Friday, 14 August 2009

No Tittle

For the last few days, I contemplate about my current live. Is it in the right track? Do I do it with all passion? Suddenly, I found something, that I'm no such big different with Any Sacks, the character in Devil Wears Prada.

For the last five years, I have been with the same job. My work is great. I enjoy it, indeed. But, sometimes, I feel that I'm in the wrong place. For somebody who knows me better, does not believe that I'm dealing with that such issues in my work. I enjoy it since I travel to many places, I meet new people and I do learn from them. I have many wonderful experiences. I earn enough to support my personal life.

But then, I realize that I'm still in the same point. I feel like Santiago, the shepherd, who found that his life had been so perfect. He'd been around Spain with his sheep. Then, he dreamed about finding treasure in Egypt. The, the adventure began. He sold his sheep and went to Egypt. Even though, he did not know anything about Egypt, and how far it is from Spain. The future is unsure, if I can say. But, he was not afraid. He just believed in his dream.

This time, I have to be like Santiago. I have to sell all my sheep. And, catch all my dreams. I know, the future is uncertain.

As an epilog, I remember the last scene in Devil Wears Prada, when Andy threw her cell-phone and left her boss in Paris.

Thursday, 13 August 2009

World Best Things

Selain bersama keluarga, ada hal yang sangat menyenangkan dan membuatku bahagia. Teman yang baik, makan makanan enak, dan mandi air hangat. Mungkin juga bisa ditambahkan, minum sparkling langsung dari botolnya.

Teman yang baik dan makanan enak itu biasanya merupakan satu kombinasi. Berkumpul dengan teman yang baik, sambil mengobrol dan menikmati makanan yang lezat. Setelah itu, pulang mandi air hangat. Yeah..yeah, itu adalah hal yang terbaik.

Seperti semalam. Ada kombinasi ketiga hal itu. Ketika pagi hari aku mendapatkan berita yang kurang mengenakkan, aku bilang ke G. Dan, aku bilang untuk setengah "menghiburku". Dia bilang ya. Menghiburku berarti adalah mentraktirku makan. Memang, sudah dari beberapa saat yang lalu dia ingin mentraktirku. Tapi terus saja tertunda. Nah, kemarin sebenarnya memang sudah ada rencana. Awalnya Senin. Hanya saja, Senin kemarin bezoekt Alda. Selasanya Judith tidak bisa karena dia harus ke gereja. Nah, baru semalam waktunya kita untuk having fun.

Aku bilang ke G. "Aku pokoknya mau ditraktir makan enak." Jawabnya, "Beres, makan apapun yang kamu suka..."

Jadilah kita ke Bakerzin. Karena kita sudah begitu bosan dengan makan di Sutos. Yang restonya hanya itu dan itu. Gusti sudah bosan. di Sutos, paling ya ada Baskin, Excelso, Dome atau Izzi. Biasanya, kalau makan di Sutos hanya butuh ambient saja. Semalam, kita hanya ingin makan enak.

Akhirnya, benar-benar terlaksana makan enak. Aku menghabiskan chicken cutlet with potatoes satu porsi, es kopi dengan raisin dan satu warm chocolate cake. Belum lagi mencoba wafel-nya. Wuiiihhh... enak dan kenyang sekali. Warm coklatnya ini yang paling lezat. Coklatnya memang anget. Dibakar. Tapi, coklat dalamnya masih bisa meleleh. Di atas cake dikasih es krim. Jadi, ketika cake itu dipotong, coklat cair di dalamnya akan meleleh, dan bercampur dengan es krim yang juga meleleh karena kena panas. Jadi, melting coklat panas bertemu dengan es krim. Rasanya, tidak bisa dibayangkan enaknya. Yuummmmyyyyyy.......

Setelah itu, baru makan potongan strawberrynya satu demi satu.

Dan, malam berlalu dengan elegan.

Tuesday, 11 August 2009

The Smell of Makassar

This city smells like cigarettes. Inilah kesan yang aku dapatkan ketika aku datang pertama kali dan kembali lagi kesini. Yeah, Makassar baunya mirip asbak. Dimana-mana, orang-orang mengepulkan asap dari dalam mulutnya. Membuat orang-orang di sekitarnya merasa sesak, dan seperti ada kabut di sekitar.

Sejak aku mendarat di Hassanuddin, asap langsung menyambut. Asap ini lahir dari mulut para pejemput, para sopir taksi, para makelar, para tukang ojek, para porter dan juga para penumpang yang sebelumnya telah menahan diri untuk tidak merokok selama di penerbangan.

Ketika saya datang dan makan di warung ikan Paottere di dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI), asap memenuhi ruangan. Baik asap yang berasal dari bekas bakaran ikan ataupun dari asap rokok para pengunjung. Karena ruanh ber AC, bisa dibayangkan seperti apa ruangannya. Kurang sekali oksigennya.

Dimana-mana, bau asap rokok. Bahkan di Mall Panakukang yang notabene adalah mall terbesar, tanda larangan merokok tetap dilanggar. Kebakaran tetap saja keluar dari mulut para pengunjung. Di hotel Horison, di ballroom nya sampai ditulis tanda larangan besar untuk merokok, and thanks God, it works. Tapi, begitu keluar dari ballroom, bau rokok kembali menyeruak. Ya di lobby hotel. Ya di selasar hotel. Ya di restoran yang notabene sebagian bebas rokok. Tak ketinggalan juga kamar! Gosh!

Saya akan paham, kalau mereka merokok di warung kopi yang tidak ber AC. Bagaimana bisa orang-orang tetap merokok di dalam ruangan berpendingin. Apa mereka tidak tahu, kalau itu sangat merugikan orang lain? Saya bukan sok sehat, tapi itu bisa membuat orang sangat sesak. Dan, meskipun merokok itu adalah hak, tapi telah melanggar hak orang lain untuk menghirup udara bersih.

Kata teman saya, Henky Widjaja yang dengar keluhan saya bilang " Ya, mereka sebagian besar memang masih primitif"

Friday, 7 August 2009

Indonesia Tanah Airku...

Tanah Airku tidak kulupakan
Kau terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak akan hilang dari kalbu....



Ketika aku turut menyanyikan lagu itu di Forum Kawasan Indonesia (KTI) yang keempat di Makassar, dua hari yang lalu, aku merasakan sangat terharu. Dadaku terasa sesak. Barangkali, kalau aku tidak di forum, pasti air mataku telah menetes. Aku tidak tahu kenapa aku begitu terharu dengan lagu itu.

Aku berada di dalam sebuah forum yang berasal dari delegasi 12 propinsi di KTI. Ada Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, NTT, NTB, Maluku, Maluku Utara, Papau, dan Papua Barat. Mereka, adalah orang-orang yang dengan semua keterbatasannya berusaha keluar dari persoalan hidup yang mereka alami. Mereka melakukan banyak hal untuk komunitas dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka, adalah orang-orang yang berani bermimpi, dan mewujudkan mimpi itu. Coba saja Linggi. Seorang mantan kepala desa di di Uru Batang, yang membuat listrik mikrohidro sehingga desanya bisa merasakan terangnya listrik. Dengan menggunakan turbin, desanya tidak lagi gelap. Anak-anak bisa belajar kala malam, dan para orang tua menjadi lebih produktif.

Atau, ibu guru Minnee Wally dan Elisabeth Hole, yang mengajarkan kurikulum lingkungan hidup, dengan belajar sambil menyelam. Di daerah Teluk Tanah Merah ini, anak-anak diajarkan untuk mengenal laut yang mereka miliki, dan mencintai laut-laut mereka. Atau, seorang lelaki bernama Silverius Oscar Unggul, yang menjadi salah Young Leader 2009 yang ditetapkan oleh World Economic Forum.

Di sekelilingku, selama dua hari, bertebaran dengan bebas energi-energi positif dari orang-orang ini. Orang-orang yang memiliki semangat. Orang-orang ini, adalah mereka yang mampu memberikan inspirasi bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Di forum ini, aku mendapatkan kembali semangatku. Semangat, yang akhir-akhir ini entah hilang kemana. Seperti biasa, aku seperti memiliki siklus, sebuah turning point dalam hidupku. Dan, saat ini adalah yang terparah. Ketika awalnya berada di dalam forum ini, aku malas luar biasa. Karena aku tahu forum ini "sedikit" ada basa-basi. Aku kurang suka dengan forum-forum seperti ini. Hanya karena akan ketemu dengan JICA, aku berangkat ke Makassar Selasa pagi yang lalu.

Tapi, aku mendapatkan banyak hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Aku, kembali terinspirasi untuk melakukan banyak hal. Aku tahu, bahwa aku tidak boleh menyerah apapun yang terjadi. Aku akan terus bertahan dan berjuang. Aku tahu, di depanku, aku masih bisa bermimpi apa saja.

Aku jadi hidup kembali. Dan, aku sangat senang ada forum itu.

Siang Hari di Phoenam

Kemarin siang, setelah meeting dengan Nakajima-san dan Wanna di JICA office di Kantor Gubernur, aku sempatkan diri ke Phoenam. Saat itu, jam menunjukkan 12.30 waktu Indonesia Tengah. Waktunya makan siang. Pagi aku tidak sarapan. Tapi, kalau ke Phoenam sebenarnya hanya ada kopi, roti dan mie goreng. Ah, peduli amat. Kalau perlu, makan roti dua porsi. Aku tidak jadi mampir ke FIPO, karena Haji Basir sedang rapat, entah dimana, dan mungkin juga kantor sepi. Katanya, tropi mau dikirim saja.

Siang itu, ada sekitar 10 orang pengunjung di Phoenam. Ya, tentu saja, para pengunjungnya adalah lelaki semua. Lima orang laki-laki duduk di meja sebelahku. Mereka semua China. Sedang mengobrol dengan serunya. Dua orang lelaki, duduk di meja seberang, sedang bermain catur. Kemudian dua orang lelaki, duduk agak jauh dari mejaku. Di dekatku, duduk dua orang lelaki, satu orang menyanyi "Indonesia Raya" Lalu, masuk seorang lelaki setengah Arab. Dia memaki kopyah. Sedikit berjenggot. Sudah berwarna putih. Lelaki ini, memandangku dengan penuh selidik. Sepertinya, aneh melihat seorang perempuan duduk sendirian di warung kopi di tengah hari bolong. Aku cuek saja. Disana meminum kopi susu dan memakan dua porsi roti. Satu porsi roti panggang kaya, dan satu porsi roti panggang telur rebus. Aku memang sedang lapar.

Kopi di Phoenam memang tetap enak. Aku meminumnya pelan-pelan. Setiap lelaki yang masuk ke dalam Phoenam, selalu melirik ku. Tak jarang yang senyum dikulum.

Hal yang sama aku alami bersama dengan Rina di Jalan Sadaeng. Ketika kita minum sejenis STMJ, tapi ada namanya. Hanya saja aku lupa. Kita disana minum, dan sambil makan pisang goreng dan ketela goreng. Disana, kita sampai jam 12 malam. Semua orang setengah melotot ke kita. Apalagi, kita bercerita dengan seru banyaknya kisah perjalanan yang kita lakukan. Cerita-cerita konyol saat traveling. Juga, tentang mimpi dan rencanaku bersama dengan Lala tahun depan. Upsss..ternyata, Rina kenal juga Lala. Kita lalu sepakat, kalau tahun depan, kita akan traveling bersama, ke benua itu. Dan, berpikir, siapa-siapa saja orang yang ada di benua itu, dan berkenan memberikan kita surat undangan, hehe. Oh, aku tidak menyangka bisa ketemu dan mengobrol sebebas ini dengan adik kelasku ini. Oh, senang sekali, menemukan satu lagi orang yang sejenis. Jam 12 malam, kita sepakat untuk cabut dari tempat ini. Aku ke hotel, Rina ke kos di Jalan Hadji Bau.

Monday, 3 August 2009

Jember Fashion Carnaval


Well, the 8th Jember Fashion Carnaval was held yesterday. I went there with three companions: Any, April and Ery. It's the first time I went there to see it with my bare eyes, mingled with the crowd of thousands of people. Under the hot weather. The sun hit me, but it's fun!

This event holds annually. Each year, the theme is always different. It was initiated by Mr. Dynan Faryz (picture left) in 2002. It's such wonderful idea comes from the man who lives in Jember. Brilliant idea is not always from people who live in Jakarta. 

The name of carnival itself spells in Indonesian, Carnaval. Some people say, that it's a fault adaption. They should have used "carnival". For me, it's interesting to use carnaval than carnival. It's just different. We don't have to use the same word or sentence to describe something. 

JMC's theme 2009 is The World Unity. It tries to combine all the world aspects such as animal, plants, cultural, social, etc. It divided into 8 groups. Each group contained one sub-theme. Such as in Animal Plant, we can see people dressed like animal creatures. Such as scorpion, butterflies, etc. In floral, we can see people became vegetables like carrot, chili, and other forms. Greens, reds, oranges, and many other colors. So colorful. 

According to local newspaper, Mr. Faryz using the idea of world unity as his concern to many crisis in the world; economic, politic, environment, war, hunger, etc, as well as the rapid increasing of technology. 

The paraded for 3,6 km, from alun-alun to Stadium. Streets as the run away. And, 600 volunteers acted like they are a pro- model.  

Saturday, 1 August 2009

Ketakutan

Saya takut ketinggian. Saya tidak tahu, kapan ketakutan itu mulai bercokol dalam diri saya. Misalnya saja, saya butuh waktu beberapa lama untuk naik ke eskalator. Terutama yang memiliki kecuraman tinggi.

Ketika di Washington DC tahun lalu, saya mengalami satu ketakutan yang sangat hebat dengan eskalator stasiun Metro Dupont Circle. Menggunakan subway merupakan satu alternatif tercepat untuk mencapai tempat kursus di Reagan Building di Pennsylvania Avenue. Tapi, begitu aku sampai pada eskalator masuk stasiun, jantung saya mau copot. Tinggi sekali eskaltornya, dengan kecuraman sekitar 45 derajat. Belum lagi, di stasiunnya semacam masuk ke dalam sebuah terowongan. Hari itu, udara menunjukkan minus 8 derajat Celcius. Jadi, bisa dibayangkan ketika hawa dingin bercampur dengan ketakutan.

Saya takut sekali. Menggigil. Antara dingin dan ketakutan. Ingin saya mencari jalan lain. Belum lagi, suara eskalator yang berdecit-decit. Menunjukkan kalau eskalator itu usianya mungkin lebih tua dari aku. Ada bau sedikit gosong juga dari karetnya. Herannya, bule-bule itu justru berlarian turun dan naik.

Sesampainya di bawah, saya pucat luar biasa. Bahkan, untuk hanya membeli karcis (stippen kaart) saja tidak mampu. Energiku rasanya habis.

Ketika lunch break, saya ditanya Pak Dion.
"Kamu kenapa takut disana tadi? Apa yang membuatmu takut?"
"Tidak tahu Pak. Hanya takut saja."
"Kenapa harus takut, kalaupun kamu jatuh, di bawahmu masih ada orang. Mereka akan menangkapmu. Tidak, kamu tidak akan langsung jatuh ke bawah. Coba bayangkan, kalau kamu di laut. Kamu akan sendirian disana. Kamu harus mempertahankan dirimu sendiri" lanjut Pak Dion yang dulunya seorang pelaut. Dan, benar kata dia. "Besok, kamu bareng sama saya"

Beberapa hari berikutnya, saya ikut dengan Pak Dion. Berusaha untuk mengatasi ketakutan-ketakutan saya. Hari demi hari. Dan, I made it! Dalam dua hari terakhir di DC, saya berhasil melewati eskalator itu tanpa rasa takut sekalipun.

Mates, saya pikir, ketakutan itu wajar ada dalam diri manusia. Karena ketakutan itu pula, manusia dibedakan dirinya dengan makhluk lainnya. Sehingga, manusia berusaha dan belajar untuk mengatasi ketakutan-ketakutannya. Ketika kita masih memiliki ketakutan, kita menjadi orang yang tidak akan pernah maju. Senantiasa terkurung dalam dunia sempit yang bernama ketakutan.

Dan, saya adalah orang yang sedang belajar untuk mengatasi semua ketakutan.