Wednesday, 15 July 2009

Danau Batur: Surga yang Ternoda

Kata web benar. Kalau Kintamani atau Danau Batur, memang menawarkan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Benar juga, kalau di lokasi itu para pengunjungan "diganggu" oleh reseknya penjual barang-barang souvenir. Mereka menawarkan barang dengan memaksa. Meskipun sudah ditolak, tetap membuntuti kemanapaun kita pergi.

Tanda-tanda tidak enak itu sudah mulai dirasakan ketika kita sedang foto-fotoan di pinggir jalan raya. Kita sudah ditawari pemandian air panas dan sewa boat ke Trunyan. Tapi, kita sudah menolaknya dengan halus. Bapak yang menawarkan itu, paham, dan segera pergi dengan sepeda motornya.

Gangguan yang sesungguhnya ada di pinggir Danau Batur. Begitu kita datang, langsung ditawari jasa pencucian mobil. Nadia menolak dengan halus. "Itu bukan mobil saya, Pak.." Orang itu juga langsung cabut. Yang resek justru ibu-ibu. Mereka menawari kita souvenir. Aku langsung saja sok sibuk dengan kamera, foto sana dan foto sini. Nadia, Sofie dan Any, masih sedikit shock dengan "jalur maut" yang baru saja kita lalui, masih diam saja. Mereka didekati dan dipaksa oleh ibu-ibu itu. Satu anak, satu orang ibu penjual souvenir. Dari kejauhan aku dengar mereka ribut sekali. Nadia sampai hampir bertengkar sama ibu itu. Komen si Ibu itu salah satunya gini "Teman Mbak ini, jahat sekali.." kata si ibu kepada Any. Any, yang memang tidak tegaan, terpaksa membeli cincin yang katanya perak. Setelah Any membeli, si pedangan cerita ke Nadia "Sebenarnya, saya jual ke teman Mbak itu rugi..." Dijawab Nadia, "Lho, kalau rugi, kenapa dijual?" Si Ibu tambah marah. Dan, Any melancarkan nasehatnya ketika si penjual bilang kalau barang dagangan dia sepi dari pagi. "Makanya Bu, jangan ribut sama tamu. Mereka tidak nyaman. Akhirnya, tidak mau beli..." Si Ibu dengan pede jawab, "Lha, siapa bilang sepi, dari pagi tadi sudah ada 15 bis..." Any melongo, katanya sepiii....

Kalau kasus Sofie beda sedikit. Dia tidak mau membeli souvernir dengan alasan dia capek dan tegang gara-gara salah jalan. Eh, si Ibu malah menawarkan pijat. Sofie meneruskan aksi "sok bodohnya". Tidak suka pijat, dan tetap bertampang sok tidak mendengar....

Tidak sampai setengah jam kita ada di tempat itu. Sebenarnya, sayang sekali. Kalau tempat indah itu, harus ternoda oleh pedangan-pedangang souvenir yang bikin orang tidak nyaman. Bukannya kita membeli, malah kita cepat-cepat pergi dari tempat itu. Tanpa menikmati keindahan Dana Batur dan Gunung Batur.

Tuesday, 14 July 2009

Bali: Liburan Antik

Day 0 - 10 Juli 2009

Benar, sudah tidak konsentrasi di kantor. Rasanya, dari pagi sudah mual perut. Tidak sabar menunggu sore. Di kantor sudah error melulu. Hati dan otak sudah benar-benar panas. Akhirnya tiba bagi kami untuk menumpahkan semuanya. Hanya dengan liburan (kata Any, masak, kita harus liburan tiap tiga bulan?). But life is so stressful lately...

Setengah 4 sore, selesai tidak selesai kerjaan aku tinggal pulang. Aku sudah tidak tahan lagi. Jam 4 sampai di rumah. Untung sudah packing. Tiba di rumah mandi, dan segera berangkat. Aku yang samperin Nadia dan Sofie di Karangmenur, dan terus ke Bali Megah Wisata (BMW) di Jalan Diponegoro.Jam 5 tepat sampai disana. Kita berangkat ke Bali dengan naik bis. Alasannya, penghematan. Awalnya, aku agak ragu dengan naik bis ke Bali. Agak trauma dengan naik Bali Prima ke Banyuwangi, yang nyetirnya ugal-ugalan. Tapi, Nadia berhasil meyakinkan aku kalau naik bis lebih bagus daripada naik kereta. Ya sudah aku serahkan sama Nadia, secara dia sering ke Bali. Baru baliknya naik pesawat.

Jam 5.30 PM kita harus sudah sampai di BMW. Meski bis baru berangkat jam 6 sore. Nah, Any sampai dengan bis mau berangkat belum juga sampai. Ketika kita sudah di BMW dia masih ada di Ahmad Yani menunggu taksi. Akhirnya, si sopir bilang sama dia untuk menunggu saja di Mc D Mayjend Sungkono. Tapi, ternyata dia nekad untuk ke Diponegoro. Op tijd. dia datang tepat waktu. Jam 6 tepat. Bis segera berangkat. Nadia dan Sofie duduk di bangku paling depat. Tepat di belakang sopir. Any dan aku ada di belakang mereka.

Tepat di seberang Sofie dan Nadia, seorang lelaki yang (maaf) tambun, dan menyebar bau tidak enak dari tubuhnya. Anak-anak sudah kasak-kusuk saja, hehehe.

BMW ini hanya berisi 20 tempat duduk. Dan, tempat duduk yang paling belakang kosong dua. Dilengkapi dengan toilet. Sopir yang membawa kita lambat sekali kemudinya. Tapi, menurutku memang lebih baik begitu. Lalu lintas ke arah timur kalau malam padat sekali dengan kendaraan-kendaraan besar.

Ketika mendekati tengah malam, kita makan malam di Pasir Putih. Anak tiga ini belum makan malam. Aku sudah makan malam di bis. Mbontot dari rumah. Untung mbontot, kalau tidak bisa kram perut.

Masakannya ya begitulahhh..... Tapi, dimakan juga. Setelah itu jatuh tertidur. Sektiar jam 3 subuh, kita menyeberang. Sesampainya di Gilimanuk, "pramugari" menawariku kopi. Setelah itu, kembali jatuh tertidur. Ketika jam menunjukkan pukul 5, perut mulai melilit. Minta dikeluarkan. Tapi, aku harus menahannya sampai Bali. Di bis ada larangan download disana. Kalau dalam kondisi mendesak, bisa menghubungi kru bis.

Day 1, 11 Juli 2009

Jam 9 kita sampai di pool BWM, dan menunggu kakaknya Sofie, Mas ND. Di pool BMW ini, aku baru saja tahu kalau filter UV Hoya yang terpasang di kamera sudah pecah. Ceritanya, aku mau ambil itu buat foto-foto. Ternyata sesak sekali. Bisa juga dibuka oleh Any. Dan, baru ketahutan kalau pecah. Sepertinya pecah ketika sedang di Probolinggo. Ketika aku tidak mengurus kameraku, gara-gara masuk angin. Aku tinggalkan begitu saja kamera itu di dalam mobil, sementara aku di rumah Teddy untuk dapat perawatan dari bapaknya.

Kita dijemput 10 menit kemudian dengan Nissan X-trail. Mobil kemudian yang akan kita gunakan untuk kesana-kemari. Setelah itu, langsung menuju ke Puri Ratu di Jimbaran, tepatnya di by pass Ngurah Rai. Vila sedang dibersihkan. Nyonya rumah ada juga. Tidak di Taman Lawangan. Begitu sampai di vila, aku langsung download.

Kita ditempatkan di lantai 2 puri. Desain puri itu khas via di Bali. Dengan ruangan yang sangat terbuka. Terutama kamar mandinya. Kamar mandi memiliki jendela yang sangat lebar dan tinggi. Barangkali, 1,5 meter. Jendela dibangun dengan kaca bening, dan selalu terbuka. Jadi, misalnya ketika kita mandi atau pupi, kita bisa melihat dengan jalan raya atau kebun sebelah. Untungnya, kebun sebelah tidak berpenghuni, dan tidak ditanami. Karena bekas rawa-rawa. Dan, yang ada hanya pohon asam saja. Kalau sama jalan raya masih jauh. Kita saja yang bisa melihat jalan raya, tapi mereka tidak. Kata anak-anak, kamar mandinya "horror"

Habis kita menaruh barang, kita langsung diajak makan. "Di depan Hard Rock Kuta saja..." Wah, kita sudah GR. Mau makan di HR. Usut punya usut, kita ternyata makan nasi bungkus di pantai Kuta, hehehe. Tapi, meskipun nasi bungkus, ramainya minta ampun. Dan, tempe gorengnya enak sekali. Dipadu dengan mangga dan kopi. Hasilnya setelah itu, perutku agak mules sekali... Dan langsung T. Dan, setelah itu, rasanya masuk angin mulai datang. Tapi siang itu kita akan ke Dreamland. Tempat yang dikelola oleh Mas Tommy itu.

Kompleks Dreamland ada di kompleks Pecatu. Ada perumahan. Ada hotel. Ada apertemen, dan ada lapangan golf. Tentu saja, ada cafe Klapa. Yang peresmiannya sempat bikin ribut para seleb Jakarta itu. Demi rebutan Mas Tom, hehehe.

Waktu lihat X-trail kita, dan berplat nomor B, si satpam langsung bilang "Ada DJ live, Mbak di Klapa. Silahkan kesana...." katanya sambil memberi kartu parkir dan brosur Klapa.

Dreamland tempatnya tidak terlalu luas. Pantai kecil saja. Tapi, penuh dengan manusia. Ya turis domestik. Ya turis luar negeri. Orang-orang ada yang asyik berselancar. Ada yang hanya duduk-duduk. Ada juga yang hanya makan-makan. Tapi, Dreamland panas sekali sore itu. Kita akhirnya memutuskan untuk duduk-duduk dan makan di cafe pinggir pantai. Selain itu, kita juga malas turun ke pantai gara-gara swine flu. Pada saat itu aku rasakan perutku juga mulai tidak karuan. Ingin kentut. Tapi tidak bisa. Rasanya seperti dikocok. Wah, masuk angin ini. Bahkan makan setengah sore tidak bsia menolongku. Waktu aku sudah tidak tahan lagi, aku berniat naik ke atas. Yang ternyata adalah lokasi Klapa. Aku hanya ingin cari toilet. Tapi, diusir sama satpam.... Bukan diusir sih, tapi Dilarang untuk Tidak Naik ke Atas. Eh, sama saja dengan diusir, hehehe. Ternyata, yang ampuh hanya X-trail pinjaman itu, hehehe. Lekas saja aku lari, karena aku hanya mencari toilet. Di bawah, toilet hanya ada satu.... Antri lagi. Duuhh...download sih tapi tidak lega. Mas ND sudah telepon lagi. Kita disuruh balik ke kota. Karena dia dan keluarga mau bikin makan malam buat kita. Ya, sudah deh.... akhirnya kita kembali ke vila.

Ternyata makan malam ikan bakar Kedunganan... Sedaaaapppp......

Malamnya, Bali hujan. Malam minggu lagi. Akhirnya, kita menunggu hujan reda di vila. Sambil aku kerokan. Asoiii... Indonesia sekali. Ketika hujan reda, ada ide dari Linda - yang juga tinggal di vila - untuk ke Kuta, melihat kehidupan malam disana. Tapi, karena hujan turun dengan lebat (lagi), we did not see anything. Hanya orang-orang yang pada berteduh. Kuta agak sepi. Bahkan cafe-cafe. Barangkali karena hujan. Atau bule-bule itu sudah pada tipsy di diskotik. Kita pulang, tapi mampir di Mc D. I needed hot tea.

Terus langsung tidur......

Day 2, 12 Juli 2009.

Minggu. Bangun dengan setengah hang over. Ubud adalah tujuan kita hari itu. Sama ke Kintamani. Ingin melihat pemandangan Danau Batur. Setelah itu, mampir di Ubud.

Pagi, kita ingin sarapan nasi campur Bali. Setelah googling tempat makan yang halal, kita dapat dua referensi. Rumah Makan Adi dan KKN. Keduanya di Jalan Danau Buyan. Setelah putar sana-sini, akhirnya ketemu Jalan Danau Buyan. Tapi, tidak ketemu juga rumah makan Adi. Yang ketemu warung KKN. Ya, sudah. Kita sarapan disana. Ternyata, warung makan prasmanan! Jadi, ingat jaman-jaman kuliah dulu. Tapi, masakannya sangat lumayan enak. Sangat mlekoh.

Setelah sarapan, kita langsung cabut ke Kintamani. Kintamani merupakan satu jalur dengan arah Singaraja. Kita lewat Ubud. Sepanjang jalan yang kita lewati, tampak rumah-rumah sekaligus show room para pengrajin. Mulai dari kayu, kaca, batu dan sebagainya. Tampak juga beberapa galeri mewah.

Setelah perjalanan lumayan lama, dan sempat ragu, apa benar ini jalur Kintamani, kita bertemu dengan pemandangan yang sangat indah. Gunung Batur, dan danaunya. Kintamani sebenarnya adalah nama kecamatan. Di sepanjang jalan itu, banyak sekali tanaman jeruk. Begitu pula orang-orang jualan jeruk. Jeruk kintamani lumayan terkenal juga.

Tampak juga di kejauhan sebuah bukit dengan banyak pasirnya. Mengingatkan aku pada foto Tibet si Agustinus. Padang pasir...gunung. Indah sekali. Kita foto-foto saja awalnya di pinggir jalan dengan view danau dan gunung. Tapi, kita tidak puas saja. Waktu kita mutar mobil, mau kembali ke track yang disarankan oleh tukang parkir, tapi kita cari sendiri jalan lainnya ke Dana Batur. Ah, dasar sok tahu, hehehe. Tapi sungguh, di jalan itu ada penunjuk ke Danau Batur dan Pura Mentrik.

Kita ambillah jalan itu. Saudara tahu apa yang kami lewati. Jalan yang sangat sempit, tajam, dan curam. Tapi, kita sudah sulit untuk kembali. Sepanjang jalan kita hanya berpapasan dengan truk-truk pengangkut pasir. Hati kami tinggal separo. Nyali kami sudah habis barangkali.

Kami berdoa, dan percaya pada kemampaun Nadia saja.

Tapi sungguh, sebenarnya, jalan yang curam dan terjal itu indah sekali viewnya.

Begitu kita sampai di bawah, di sana memang ada lokasi truk-truk ambil pasir. Dan, menyebutkan kalau daerah tersebut merupakan kawasan hutan. Setelah kita bertanya, ternyata itu memang jalan menuju danau Batur. Hanya saja, jalannya sedang rusak berat dan tidak bisa dilewati. Satu-satunya cara, kita harus kembali naik, lewat jalan menakutkan yang baru saja kami lewati.

Duuuhhhh...takutttttt... semakin keras kami berdoa....

Akhirnya, dengan selamat kami sampai di atas. Di jalan raya yang benar, dan kemudian mengambil jalan yang benar ke Danau Batur. Jalannya tidak securam sebelumnya. Lebih ramai. Kita tertawa. Tapi, ketakutan kita telah memakan sebagian besar energi kita.

Di Danau Batur, kondisinya sangat tidak nyaman. Gara-gara pedangan acung. Yang jadi sasaran Nadia sama Any. Sempat ribut juga sama Nadia. Any terpaksa beli cincin. Sofie dan aku tidak jadi sasaran karena kita beraksi. Aku dengan kamera, dan Sofie dengan sok cueknya. Kita hanya setengah jam disana. Terus naik lagi ke Kintamani, dan menuju Ubud.

Di desa Tegallalang, kita berhenti. Sejenak menikmati hidangan dari Cafe Teras Padi. Dengan pemandanganan sawah bersusun atau subak. Hidangannya lumayan. Disinilah aku mulai merasakan masuk angin lagi. Dengan hebat. Mungkin karena belum sembuh 100 persen, sudah dipakai jalan, dan kena angin Danau Batur yang sangat keras...

Sebelum pulang, kita makan dulu di Warung Bu Mangku, Ubud. Makan nasi ayam lengkap. Ada ayam yang digoreng, direbus, dan dimasak bumbu merah. Ditambah juga dengan sambal bali yang pedas, teracancam kacang panjang yang diiris-iris, dan dikasih kacang China goreng. Sedap, dan mlekoh. Tapi setelah Any dan aku selesai makan, tercium bau tidak enak. Seperti bau kotoran. Apa itu mungkin bau kotoran babi???? Nadia sama Sofie langsung menaruh sendoknya....

Dari sini, kita menuju Monang Maning, buat mengantar Any ke rumah kakaknya. Berkali kesana, tetap saja lupa jalannya. Tersesat di gang-gang di Bali yang sempit... Duuhh.... Habis itu langsung pulang ke puri. Any di Monang Maning.

Malamnya Any, menghilangkan dompet kakak iparnya.

Day 3, 13 Juli 2009

Ulang tahun bapakku... Pagi-pagi telepon rumah. Eh, tertanya hari Senin. Lupa kalau cuti sehari.

Karena malam tidak makan, bangun tidur langsung terasa lapar. Karena bingung mau makan kemana, kita ke Mc. D (lagi..). How I hate this food. Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin cari-cari makan gambling. Takut babi-lah. Baru kita sarapan, Mas ND sudah telepon. Kita disuruh ke Taman Lawang. Jemput Bos.. Karena Nadia butuh foto barang-barang di Bali Pasadena, kita kesana dulu. Ketika jemput itu, si bos bilang kalau istrinya ultah, dan mau bikin suprise party.

Habis Nadia foto-foto barang, kita bilang mau spa... Dan, kita dikirim spa hari itu Asoiiiii... di Nusa Dua. Katanya, di Intercontinental. Kita sudah sangat GR. Ternyata, kita dikirim spa di salon sebelah Intercontinental. Namanya Happy Salon *padahal malam sebelumnya Nadia browsing nyari tempat spa...*

Kita sempat ragu masuk tempat itu. Sepertinya, tempatnya kurang meyakinkan. Tapi, bos menyakinkan kalau salon itu enak banget pijatannya. Kita masuk ruangan yang untuk massage. Kayak di panti pijat begitu. Satu ruangan dengan tiga dipan. Kita dibaringkan satu persatu. Mulai ditelanjangi. Sumpah kita masih ragu tentang spa ini. Karena merasa kurang representatif. Tapi, ketika mereka mulai memijit, enak sekali pijetannya. Dan, mereka ramah-ramah. Kita ketawa-tawa. Nah, meskipun spa itu sederhana sekali, kita puas sekali. Dapat harga murah lagi, Rp. 70 ribu!

Setelah spa, kita terus disandera sama Bos. Intinya kita baru boleh keluar rumah, habis ultah. Untungnya, ultah tepat waktu. Jam 5 sore. Acara makan-makan saja dan pembacaan puisi dari Mamas.

Sayangnya, Any masuk angin. Dia tidak bisa full sama kita. Setelah keliling Kuta, dia minta antar pulang. selanjutnya kita sudah malas balik lagi kesana. Jadinya, hanya ke KFC. Minum coklat panas.....

Day 4, 14 Juli 2009

Flight jam 7 waktu Bali. Brrrr.... Bali dingin. Tidak mandi... Hanya cuci muka saja. Akhirnya landed di Surabaya dengan selamat jam 7 pagi. Pikiran jadi segar. And ready back to work...








Friday, 10 July 2009

Behind the Screne: Lamongan

Lamongan menjadi daerah pertama sasaran papparazi.Waktu kita take Lamongan, belum ada model bagaimana foto diambil. Jujur, kita tidak punya waktu banyak untuk mempersiapkan Lamongan. Di pekan kita mengambil foto Pak Masfuk, yang bersangkutan akan ke Jakarta karena menerima Adipura dilanjutkan dengan acara di Kabupaten Temanggung, kalau tidak salah. Saya kontak mereka Senin sore, Selasa sore bupati harus sudah ke Jakarta.

Tapi, kita beruntung. Bupati satu ini tidak terlalu cerewet. Demikin pula orang-orang yang ada di bawahnya. Dalam waktu kurang dari 24 jam, rencana disusun, dan janjian dilaksanakan. Jadi, bisa dilakukan dengan cepat.

Sebelum sesi pemotretan, kita ngobrol dulu. Masalah program, dan bagaimana visi dia untuk membangun Lamongan. Masfuk menceritakan bagaimana dia mengubah Lamongan, dari daerah yang dulu "buangan jin" menjadi daerah seperti sekarang ini. Bagaimana investor seperti Lamongan Integrated Shorebased (LIS) mau datang, dan bagaimana dia pemerintahannya membangun Wisata Bahari Lamongan (WBL). Untuk membangun sarana wisata ini, Rp. 29 milyar dialokasikan. Sekarang ini, tiap tahunnya Rp. 9 milyar menjadi pemasukan di Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bandingkan saja dengan sebuah daerah di Jatim yang membangun "tugu kemenangan" itu dibutuhkan anggaran yang kurang lebih sama. Hasilnya, pagupon burung dara. Buntutnya, si bupati terancam masuk penjara.

Dalam sesi ini, bupati bergaya layaknya pedagang kain di pasar desa... plus dengan sandal dan peci.

Dari hasil ngobrol dengan bupati, aku mendapatkan satu kata mutiara: "Jikalau kamu minder, maka akan hilang semua potensi yang kamu miliki"


Akhirnya....

Akhirnya..... Jum'at datang sudah. Malam ini, kami berempat: Nadia, Sofie, Any dan aku, akan berangkat ke Bali. Liburan 4 hari saja. Kami berempat, butuh mendinginkan otak dan hati, walau hanya sejenak.

Hidup, akhir-akhir ini, aku rasakan sangat menguras otak dan hati. Jadi, untuk tetap menjaga kewarasan, aku harus pergi berlibur. Liburan kali ini, sama dengan ke Jogja itu, direncanakan akan sangat hemat. Karena memang harus hemat. Gara-gara penyakit kompulsifku kumat hari Minggu kemarin, aku harus berhemat saat liburan kali ini, hehehe. *memang, setiap liburan kan mesti berhemat* Yang paling penting adalah kabur sejenak dari pekerjaan, untuk mengumpulkan energi baru, dan membuang kruwel-kruwel di otak yang tidak perlu.

Memang, aku membutuhkan energi baru untuk pekerjaan-pekerjaan yang datang silih berganti. Aku merasakan kepayahan yang sangat luar biasa. Maklum, setelah selesai acara pada 27 Mei yang lalu, langsung terbang ke Makassar. Dan, beberapa kali harus kembali terbang kesana lagi. Juga, perjalanan ke luar kota di Jawa Timur yang meskipun hanya sehari-dua hari tapi tetap saja menguras energiku.

Bagaimanapun juga, aku membutuhkan liburan ini. Semoga bisa kembali menyehatkan jiwa dan pikiranku.

Thursday, 9 July 2009

Tissue Basah

Ketika traveling, tissue basah menjadi piranti yang tidak boleh ketinggalan selain paspor (kalau pas jalan LN), uang, sikat dan pasta gigi. Tissue basah ini akan berguna kalau kita jalan ke negara-negara dengan toilet tanpa air. Ataupun di negara-negara dengan toilet dengan air tapi joroknya minta ampun. Termasuk di neger kita sendiri. Terutama kalau kita menggunakan jasa kereta api sebagai moda transportasi. Di negara kita, meskipun kereta api yang kita ambil super duper eksekutif, tapi joroknya tetap minta ampun. Toilet bowl-nya tetap tidak layak untuk diduduki. Belum lagi, airnya juga kadang buntu atau tidak mengalir. Tantangan pipis di kereta api adalah kendaraan yang melaju dengan kencang. Begoyang ke kiri dan ke kanan. Seirama dengan ban kereta yang menggilas rel.

Tissue basah ini akan berguna untuk membersihkan diri setelah membuang hajat. Baik hajat besar ataupun hajat kecil. Juga, untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah makan.

Monday, 6 July 2009

Dimana Toiletnya?

Sudah bukan rahasia lagi, kalau toilet menjadi kebutuhan vital saat toilet bagiku. Karena, saya bisa download dimanapun saja. Tapi, biasanya, sekarang ini tempat download sudah banyak tempat yang sangat layak. Meskipun di pedalaman Indonesia.

Hanya saja, waktu ke Probolinggo kemarin dan terserang diare gara-gara masuk angin, saya terpaksa download di Pabrik Gula Gending. Saat itu kita sedang meninjau lokasi untuk pemotretan bupati Probolinggo, Hasan Aminuddin. Ketika turun dari mobil dan orang-orang bingung mencari lokasi foto, saya bingung mencari TOILET! Awalnya, saya lari ke arah musholla. Karena disana saya melihat dua buah kamar mandi. Namun, ketika saya mendekati tempat itu, tidak ada WC nya. Yang ada hanya bak mandi saja. Saya tanya kepada dua orang anak yang sedang ada disana, dimana ada WC, mereka hanya menggelengkan kepala. Padahal, sumpah, saya sudah tidak tahan dengan isi perut yang seharusnya sudah keluar ini.

Lalu, saya lari cari satpam. Mereka bilang, di dalam pabrik gula sana. Setengah berlari, saya menuju ke tempat yang dituju itu. Ketika sampai di tempat itu, OMG! Aku tidak pernah menemui tempat sejorok itu. Lantainya, licin sekali. Oleh bekas busa sabun, dan kotoran. Apalagi bowl toiletnya. Sangat tidak masuk dalam kategori WC sehat dari WSP, hehehe. Saya tidak "tego" untuk duduk. Akhirnya, saya berdiri. Dan, keluarlah 'file" yang seharusnya download itu. Sambil berdiri.

Tapi sungguh, ini adalah toilet terjorok yang pernah saya temui....Kalau tidak karena terpaksa sebab masuk angin, tidak akan saya download di tempat ini.

Friday, 3 July 2009

Dari Soto Obor sampai Gethuk Srabi

Rabu dan Kamis kemarin, ke lapangan lagi. Kali ini, giliran Ponorogo dan Bojonegoro jadi tujua perjalanan. Waktunya pengambilan profil bupati Ponorogo dan Bojonegoro.

Untuk penghematan, kami berangkat pagi hari. Jam 4 pagi, bro! Jadi, jam setengah 3 aku harus sudah bangun karena aku yang akan dijemput pertama kali. Aku dijemput jam 3.30. Butuh waktu sejam untuk siap-siap. Ya merebus air buat mandi, dan sedikit siap-siap. Eee...ternyata jam tiga lebih sedikit sudah selesai, jadilah aku telpon sopir rental. Ternyata bro, dia dikasih tahu sama juragannya, kalau dia disuruh jemput aku jam 4 pagi! Ampun, padahal jam 4 pagi, rencana sudah keluar dari Surabaya. Padahal, setelah aku harus jemput Gandha, Udin, dan Redhi di tiga tempat yang berbeda. Dan, nyamperin Dhika di Sepanjang.

Setelah kesana kemari jemput orang, akhirnya cabut juga dari Surabaya. Jam 4.30. Perjalanan dilanjutkan ke Barat. Meskipun bangun jam setengah tiga pagi, tetap saja tidak bisa tidur karena malam telah tidur dengan nyenyak.

Jam 6.30 masuk Nganjuk. Perut sudah minta diisi. Akhirnya memutuskan untuk makan gudheg di warung Gudheg Plus di timur alun-alun Nganjuk. Untung sudah buka. Lumayan gudhegnya. Enak karena tidak semanis di Yogja. Ayamnya kampung. Pakai telur. Untuk pertama kalinya, aku mencoba lagi kopi. Tapi kali ini aku campur dengan susu. KOPI SUSU. Nikmat sekali.

Perjalanan dilanjutkan ke Ponorogo. Makan siang kurang enak. Bukan masakannya tidak enak. Tapi, tidak ada yang special dengan menu-menu di rumah makan diJl. Diponegoro itu. Sudah gitu, restonya ber AC. Tapi, semua orang masih pada ngrokok semua. Bikin bete saja. Tapi, mana bagaimana lagi.

Selesai mengambil foto profile bupati, kita cabut dari kabupaten Reog ini. Kita menginap di Madiun saja. Malamnya, kuliner berlanjut. Kali ini soto obor di Maospati sekalian ke rumah Redhi, mengantar mie.

Soto obor itu sebenarnya juga soto ayam. Tidak tahu kenapa dinamakan obor. Mungkin dulu karena jualannya pakai obor karena belum ada lampu. Di soto ini, ayam tidak digoreng atau dipanggang seperti pada umumnya soto di Jawa.Tetapi dikukus atau lebih kerennya diungkep. Ayam dikasih bumbu dulu. Tapi sangat minim, garam sama bawang putih. Daging lalu dipotong-potong dan ditusuk seperti sate, dan disebut hanya dengan istilah tusuk.

Kuah soto ini bening. Yang membuat beda, soto ini diberi kacang goreng untuk memberi rasa enak dan gurih.

Setelah makan soto obor, ke rumah Redhi. Guess what I got there, kerupuk matahari! Makanan itu sebenarnya bukan murni kerupuk buat makan. Terbuat dari tepung terigu, santan, telur dan gula. Diaduk encer. Minyak dipanaskan di wajan. Lalu cetakan tembaga berbentuk bunga dimasukkan ke dalam adonan. Lalu digoreng ke wajan yang telah mendidih. Kerupuk matahari itu, biasanya ada di pesta pernikahan, dan jajan saat lebaran. Akhirnya...aku makan dengan puas.

Kuliner tidak berhenti sampai disitu. Setelah kerupuk matahari, dilanjutkan makan cemoe. Minuman ini sejenis ronde. Bedanya, ada santannya, roti, dan tidak ada jahenya. Perut rasanya mau meledak. Saking kenyangnya, tidur bingung ambil posisi apa.

Paginya, sarapan pecel Yu Gembrot. Pernah sih makan disana, tahun yang lalu. Kurang menggigit rasanya. Kurang pedas dan kurang mantep jeruk purutnya. Tapi, lumayanlah. Nasinya pulen. Katanya, ini pecel the best di Madiun. Tapi, mungkin saja nasi pecel terenak justru ada di rumah-rumah penduduk, dan di desa-desa.

Perjalanan Madiun-Bojonegoro lewat Ngawi (Padangan). Jalannya bergelombang. Karena daerah Bojonegoro memiliki tanah gerak. Bisa dibayangkan. Dengan Avanza yang dpacu dengan kecepatan tinggi, aku yang duduk di bangku belakang serasa menjadi belalang dalam toples. Persis kayak filosofis Fadel Muhammad.

Karena tiba di Bojonegoro masih terlalu pagi. Kami putuskan untuk ngopi di depan Pengadilan Agama Bojonegoro. Sebuah warung yang hanya menyediakan kopi. Lain tidak ada. Bahkan hanya untuk pisang goreng. Tapi, kopinya ciamik. Enak sekali. Apalagi secangkir hanya Rp. 1.000,00. Disajikan dengan cangkir made in China jaman dulu yang sudah tidak ada di pasaran.

Siangnya, makan siang di rumah dinas bupati. Menunya, sayur asam, sambel, tempe goreng, lele, perkedel jagung, ikan mujaer, dan sebagainya. Baru setelah foto, kita diajak Kang Yoto ke gethuk di Kecamatan Trucuk di warung Mak Yah. Kata Kang Yoto, itu gethuk terenak di dunia. Gethuknya memang beda. Kalau di banyak tempat gethuk cenderung manis, di Mak Yah ini tidak manis. Gurih pakai garam. Apalagi dipadukan sama ketan dan serabi. Nah, serabinya ini yang enak. Yang TOP lagi di Ma Yah adalah tempe gorengnya. Dan, ketika disana, aku melihat orang makan nasi kare. Bumbunya itu looo...kayaknya mantep banget. Santennya tampak mlekoh! Ingin sekali makan, tapi sudah sangat kenyang.

Akhirnya kembali ke Surabaya dengan perut kenyang sekali...