Friday, 31 July 2009

10 April 2006

I noted that day. 10 April 2006. Tika, Bebe, and I, were sitting in FISIP's gazebo, counted the best and the worst time during our colleges years. We spent the whole afternoon there.

We talked about our plans. Tika with her plans, Bebe too, and off course I did. I told them that I'd like to join the Foreign Affairs. I had prepared for the last a year, by taking foreign language, but English. They laughed. "No, darling. You don't want to go there.... You said that you want to join to NGM. Remember that?" Yeah, I did really remember, very clearly. Since then, I decided not to join that department. I don't why, just it does not fit me.

At the end of our conversation, we pledged, "Let's see each other in Prague, five years from now" We did not know, where the idea came from. We just said so.... We held hands. Like, we never be separated as best friends. And, we did not know, why must be Prague. For us, who sometimes, told ourselves being Socialist, Prague is such an icon. It's the place where Kafka was born. It's a place where Velvet Revolution occured. It's a place where all cultures and thought are mixture. It's a place of beauty. With the beauty of Bohemia in our mind. The place for its crystal. Everything was on our mind.

Mates, the three of us, everyday are chasing our dreams. Tika, is dwelling in Jakarta with her love live and her work as journalist. Bebe, is struggling with her humans right ideas in United Nations (UN) while preparing her leaving on September to UK. And me, is living with all these dreams. The dreams that would take me to places I wanna to be. Dreams of back to the world where leaves falling, the wind blows with its breezing joy and with all those happy faces. The world which smells of pulp and paper. Oh, I love that world.

Everyday, we count about meeting in Prague, 10 April 2011.

Thursday, 30 July 2009

Nissa Citta, Temanku

Kemarin sore, menerima SMS dari teman baikku, Nissa Citta. I am sign off from Cikini. Mengartikan, dia tidak lagi tinggal di Cikini. Selama empat tahun belakangan ini, dia memang tinggal di Cikini. Pertama di gang tujuh. Lalu pindah di gang delapan. Kos gang tujuh, aku pernah kesana, tidur di kamarnya yang super sempit, ditemani musik oldies dari anak ibu kos dia yang sangat desperate. Lelaki yang ditinggal minggat istri dan anaknya.

Kos gang delapan, agak lumayan. Punya orang asli Betawi. Halamannya masih sangat luas. Di depan rumah ada pohon mangganya. Dulu, Nissa satu kamar dengan Lusi, fotografer Antara. Teman sejak dari UI Depok. Kos baru ini, lebih dekat dengan TIM.

Karena Nissa tinggal di Cikini, aku semakin sering mampir ke dia kalau pas ke Jakarta. Dekat dengan TIM. Bagiku, TIM adalah sebuah oase di gurun bernama Jakarta. Ketika di TIM, kadang ketemu teman dari Surabaya. Ya para seniman. Ya penulis buku. Ya wartawan. Ya editor buku. Secara kebetulan. Atau barangkali, orang-orang ini sama juga dengan aku, sedang mencari sebuah oase?

Di TIM ini, Nissa mengenalkan aku pada satu-satunya temannya, Mas Min, pemilik warung Nikmat asal Karanganyar. Mas Min dan aku, akhirnya juga berteman. Disana juga, sempat kenalan dengan mahasiswa IKJ yang pernah melakukan affair dengan seorang pembuat movie Tiga Hari untuk Selamanya.

Nissa dan aku, bertemu satu dekade yang lalu. Di Surabaya. FISIP. Retorika. Kami berteman, biasa saja. Sampai akhirnya, dia diterima di UI. Komunikasi. Lalu, dia pindah ke Jakarta Raya. Setelah itu, hubungan kami hanya lewat surat dan kartu pos. Woaaa... sebuah hubungan seperti di masa lalu. Dengan surat, meskipun sudah ada internet. Tapi, menurut kita cara itu lebih mudah dan gampang. Kita bisa menulis kapan saja, tanpa listrik sekalipun. Rekor suratku, 22 halaman!

Ketika dia di UI, aku pernah sekali ke kos dia. Yang di Jalan Margonda. Waktu itu, dia kos di Rumah Makan Ummi. Kos-nya pinggir jalan. Kalau malam, laju truk dan kendaraan besar cukup membuat orang tidak bisa tidur. Dan, ampun ranjangnya mantap, seakan kasur mau meluncur. Kepala sama kaki tinggi kepalanya!

Setelah itu, dia pindah lagi beberapa kali. Sampai akhirnya, di belakang TIM itu. Pindah dari Cikini, bagi dia adalah hal yang sangat memberatkan. Yeah, lingkungna Cikini yang lumayan menyenangkan. Gedung-gedung tua. Coffee Shop. Trotoar yang lumayan lebih lebar. Dekat Gambir. Dan, sebagainya. Aku yakin, dia pasti sangat berat meninggalkan Cikini. Dia juga akan kehilangan TIM, dan orang-orang yang di dalamnya telah dia kenal.

Nissa Citta temanku yang berbakat tapi kadang desperte, akhirnya pindah ke Sumur Batu. Semoga kau memiliki hidup yang lebih baik di Sumur Batu.

Wednesday, 29 July 2009

Gara-Gara Ulat Bulu

Beberapa hari ini, di rumahku banya sekali ulat bulu. Dia ada dimana-mana. Ada di kamar mandi. Ada di kamar mandi rumah sebelah. Ada di dapur rumah sebelah, dan ada di tempat cuci baju. Pokoknya, ada dimana-mana. Tidak hanya kecil. Ada yang besar-besar juga. Beberapa sudah pernah masuk ke dalam bak mandiku. Mau tidak, mau aku mesti kuras. Kalau tidak, ya aku dong kegatelen...

So, darimana semua ulat-ulat bulu itu berasal? Olala..ternyata dari pohon mangga manalagi di belakang rumah. Pohon yang ditanam bapak kos ku 10 tahun yang lalu. Tapi belum pernah sekalipun berbuah. Pucuk-pucuk daunnya meranggas karena dimakan ulat ini. Habis daunnya.

Akhirnya, kemarin minta tolong Pak Rus untuk memotong saja pohonnya. Kita berpikir, masalah ulat bulu akan selesai. Tapi, teryata kita salah. Semalam, ulat-ulat itu, melata di kamar mandiku. Dan, di tembok dekat cucian. Dan, satu di dalam bak mandiku. Oh Tuhan... akhirnya, menguras bak mandi lagi.

Well, ulat bulu. Kau kacaukan hari-hariku....

Karena Hidup Bukan Matematika

Mates, hidup penuh dengan ketidakpastian. Karena memang, hidup bukan Matematika. Yang satu ditambah satu sama dengan dua. Masa depan kita adalah sebuah misteri. Kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi dalam beberapa detik ke depan. Hanya saja, aku percaya, bahwa hidup kita saat ini, dan sebelumnya dipersiapkan untuk "menanti datangnya misteri itu terkuak"

Ketika pada suatu ketika, aku pernah mengungkap pada Bebe kalau aku ketakutan tentang masa depan, dia dengan santai menjawab "Kamu tidak usaha mengkuatirkan masa depan, Emon..." Waktu aku share hal itu ke Tika, dia kurang sepaham dengan Bebe. Akan tetapi, ketika tadi malam aku mulai resah dan gelisah, aku curhat ke Tika via YM tentang perlunya plan B dalam hidupku, Tika bilang, "barangkali Bebe benar. Kita tidak perlu mengkhawatirkan masa depan" Tadi malam, Tika sangat bijaksana sekali. Dia juga bilang begini, "Don't expect too much on the end result.." She was very right.

Aku memang tidak perlu kuatir apapun dengan hidupku. Hidup memang selalu tidak pasti, tapi itulah yang membuat hidup selalu menarik. Dan, memacu adrenalin kita. Aku harus segala siap dengan hidup, seperti apapun rupanya nanti. Tapi, aku harus tetap optimis, aku bisa menjalaninya dengan baik. Dan, yang terpenting, aku harus tetap punya mimpi. Karena, mimpi itulah yang membuat orang sepertiku tetap hidup. Aku tidak punya apa-apa, selain MIMPI.

Saturday, 25 July 2009

Ah, Mbak-Mbak Penjual Parfum itu

Semalam, aku pergi ke Sogo lagi. Mengambil parfum miniatur sama Sofie. Sofie pesan Dior Pure Poison dan Night Poison. Aku pesan Pure Poison dan Fahrenheit 32. Harusnya, parfum ini kita ambil beberapa hari yang lalu. Sayangnya, kita tidak sempat untuk mengambilnya. Baru tadi malam kita sempat.

Waktu kita datang, kita langsung ke Mbak Ana. Kita langsung disapa dengan ramahnya. Layaknya nyonya-nyonya yang memakai tas LV. Hihihi. Dia langsung menunjukkan barang pesanan kami. Empat barang untuk kita. Huuhhh...mencium baunya saja bisa membuat bahagia. Kita langsung tersenyum bahagia. Hmmm....

Ketika kita sedang mengobrol dengan Mbak Ana dan mencoba beberapa produk yang lainnya. Siapa tahu, pas ada bentuk mini-nya, kita pas ada duit. Tiba-tiba saja, beberapa mbak-mbak penjual parfum lainnya datang dan mendekati kami. Menawarkan produk miniatur lainnya. Berhubung sudah tidak ada duit lagi, kami menolak dengan halus. Dia bilang, "Ya, pakai kartu, Mbak..." Sudah aku jelaskan kalau aku bukan penganut paham bayar dengna kartu, dia tidak percaya. Dan, tetap memaksa kami untuk melihat barang-barang koleksi dia. Akhirnya, kita manut saja, menuruti langkah mbak parfum bernama Ida.

Ketika kita mengikuti langkah dia, mbak-mbak lainnya bertubi-tubi menawari kami juga. Mereka dengan spontan meletakkan parfum-parfum mini di atas meja. Ada azzaro, ada Dolce dan Gabbana, ada 212, ada Aigner, ada Hugo, dan banyak lagi. Tidak kurang dari delapan parfum dijajar di depan kami. Sofie dan aku terbelalak. Berhubung nafsuku sedang tidak banyak, aku sama sekal tidak tertarik. Sofie, imannya sepertinya sedikit goyah. Hanya, saja dia harus bayar gaji Ali di showroom. Kalau tidak, setan pasti sudah berhasil menundukkan iman dia, hehehe.

Dalam perjalanan pulang kami berdua kembali terkikik pada ulah mbak-mbak itu. Dalam beberapa hal, kami percaya, bahwa para mbak-mbak itu selalu menilai dari penampilan kami. Ketika kami, lewat di depan mereka, tidak pernah sekalipun mereka menoleh. Kecuali, kita pernah sekali saja membeli produk mereka. Mereka akan terus memburu kita. Seakan-akan kita memang memiliki banyak uang. Beruntung kita pernah membelikan barang Mbak Wiwik kapan hari.

Aku masih ingat dengan sangat jelas, ketika beberapa tahun yang lalu, dengan celana pendek, aku berniat membeli parfum di Galaxy Mall. Mbak-mbak itu bertanya kepadaku, "Emang, Mbak-nya punya budget berapa?" Duuhh.... langsung saja aku tinggalkan orang itu.

Friday, 24 July 2009

Mimpi Semalam

Semalam, saya bermimpi "sedikit" aneh. Saya merasa traveling bersama dengan para teman perempuan saya. Kami berada dalam sebuah bis berwarna biru yang sangat besar. Kami pergi ke sebuah tempat yang sangat indah. Dari mimpi itu, terdengar bahwa tempat itu adalah Wisata Bahari Lamongan (WBL). Tapi, sebenarnya adalah bukan. Sepanjang jalan, adalah batu-batu karang yang sangat besar. Tapi, seperti kebanyakan mimpi, tidak pernah detail dan jelas. Hanya, tempat itu indah sekali....

Kemudian, tiba-tiba mimpi melompat ke tempat yang lain. Saya tiba-tiba ada dalam sebuah ruangan yang sangat bersih. Arsitekturnya bagus. Tapi, sekali lagi, tidak pernah jelas itu arsitektur mana. Hanya saja, di tembok ada tulisan IQRO' dan ALLAH.

Lalu, aku terbangun karena ingin pipis, hehehe.

Thursday, 23 July 2009

Produk Massal

Jujur, hari gini sangat sedikit sekali barang yang diproduksi secara ekslusif. Biasanya, semua diproduksi secara massal. Mulai dari produk-produk fashion baju, sepatu, tas, sampai dengan perlengkapan teknologi seperti HP, laptop, kamera, dan sebagainya. Karena diproduksi massal inilah, baju yang kita kenakan, sepatu yang menghiasi kaki kita, hand phone yang kita pakai berkirim SMS atau laptop tempat aku mengetik ini, memiliki banyak sekali kembaran.

Bermula dari pertemuanku dengan penyewa tenant sebelah di toilet kemarin siang, Mbak Ida. Dia mengenakan kemeja putih. Hmmm... sepertinya, aku mengenalinya. Ya cutting-nya, ya bahannya, ya modelnya. Sepertinya, aku memiliki satu seperti itu.
"Hmm..Mbak, itu kemeja milik Gioxxxxo ya?" tanyaku sambil menyebut satu merk.
"Ah, kok kamu tahu...?"
"Karena aku punya satu" Lalu, kita tertawa. Punya kami hanya beda ukuran saja. Punya dia L dan punyaku M. Pembicaraan berlangsung. Masih mengenai produk massal.
"Aku juga punya celana khakinya looo...." Mataku langsung terbelalak.
"Jangan bilang warnanya krem, dan ada talinya?" Dia langsung tertawa.
"Hahahahaha... kok kamu tahu. Jangan-jangan, kamu juga punya???" Lalu, kita berdua tertawa keras.

Baju yang sama dengan Mbak Ida tidak hanya itu. Kami masih punya satu lagi baju yang sama. Bahkan baju yang ini, terungkap lebih cepat. Dari beberapat bulan yang lalu. Dan, dalam satu hari, kami pernah benar-benar bersamaan memakainya, hehehe. Ngomong-ngomong produk massal, aku juga punya satu jaket yang sama dengan punya Sofie.

Ah ya, memang produk massal. Bukan barang butik.