisan-tulisan serius. Tentang good governance, tentang local initatives, tentang regulasi, etc..etc. Tulisan-tulisan yang sangat high politics dan sangat erat dengan kebijakan pemerintah. Aku tidak terlalu menyukainya. Jujur saja. Hanya satu yang aku sukai, tentang local initiatives. Karena aku selalu saja terinspirasi dengan tokoh-tokoh yang aku temui di jalan. Seperti misalnya Inaq Rum, Pram, etc..etc.
Jauh di dalam lubuk hatiku, aku kurang suka dengan tulisan-tulisan serius ini. Bukan diriku dehhh.... Aku tidak bisa ngocol. Seorang teman berseru, "Enak dong menulis di kolom..." si teman membayangkan aku menulis di sebuah kolom kontemplasi yang bisa dibuat humor-humor macam Umar Kayyam itu. Setelah aku bilang, kolom apa, dia hanya ngakak jaya. Ampun deh....
Ya ampun deh, ini pengakuan sebenarnya. After years, I have been trying to love writings those serious articles. But I can't. It's not meeeeee.... I know myself well. Writing is my life. Writing could bring joy in me. Till I'm old, I'll keep on writing...
Note: Jadi tertarik untuk belajar Creative Writing.
Thursday, 29 October 2009
If LIfe is A Journey
Aku tidak tahu harus memulai darimana. Berbagai kejadian akhir-akhir ini seakan menuntunku untuk membuat sebuah keputusan berani. Aku memang telah membuat keputusan itu. Oh no, bukan karena sebuah krisis ini aku menjadi orang yang sangat frustasi. Sebaliknya, aku sekarang telah menjadi orang yang benar-benar tahu apa yang aku mau. Aku memang harus berubah. Senyampang aku masih diberi kesempatan untuk membuat perubahan. Dan, aku mampu untuk melakukannya. Aku sudah benar-benar tahu apa yang aku mau.
Kalau hal ini ditanyakan kepadaku 5 atau 6 bulan lalu. Aku pasti tidak bisa menjawabnya. Aku masih keukeuh berpegang dengan Plan A hidupku. Plan A yang gagal terwujud saat itu. Aku memang kecewa dengan tidak berjalannya si Plan A itu. Tapi, tidak apa-apa, mungkin itu bukan jalan terbaik buatku. Jalan yang semakin membuat aku jauh dari Personal Legend-ku.
Tiba-tiba saja tadi pagi, aku ingat orang-orang yang menjalani perjalanan-perjalanan pribadi. Atau kita sebut saja dengan perjalanan-perjalanan ritual. Misalnya saja Paulo Coelho. Dia "disarankan" menelusuri jejak pilgrim rute Medieval yang dikenal dengan nama Road to Santiago. Selama perjalanan ini, dia mengalami banyak perjalanan spiritual. Hasil road to Santiago ini dia kisahkan dalam The Pilgrimage dan The Alchemist.
Terus kemudian, yang baru-baru ini aku kenal adalah Elizabeth Gilbert. Lewat bukunya Eat Love Pray, dia pergi ke Italy, India dan Indonesia untuk perjalanan spiritual dia. Dia melakukan ini semua karena hidupnya sedang dalam krisis yang amat sangat. Dia sangat depresi dengan perceraian dia dan permasalahan dengan pacar dia bernama, David.
Banyak orang yang menemukan dirinya setelah terdera krisis. Dengan krisis, orang mau tidak mau harus berubah. Karena zona nyaman nya telah diporak porandakan oleh banyak hal. Atau, orang yang telah berpikir zona nyamannya kini tidak lagi nyaman, dan memang saatnya untuk membuat perubahan.
Aku, kini tidak lagi takut akan sebuah perubahan. Berubah aku membuatku tetap hidup. Karena perjalanan pada dasarnya adalah perubahan.
Wednesday, 28 October 2009
Jadi, Berapa Kenalan Anda?
Aku sendiri tidak tahu berapa kenalanku. Pernah pada satu ketika, aku mencoba menghitung berapa jumlah kenalanku, dan bagaimana aku bertemu atau berkenalan dengan mereka. Menginjak orang beberapa puluh saja, aku sudah pusingg. Apalagi sampai sejarah perkenalan dengan orang itu, dan bagaimana kita selalu menjaga komunikasi. Artinya, kita saling meng-upate kisah masing-masing.
Ah, susah kan? Ya memang susah. Lebih baik, tidak usah menghitung berapa jumlah orang yang kita kenal selama hidup. Bagaimana kalau dia presiden? Bagaimana kalau dia menteri? Bagaimana kalau dia dosen atau guru? Bagaimana kalau dia adalah travel guide? Bagaimana kalau dia adalah seorang wartawan? Bagaimana kalau dia adalah seorang pedagang? Tentu saja, setiap orang punya kisah yang menarik dengan kenalan-kenalan itu. Dengan para kenalan-kenalan ini, kita bisa berteman.
Monday, 26 October 2009
Kampung di Seberang Sungai
Nah, kembali ke kampung seberang sungai itu. Kampungku dan kampung seberang sungai itu, dulunya dihubungkan dengan sebuah jembatan bambu kecil di depan rumahku. Atau perahu kecil yang terbuat dari tumpukan drum (tong). Jembatan bambu ini tidak bertahan lama, dan diganti dengan jembatan dari besi yang dicat warna merah. Jembatan yang baru itu, agak jauh dari rumahku.
Dari pinggir sungai, tampak rumah-rumah di kampung seberang itu kecil-kecil sekali. Hanya nampak samar-samar saja. Yang paling jelas itu, rumah dari Pak Lurah Siis. Karena rumah itu paling besar. Bahkan balai kelurahan, dan sekolah yang terletak di sebelahnya juga tampak kecil. Tidak kelihatan tulisan-tulisan yang ada di kampung seberang sungai. Hubungan orang-orang di kampungku dan kampung seberang sungai itu jarang dilaksanakan. Orang-orang kampungku, menganggap kampung seberang sungai orang-orangnya lebih egois, karena memang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kota (Tulungagung). Ini bisa dilihat, apalagi ada orang meninggal dunia. Yang melayat sedikit sekali. Beda dengan kampungku,yang sampai antri dan melimpah ke jalanan.
Dengan bergulirnya waktu, kampung di seberang sungai itu, tidak lagi tampak kecil. Tidak perlu pergi ke pinggir sungai, dari teras rumah ibuku saja, sudah bisa melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang yang di kampung seberang sungai itu. Tulisan SDN Kedungsoko I, Balai Kelurahan ataupun kantor Babinsa tampak dengan jelas. Kampungku dan kampung seberang sungai, tidak lagi berbatas. Tipis sekali.
Kenapa bisa tampak lebih dekat? Atau memang dari dulu sebenarnya suhda dekat? Hanya dulu, aku melihat dari kacamata seorang anak-anak. Atau, memang dunia sudah benar-benar menyempit (shrinking). Seperti globalisasi yang telah menjadikan dunia sempit dan mengkerut dalam sebuah frame. Ketika kita connect dengan internet, dunia kita menjadi tanpa batas. Hanya dengan mengetik www. Oh, betapa ampunya tiga huruf ini.
Wednesday, 19 August 2009
How to Start a Day
Begitu datang, langsung menyalakan laptop, dan mencari koneksi ke wireless. Tapi, sudah dua hari ini agak susah konek ke wifi dari laptop. Entah, apa yang terjadi dengan laptopku. Sepertinya, dia agak remuk. Yah, laptopku juga membutuhkan diri untuk istirahat. Hasilnya, aku harus mengetik ke Bangku Kosong. Alias meja yang tidak ada penghuninya. Meja yang kalau diduduki penghuninya tidak akan tahan lama.
Hari ini, beberapa hal harus dibereskan. Seperti, jadwal ke Wakatobi minggu depan dan jadwal rekaman untuk pembuatan iklan. Semuanya harus beres dalam minggu ini. Jadwal ke kabupaten kepulauan itu sudah beres. Dari Kendari ke Wakatobi, aku sudah minta tolong Pak Ruslan untuk pesankan tiket Susi Air. Dari Surabaya, masih belum tahu.
Setiap pagi, memang harus dimulai. Dengan apapun. Dalam beberapa hari ini, kopi telah memulainya. Kopi bisa lebih menenangkan aku. Sampai detik ini, aku masih harus duduk dan diam sebentar untuk mengumpulkan kembali energi-energiku yang telah habis. Jujur, setahun belakangan ini, aku telah menghabiskan semua energi yang aku miliki, untuk tujuan itu.
Aku tidak menyesal, karena semua tidak seperti yang telah aku rencanakan dengan baik dan matang. Aku, hanya saja merasa sangat capek. Capek sekali.
Aku hanya butuh beberapa saat untuk diam. Sebelum, aku membuat kembali lompatan jauh ke depan. Ya, aku tahu, kalau hidupku tidak akan berhenti disini.
Aku hanya tahu, pagi ini aku memulainya dengan secangkir kopi. Membiarkan cairan berwarna hitam itu mengaliri tenggorakanku yang kering. Bercampur dengan ludahku, dan kemudian masuk ke dalam sistem pencernaan. Tidak seberapa lama, kafein akan mengalir ke otakku. Dan, membiarkan semua yang ada di dalam otakku tertuang dalam tuts-tuts keyboard komputer. Aku tidak tahu, apa yang akan keluar itu. Aku hanya ingin menulis saja. Aku tahu, menulis akan membuatku menjadi lebih baik.
Sama seperti melukis. Sayangnya, aku tidak bisa melukis. Aku hanya bisa menulis. Itupun, bukan sebuah tulisan yang bagus. Hanya sebuah kalimat demi kalimat yang popped di dalam otakku. Seringkali, ide-ide yang tidak elit, hehehe. Aku hanya tahu, kopi bisa menjadi endorfin. Yang membuat merasa senang dan gembira.
Aku, hanya tahu itu. Sudah. Cukup.
Sebentar lagi, aku ingin kembali merangkai semuanya. Semua mimpi itu. Karena aku hanya tahu, orang-orang sepertiku, hanya karena mimpi-lah tetap bisa hidup dan bertahan.
Well, I think I have gotta back to work. I have to make some scenario on my documentary film, as well as the story line.
Saturday, 15 August 2009
No Tittle-2
Suddenly, I wanted to cry. I really need thing to grip. Last night, I dreamed that I cried. But, indeed. I cried. I did not know why I cried. I'm fine. I just need strength to set up again my way. To find a new map. I need the direction. I've just lost my old one...
Friday, 14 August 2009
No Tittle
For the last five years, I have been with the same job. My work is great. I enjoy it, indeed. But, sometimes, I feel that I'm in the wrong place. For somebody who knows me better, does not believe that I'm dealing with that such issues in my work. I enjoy it since I travel to many places, I meet new people and I do learn from them. I have many wonderful experiences. I earn enough to support my personal life.
But then, I realize that I'm still in the same point. I feel like Santiago, the shepherd, who found that his life had been so perfect. He'd been around Spain with his sheep. Then, he dreamed about finding treasure in Egypt. The, the adventure began. He sold his sheep and went to Egypt. Even though, he did not know anything about Egypt, and how far it is from Spain. The future is unsure, if I can say. But, he was not afraid. He just believed in his dream.
This time, I have to be like Santiago. I have to sell all my sheep. And, catch all my dreams. I know, the future is uncertain.
As an epilog, I remember the last scene in Devil Wears Prada, when Andy threw her cell-phone and left her boss in Paris.
Saturday, 1 August 2009
Ketakutan
Ketika di Washington DC tahun lalu, saya mengalami satu ketakutan yang sangat hebat dengan eskalator stasiun Metro Dupont Circle. Menggunakan subway merupakan satu alternatif tercepat untuk mencapai tempat kursus di Reagan Building di Pennsylvania Avenue. Tapi, begitu aku sampai pada eskalator masuk stasiun, jantung saya mau copot. Tinggi sekali eskaltornya, dengan kecuraman sekitar 45 derajat. Belum lagi, di stasiunnya semacam masuk ke dalam sebuah terowongan. Hari itu, udara menunjukkan minus 8 derajat Celcius. Jadi, bisa dibayangkan ketika hawa dingin bercampur dengan ketakutan.
Saya takut sekali. Menggigil. Antara dingin dan ketakutan. Ingin saya mencari jalan lain. Belum lagi, suara eskalator yang berdecit-decit. Menunjukkan kalau eskalator itu usianya mungkin lebih tua dari aku. Ada bau sedikit gosong juga dari karetnya. Herannya, bule-bule itu justru berlarian turun dan naik.
Sesampainya di bawah, saya pucat luar biasa. Bahkan, untuk hanya membeli karcis (stippen kaart) saja tidak mampu. Energiku rasanya habis.
Ketika lunch break, saya ditanya Pak Dion.
"Kamu kenapa takut disana tadi? Apa yang membuatmu takut?"
"Tidak tahu Pak. Hanya takut saja."
"Kenapa harus takut, kalaupun kamu jatuh, di bawahmu masih ada orang. Mereka akan menangkapmu. Tidak, kamu tidak akan langsung jatuh ke bawah. Coba bayangkan, kalau kamu di laut. Kamu akan sendirian disana. Kamu harus mempertahankan dirimu sendiri" lanjut Pak Dion yang dulunya seorang pelaut. Dan, benar kata dia. "Besok, kamu bareng sama saya"
Beberapa hari berikutnya, saya ikut dengan Pak Dion. Berusaha untuk mengatasi ketakutan-ketakutan saya. Hari demi hari. Dan, I made it! Dalam dua hari terakhir di DC, saya berhasil melewati eskalator itu tanpa rasa takut sekalipun.
Mates, saya pikir, ketakutan itu wajar ada dalam diri manusia. Karena ketakutan itu pula, manusia dibedakan dirinya dengan makhluk lainnya. Sehingga, manusia berusaha dan belajar untuk mengatasi ketakutan-ketakutannya. Ketika kita masih memiliki ketakutan, kita menjadi orang yang tidak akan pernah maju. Senantiasa terkurung dalam dunia sempit yang bernama ketakutan.
Dan, saya adalah orang yang sedang belajar untuk mengatasi semua ketakutan.
Wednesday, 29 July 2009
Karena Hidup Bukan Matematika
Ketika pada suatu ketika, aku pernah mengungkap pada Bebe kalau aku ketakutan tentang masa depan, dia dengan santai menjawab "Kamu tidak usaha mengkuatirkan masa depan, Emon..." Waktu aku share hal itu ke Tika, dia kurang sepaham dengan Bebe. Akan tetapi, ketika tadi malam aku mulai resah dan gelisah, aku curhat ke Tika via YM tentang perlunya plan B dalam hidupku, Tika bilang, "barangkali Bebe benar. Kita tidak perlu mengkhawatirkan masa depan" Tadi malam, Tika sangat bijaksana sekali. Dia juga bilang begini, "Don't expect too much on the end result.." She was very right.
Aku memang tidak perlu kuatir apapun dengan hidupku. Hidup memang selalu tidak pasti, tapi itulah yang membuat hidup selalu menarik. Dan, memacu adrenalin kita. Aku harus segala siap dengan hidup, seperti apapun rupanya nanti. Tapi, aku harus tetap optimis, aku bisa menjalaninya dengan baik. Dan, yang terpenting, aku harus tetap punya mimpi. Karena, mimpi itulah yang membuat orang sepertiku tetap hidup. Aku tidak punya apa-apa, selain MIMPI.
Wednesday, 22 July 2009
No Subject
My life becomes such a mess, lately. The mess is undefined. I don't know it. But, I can feel it. Very clear. I'm very bored with all life here. I wanna really throw my life into spaces, so I can fly like a kite. I just wanna travel far away from where I'm now. Maybe to a place like Madagascar. Yeah, I read some travel stories lately. I know what my passions are.
I do remember the Jhumpa Lahiri's novels. Either "The Third and Last Continent" or "The Namesake" They describe the life of people live in other countries. They have to struggle their native identity, and the identity of the host country. In Jhumpa's stories, Indian culture versus American culture. The first generation, still keep their native identity, but the second and third leave their father's and mother's identity.
Wednesday, 10 September 2008
Change Never Changes

My ideas always change. A few months ago, I told my friend Tika.
"Hei, I wanna get scholarship, and I know how to get it. I'm working hard on it now" That's what I told her confidently. She agreed with me, and she'd like to take the same way. She has the same dream with me: get scholarship and get away from work for a while.
Now, I think, I've changed my ideas. I'm a little bit discouraged. It's all back to my old dreams. I wanna be traveler and writer instead of post graduate student. I wanna real school. Life itself. Being traveler which means always travels from one place to others, gotta know what local people do, learn their cultural and languages, are what I always want to do since decades ago.
I have two dreams, actually. Traveler and Writer. It means that I want to write places that I have visited.
*****
Lucky me. For the last few days, I read Avgustin's backpacking experiences through Middle Asia and Tibet. They become voices in my head, to push me move forward.
Citing to two Paulo Coelho's works, The Alchemist and The Fifth Mountain,about how everyone can fulfill his/her personal legend. It's the main idea of these two books. Even though in The Alchemist, focuses on when you have dream, the universe would work to help you (how we dare to catch our dreams). While in Fifth Mountain, everyone has been destinied to be SOMETHING. Sometimes, we deny it by being something else. At the beginning, we're very sure about our being. Later, we find, that is not what we should be.
Coelho has experienced it himself.
Since he had been a little boy, he would like to be a writer. Instead of being writer, he worked as composer in record company. He was at his peak of career when his boss fired him all of sudden. He became jobless, then. Good side of this event was, he remembered his dream: BEING WRITER.
What happens to me?
I become researcher instead of traveler and writer. Off course I write. Off course I travel (to do some researches). But the different is, my work is quite "serious work" And me? Such kind of not serious person who does not like serious matters such as politics. But, my work has close relation with politics such as local politics, local government policies, as well as I criticize national government policies. The truth is, I'd prefer to write movies or books reviews, traveling or life. They're more fun!
But, I do thanking God for what I get. And never stop to find my personal legend. Maybe I will. Someday. Who knows.
PS. I envy my best friend, Faishal. He really knows what he wants, and what to do. He told me how he knows exactly what he wants: since he's married. Then he suggested me to get married. I exclaimed, "What????!!!! Marriage is not panacea."
